BerandaNewsBSSN Ingatkan Bahaya Serangan Siber yang Merasuk Ruang Sosial  

BSSN Ingatkan Bahaya Serangan Siber yang Merasuk Ruang Sosial  

-

Jakarta, Selular.ID – Ancanam ruang siber bergerak begitu massif, dan berbagai pihak harus saling bekerja sama guna menghadapi ancaman daring tersebut.

Kepala Badan Siber dan Sandi Negera (BSSN) Kepala Hinsa Siburian menjelaskan ancaman di ruang siber kini dikenal memiliki dua sifat, yakni secara teknis dan sosial. “Nah, Indonesia harus waspada dengan ancaman sosial di ruang siber, karena menargetkan langsung ke lapisan masyarakat, dengan tujuan mempengaruhi cara berfikir, menyingung sistem kepercayaan, merubah tingkah laku, opini dan lain sebagainya. Ancanam sosial di ranah daring itu bisa kita lihat dari kasus  bagaimana isu pemilu bisa dipengaruhi dari ruang siber sehingga bisa mempengaruhi pemilih dengan sedemikian rupa,” kata Hinsa, dalam acara webinar bertajuk ‘Security Insights in the Data Analytics Era’ yang digelar oleh Swiss German University (SGU), Kamis, (22/7).

Baca juga: Hambat Pembahasan RUU PDP, Sebenarnya Seberapa ‘Penting’ Polemik Badan Keamanan data Pribadi?

Sehingga hal ini menjadi krusial dimana, karena menurut Hinsa jika bentuk serangan siber tidak melulu berlangsung secara teknis, seperti Distributed Denial of Service (DDoS), phising, malware dan sebagainya, namun sudah menyentuh kedaulatan bangsa melalui misi ancaman siber berbalut sosial.

“Perhatian kita adalah informasi yang sudah mengarah pada keutuhan kedaulatan kita, Kenapa? Karena banyak informasi hoax bersifat kriminal yang bisa ditangani oleh pihak kepolisian, namun jika kita amati berpotensi memecah belah kedaulatan kita. Perlu kita sadari sekarang itu perang informasi sudah sama seperti perang konvensional lainya, namun alat utamanya bukan senjata melainkan informasi yang sengaja direkayasa, dikemas sedemikian rupa untuk kemudian disampaikan untuk tujuan memecah belah pusat kekuatan negara dalam konteks Indonesia maka Pancasila,” terang Hinsa.

Baca juga: Pembahasan RUU PDP Mandek!

Perang informasi ini kini umum berjalan, dan menjadi fenomena perang konvensional, yang dimana selalu di dahulukan oleh perang informasi.“Jangan sampai kita sampai ke wilayah tersebut, indikasi Indonesia untuk ke arah sana tentu ada. Dua ancaman tersebut bisa kita lihat dari gerakan separatisme Papua, Tindakan terorisme yang ingin menganti Pancasila yang merupakan pusat kekuatan kita,” ungkap Hinsa.

Yang masyarkat perlu sadari kini, beragam teknik yang digunakan dalam perang informasi antara lain membuat dan menyebarkan bukti-bukti palsu melalui media sosial guna menyebabkan keresahan sosial di masyarakat, mengeksploitasi isu-isu yang sensitif bagi kelompok masyarakat tertentu, dan membanjiri ruang informasi dengan informasi yang saling bertentangan sedemikian rupa sehingga publik tidak mampu lagi menilai kredibilitas informasi suatu fenomena.

Artikel Terbaru