Market Update

Ericsson Prediksi Krisis Pasokan Chip Akan Berlangsung Lama

Jakarta, Selular.ID – CEO Ericsson Borje Ekholm memperkirakan kekurangan chip global akan berlanjut hingga 2022, meningkatkan kemungkinan vendor akan terpengaruh setelah sejauh ini berupaya keras mengelola persoalan tersebut dan mengurangi dampaknya.

Pada acara Ericsson UnBoxed perusahaan, Ekholm mencatat bahwa kekurangan tersebut berdampak terbatas sejauh ini, dengan harapan akan terus menghindari dampak yang signifikan dalam waktu dekat.

Ekholm mencatat Ericsson mulai mendiversifikasi basis pemasoknya hampir tiga tahun lalu, membantunya mengatasi kekurangan saat ini dan membiarkannya diposisikan untuk “dapat terus memasok pelanggan kami seperti yang kami miliki di masa lalu”.

Tapi, dia mengakui semakin lama kekurangan itu berlanjut, “semakin besar risikonya bagi kita”. Mengingat “waktu tunggu untuk meningkatkan kapasitas masih lama”, Ekholm memperkirakan kekurangan tersebut akan bertahan lama. Dia menambahkan bahwa permintaan global untuk chipset semakin meningkat karena upaya digitalisasi, membuat kapasitas menjadi lebih kritis.

Baca juga :  Tablet Apple dan Xiaomi Diluncurkan Berbarengan, Bagaimana Prediksi Penjualannya

Operator AS yang lebih kecil baru-baru ini mengatakan kepada Komisi Komunikasi Federal bahwa mereka membutuhkan lebih banyak waktu untuk mengganti peralatan Huawei karena kesengsaraan pasar chip.

Tak dapat dipungkiri kekurangan chipset global sejauh ini telah berdampak pada semua industri. Pandemi Covid-19 memang menjadi salah satu pemicu berkurangnya produksi. Meski demikian, Sanksi Pemerintah Amerika Serikat (AS) terhadap perusahaan teknologi China semakin memperburuk krisis.

Alhasil, kekurangan pasaokan yang awalnya hanya terjadi di industri otomotif, kini menyebar ke berbagai elektronik konsumen lain, seperti smartphone, komputer, home appliances, hingga konsol game.

Produsen yang membutuhkan chipset dalam memproduksi barangnya pun melakukan aksi beli panik (panic buying), demi mengamankan pasokan. Pasokan semikonduktor semakin tipis. Kekurangan pasokan mengakibatkan biaya produksi seluruh komponen meningkat. Bahkan, komponen berbiaya termurah sekalipun. Akibatnya, harga produk akhir semikonduktor terkerek naik.

Baca juga :  Kehadiran Sub Brand Tidak Jadi Kanibal Perusahaan Induk

Meski dunia dihantui krisis pasokan chips, namun kinerja Ericsson tetap terjaga dengan baik. Pada kuartal pertama 2021, penjualan bersih vendor jaringan asal Swedia itu mencapai 49,778 miliar kronor Swedia (sekitar 5,897 miliar dolar AS). Naik sebesar 10% dibanding periode yang sama tahun lalu.

Laba sebelum bunga dan pajak tidak termasuk biaya restrukturisasi mencapai SEK 5,3 miliar naik 10,7%, dari SEK 4,6 miliar pada Q1 tahun 2020. Secara keseluruhan, laba bersih mencapai SEK 3,2 miliar naik dari 2,3 miliar pada kuartal yang sama tahun lalu.

About the author

Uday Rayana

Editor in Chief