spot_img
BerandaNewsFeatureMengulik Kinerja Telkomsel di Tangan Setyanto Hantoro

Mengulik Kinerja Telkomsel di Tangan Setyanto Hantoro

-

Jakarta, Selular.ID – Mei 2021 menjadi penanda lebih dari setahun Setyanto Hantoro menggawangi Telkomsel. Seperti diketahui, dalam RUPSLB yang digelar pada 13 Januari 2020, Setyanto resmi didapuk sebagai Direktur Utama Telkomsel, menggantikan Emma Sri Martini yang mengemban tugas baru sebagai Direktur Keuangan Pertamina.

Membesut Telkomsel, operator terbesar di Indonesia, jelas menjadi kebanggaan tersendiri bagi pria yang sebelumnya menjabat sebagai Dirut Telkom Metra itu. Meski demikian, suksesi ini memberikan tantangan yang tak ringan, mengingat landscape industri telah berbeda dibandingkan beberapa dekade sebelumnya.

Selain kompetisi yang terbilang sangat ketat, sepanjang satu dekade terakhir, seiring dengan menderunya revolusi digital, gelombang disrupsi terus menyapu perusahaan-perusahaan yang tak siap dengan perubahan. Banyak yang bangkrut, meski pun mereka adalah para raksasa yang sudah puluhan tahun menguasai pasar.

Sebut saja Kodak, Disc Tarra, Payless Gymboree, Blockbuster, Tribune, The Independent, dan yang terbaru, Toys’R’Us. Mereka tak mampu menangkap sinyal perubahan yang didorong oleh kemajuan teknologi. Akhirnya hanya menjadi catatan sejarah.

Di Indonesia sendiri, disrupsi teknologi terutama didorong oleh pemanfaatan 4G LTE oleh operator selular, memberi tekanan bagi pertumbuhan perusahaan. Hadirnya beragam layanan yang ditawarkan OTT global, seperti Instagram, WhatsApp, dan Facebook membuat pelanggan memiliki alternatif, baik layanan suara, teks maupun video.

Bahkan, layanan itu kini sudah sangat populer sehingga menggerus pendapatan operator. Alhasil, operator yang sebelumnya berjaya dengan mengandalkan basic service sebagai cash cow, harus menemukan model bisnis baru.

Hal ini jelas menimbulkan kecemasan, termasuk ancaman kebangkrutan. Sejumlah operator telekomunikasi bahkan sudah lempar handuk, karena kalah bersaing. Tengok saja setelah Axis (Saudi Telecom), dan Esia (Bakrie Telecom), anak perusahaan Lippo, Bolt (Internux) pun akhirnya tumbang.

Demi merespon landscape industri yang telah berubah dengan cepat itu, mau tak mau Setyanto terus berusaha memperkuat tranformasi digital yang selama ini telah dijalankan perusahaan.  Dengan bertransformasi menjadi perusahaan telekomunikasi digital, Telkomsel kini fokus pada tiga pilar utama, yakni digital connectivity, digital platform, dan digital services.

Walau dihadapkan pada kompetisi yang terbilang keras, namun Setyanto diuntungkan dengan peralihan pola komunikasi masyarakat. Bagaimana pun pandemi covid-19 telah mendorong transformasi digital di masyarakat dan dunia usaha menjadi beberapa tahun lebih cepat. Sehingga hal ini menjadi ruang akselerasi bagi Telkomsel, khususnya dalam penyediaan layanan internet berkualitas, baik di rumah maupun perkantoran.

Hingga akhir 2020, Telkomsel membangun 27,7 ribu BTS 4G LTE baru. Saat ini Telkomsel telah memiliki total BTS lebih dari 231 ribu unit dengan 78% di antaranya adalah BTS 3G/4G.

Semakin meningkatnya pengguna data, sebagai imbas dari pembangunan jaringan 4G/3G yang telah menjangkau 97% populasi, menunjukkan bahwa Telkomsel memiliki modal yang sangat kuat untuk tetap leading di era digital.

Jaringan yang kuat dan menyebar di seluruh penjuru negeri, juga memberikan kesempatan bagi pengguna untuk mencoba berbagai layanan Telkomsel, terutama digital business yang kelak akan menjadi mesin pertumbuhan utama baru bagi perusahaan, menggantikan voice dan SMS yang terus menurun kontribusinya.

Meningkatnya pendapatan dari digital business telah tercermin pada kinerja Telkomsel sepanjang 2020. Berdasarkan laporan keuangan yang dipublikasikan induk usaha PT Telkom (25/4), Telkomsel mencatat kenaikan trafik data yang cukup besar hingga 43,8% dibanding 2019, menjadi 9.428 petabyte. Lonjakan itu sejalan dengan semakin besarnya kebutuhan layanan data, khususnya dikarenakan perubahan gaya hidup masyarakat akibat pandemi covid-19.

Dengan total pelanggan mencapai 169,5 juta, jumlah pengguna mobile data Telkomsel mencapai 115,9 juta pelanggan atau meningkat 5,2% dibanding tahun lalu. Sepanjang 2020, pendapatan digital business Telkomsel tumbuh sebesar 7,0% menjadi Rp 62,33.

Alhasil, kontribusi pendapatan dari digital business meningkat menjadi 71,6% dari total pendapatan Telkomsel, dari 63,9% pada tahun sebelumnya. Hal itu menunjukkan telah terjadi pergeseran signifikan, dari bisnis legacy ke layanan digital business.

Laba tahun berjalan dari operasi yang masih berlanjut mencapai Rp 25,06 triliun. Meski begitu, laba sepanjang 2020 itu, sedikit turun dibandingkan dengan perolehan tahun sebelumnya Rp 25,79 triliun.

Sedangkan pendapatan perusahaan menyusut menjadi Rp 87,1 triliun sepanjang 2020 dibandingkan tahun sebelumnya Rp 91 triliun. Begitu pun beban operasi perusahaan yang ikut turun menjadi Rp 55,9 triliun menjadi Rp 56 triliun.

Meski kinerja sedikit menurun, terutama dari sisi pendapatan dan laba bersih, namun di tangan Setyanto Hantoro, sejatinya Telkomsel telah mengatasi tantangan tersebut dengan konsisten memperluas ekosistem digital dan menciptakan inisiatif strategis yang diyakini akan mendukung peningkatan layanan dan solusi digital di masa depan. Tentunya hal ini menjadi modal berharga bagi Telkomsel kembali tumbuh positif (rebound) di industri selular nasional.

Apalagi Telkomsel juga sudah memenangkan seleksi lelang pita frekuensi radio 2,3 Ghz yang diumumkan Kementerian Kominfo pada Senin (3/5/2021). Pita frekuensi sepanjang dua blok (20 MHz) yang dimenangkan Telkomsel itu, selain dapat meningkatkan kapasitas dan kualitas layanan jaringan bergerak selular, juga kelak bisa dimanfaatkan dalam pengembangan jaringan 5G.

spot_img
spot_img

Artikel Terbaru