BerandaNewsTelcoIni Dia Langkah Ideal untuk Cegah Peredaran Kartu SIM Ilegal  

Ini Dia Langkah Ideal untuk Cegah Peredaran Kartu SIM Ilegal  

-

Jakarta, Selular.ID – Kementerian Komunikasi dan Informatika mengatur penjualan Kartu SIM (Subscriber Identity Module) dalam keadaan tidak aktif sebagai upaya mencegah peredaran ilegal atau menggunakan identitas tanpa hak dan tidak benar.

Kominfo pun mengimbau agar operator layanan telekomunikasi seluler dan penjual Kartu SIM (SIM Card) mematuhi Peraturan Menteri Kominfo Nomor 5 Tahun 2021 yang mengatur tentang Penyelenggaraan Telekomunikasi.

Yang menjadi krusial di Indonesia saat ini, pengguna Kartu SIM aktif secara nasional mencapai 345,3 juta melebihi jumlah penduduk yang tercatat 271,3 juta jiwa.

Baca juga: Pendaftaran SIM Card Ilegal Berujung Denda Kepada Operator Selular

Dan ada banyak faktor dari tingginya pertumbuhan pengunaan kartu SIM selular tersebut, dan tentu resiko dibaliknya, yang tak dipungkiri kerap dimanfaatkan juga untuk penipuan, kejahatan dan lain-lain.

Merza Fachys selaku Wakil Ketua Asosiasi Penyelenggaraan Telekomunikasi seluruh Indonesia menilai, tingginya pengguna kartu SIM tak terlepas dari penyelangaraan layanan telekomunikasi miliki operator untuk menjalankan bisnisnya.

 

“Disukai atau tidak, ini merupakan masalah perekonomian. Ini adalah masalah bisnis yang Key Performance Indicator (KPI) yaitu pertumbuhan. Pertumbuhan untuk operator telekomuniasi bentuknya ada pada pertumbhan pelanggan, pendapatan, kemudian tentu saja petumbuhan keuntungan atau laba. Untuk dua hal pertama ini hampir semau operator tidak bisa ‘tidak’ perlu memiliki terget pertumbuan pelanggan, agar bisnis berjalan sehat dan sustainable,” ujar Merza, dalam webinar bertajuk ‘Ayo Dukung Peredaran Kartu Perdana dalam Keadaan Tidak Aktif’ beberapa waktu lalu.

Baca juga: Vietnam Denda Operator Karena Daftarkan SIM Card Ilegal

Terlebih operator telekomunikasi di Indonesia telah mengalami perubahan pola usaha bisnis yang luar biasa, dari bisnis telepon (suara) bergeser ke pendapatan data selular. Sehingga mengapa pertumbuhan pelanggan menjadi target terpenting, “karena dengan tumbuhnya pelanggan, ujugnya diharapkan dapat meningkatkan pendapatan. Dahulu setiap pelanggan yang melakukan panggulan telepon setiap menit itu merupakan pendapatan tambahan untuk operator, sedangkan data yang modelnya paket jika misal pelanggan berlangan paket data satu bulan Rp50 ribu maka itu lah pendapat operator. Dan pelanggan kini jarang melakukan komunikasi suara melalui telepon biasa,” sambungnya.

Dan kecenderunganya cerita Merza, yang juga menjabat sebagai President Director Smartfren itu. Tidak semua pelanggan mau meningkatkan akses data dari Rp50 Ribu perbulan, mejadi Rp75 Ribu dan naik menjadi Rp100 ribu. Sehingga menumbuhkan pelanggan melalui meningkatkan layanan, kualitas data kemudian dibandrol dengan harga yang ‘bagus’ menjadi tidak terelakan, dengan garis besar aturan main yang berlaku.

PR peralihan SIM Card

Dan tak dipungkiri untuk memutus peredaran kartu SIM cukup semerawut, Indonesia saat ini tercatat memiliki 7 operator seluler, dan negeri ini menganut asas keterbukaan yang dimana masyarakat bisa memiliki kartu SIM mana pun, dan berlangganan di operator apapun dan mulai kapanpun.

Pembatasnya hanya ada pada tiap operator yang memiliki customer database masing-masing yang tidak terhubung, sehingga nomor selular tidak bisa dipindahkan entah itu dari operator A ke B, tanpa pintu regristasi ulang. Yang jika dikaji, Merza menilai sebenarnya pola tersebut bisa menjadi solusi untuk meredam peredaran jumlah kartu SIM selular yang ada saat ini.

Baca juga: Begini Cara Menikmati Layanan 5G Indosat Ooredoo  

“Ini tinggal masalah regulasi, tata kelola industi telekomunikasi bagaimana peralihan SIM card A ke B tanpa pintu regristasi, ini memang perlu kita bahas bersama dengan kominfo mengkaji peralihan SIM card ini. Dan ini akan melibatkan banyak pihak tentunya untuk mengatur bagaimana database nasional berjalan kedepan,” ungkap Mirza.

Review Oppo A3s, Oppo A3s. Review Oppo A3s Indonesia. review handpohne oppo a3s

Sementara itu I Ketut Prihadi, Pakar Hukum Telekomunikasi menilai tingginya peredaran SIM Card oleh konusmen juga didorong dari penawaran yang menjajakan paket data murah.

“Konsumen ketika mendapati paket murah langsung beralih ke operator A ke B, dan jika ada tawaran menarik lainya langsung beralih ke operator C dan seterusnya. Dan mengapa konsumen itu tidak tetap/setia menggunakan operator A, dan bergeser ke B? lalu bagaiamna jika dibuat harganya sama saja, agar konsumen salah satu operator tidak mudah berpindah, dan diakuisisi oprator lain,” jelas Ketut.

Baca juga: Smartfren Hadirkan Paket Gokil Max Terbaru, Kuota Lebih Besar!    

Dan tentu hal ini juga dapat menjadi solusi, yang dimana dalam Peraturan Menteri Kominfo Nomor 5 Tahun 2021 Pasal 153 ayat (5) disebutkan penyelenggara jasa telekomunikasi wajib mengedarkan Kartu Perdana dalam keadaan tidak aktif untuk semua layanan Jasa Telekomunikasi.

Selanjutnya dalam ayat (6) peredaran dalam kondisi tidak aktif wajib dilaksanakan juga oleh setiap orang yang menjual kartu perdana, yaitu distributor, agen, outlet, pelapak, dan/atau orang perorangan.

Dalam peraturan yang sama, terdapat prinsip Mengenal Pelanggan (Know Your Customer/KYC) yang diterapkan untuk mengetahui identitas pelanggan adalah benar dan digunakan oleh orang yang berhak.

Artikel Terbaru