spot_img
BerandaNewsSecurityPemahaman Akan Keamanan Data Pribadi Masih Menjadi Tantangan  

Pemahaman Akan Keamanan Data Pribadi Masih Menjadi Tantangan  

-

Jakarta, Selular.ID – Secara global, perusahaan security McAfee melihat semakin banyak orang yang sadar akan pentingnya keamanan data. Bahkan berdasarkan studi global EY Global Consumer Privacy Study 2020, menemukan bahwa kasus-kasus pelanggaran data yang terjadi dan juga didorong pandemi Covid-19 membuat publik semakin memahami akan pentingnya kerahasiaan data mereka.

Hanya saja menurut Shashwat Khandelwal, Head of Southeast Asia Consumer Business kepada Selular, dibalik tingginya tingkat kesadaran akan pentingnya data pribadi, hingga kini masih ada saja yang belum mengetahui dan menghargai nilai dari data pribadi. “Survei terbaru McAfee menemukan bahwa 1 dari 3 netizen Indonesia (35%) tidak pernah tahu mengenai nilai dari data pribadi mereka di ranah online. Tren ini juga terjadi di seluruh dunia sebenarnya, terutama negara-negara seperti Singapura, Amerika Serikat dan Inggris di mana hampir setengah dari responden mengaku bahwa mereka tidak tahu seberapa bernilainya data mereka,” jelasnya, Sabtu (27/2).

Baca juga: Komisi 1 DPR: Perkuat Marwah UU PDP, Perlu Hadirkan Pengawas Independen

Di pasar situs gelap atau dark web, identitas pribadi yang dicuri dapat dijual dengan harga tinggi, membuat pengguna terekspos ke banyak bahaya dan ancaman, seperti pencurian identitas, kerugian finansial, dan lain sebagainya.

“Oleh karena itu, sangat penting bagi pengguna untuk mengetahui seperti apa bernilainya data pribadi mereka, dan apa saja tindakan yang bisa diambil untuk melindungi diri mereka,” sambungnya.

Merujuk pada hasil laporan McAfee di Indonesia, responden berumur 55 tahun-74 tahun, di mana sekitar 59% dari kelompok tersebut tidak tahu nilai dari data mereka, dan yang menarik 25% lainnya yang berumur 18-34 tahun juga mengungkapkan hal serupa.

Shashwat menjelaskan, untuk faktor generasi muda alasan tidak paham akan pentingnya data pribadi mereka itu karena anak muda Indonesia tumbuh di era digital dan menguasai berbagai produk online dengan mudah.

Sebagai digital natives yang sangat paham dengan teknologi, banyak anak muda yang sudah terbiasa memberikan ijin kepada platform online untuk mengakses data pribadi mereka, mulai dari kanal media sosial sampai dengan situs e-commerce dan layanan perbankan digital.

Baca juga: Ciptakan Efek Jera, SWI Himbau Korban Untuk Memproses Hukum Tiktok Cash 

“Bagi mereka, meninggalkan jejak data pribadi mungkin terasa sebagai bagian yang wajar dari gaya hidup serba digital ini. Atau bahkan pertukaran yang adil, sebagai imbalan atas kenyamanan dan manfaat yang didapat dari layanan online tersebut. Dengan demikian, generasi muda juga cenderung lebih nyaman memberikan informasi pribadi, mengabaikan pentingnya data tersebut,” paparnya.

Yang perlu dilakukan oleh netizen Indonesia, kini harus mulai memikirkan untuk menggunakan layanan keamanan yang menyeluruh untuk memastikan bahwa perangkat digital dan akun online mereka terlindungi.

Ini penting dilakukan pasalnya serangan siber tidak mengenal waktu, dan teknik penipuan cenderung semakin canggih. Dengan menggunakan bantuan perangkat lunak untuk keamanan digital, pengguna internet dapat menjaga diri berkat adanya jaringan pengaman tambahan.

Baca juga :  DPR RI Himbau Pemerintah Cepat Lakukan Proses Mitigasi Ketika Terjadi Kebocoran Data

Sebagai contoh, pengguna dapat menghindari situs web yang berbahaya dengan mengaktifkan fungsi alat penjelajahan internet (Safe Browsing Tool) dalam perangkat lunak yang digunakan, untuk membantu pengguna menghindari situs palsu yang khusus dirancang memang untuk mencuri data pribadi mereka.

Baca juga: Pengamat: Memutus Pola Kejahatan Daring Tiktok CS Melalui Edukasi    

“Saya tidak pernah berhenti menekankan pentingnya menjaga kemutakhiran perangkat lunak yang ada di perangkat digital Anda. Prinsip ini berlaku di semua perangkat dan platform digital yang terhubung ke jaringan internet, seperti sistem operasi seluler, browser Internet, atau aplikasi konferensi video,” ungkapnya.

Baca juga :  Agar Keuangan Aman dari Serangan Siber, Ikuti 5 Langkah Penting Berikut Ini

Pembaruan perangkat lunak seringkali menyertakan fitur-fitur penting untuk meminimalisir risiko kejahatan siber. Jika kerentanan tersebut tidak diperbaiki tepat waktu, peretas dapat memanfaatkannya dan membuat konsumen berisiko terkena serangan siber, serta pembobolan data.      Kemudian yang tidak kalah penting gunakan juga kata kunci yang unik untuk setiap platform yang digunakan, supaya akun yang terserang tidak menimbulkan serangan ke akun lainnya. “Tentu saja banyaknya kata kunci bisa membingungkan, oleh karena itu disarankan untuk menggunakan pengelola kata kunci (password manager), yang bisa menciptakan kata kunci aman secara otomatis, menyimpan kredensial, dan memasukkan kata kunci secara otomatis ketika Anda membutuhkannya,” tuturnya.

Perlu Anda ketahui selama periode kuartal ke-2 tahun 2020, McAfee menemukan adanya rata-rata 419 ancaman per menit di seluruh dunia. Bahkan dengan frekuensi serangan siber yang meningkat pesat, penjahat siber juga menemukan berbagai cara baru yang lebih canggih untuk menipu konsumen.

Baca juga: RUU PDP Idealnya Dibarengi Oleh Bangkitnya Industri Digital Lokal

Shashwat melalui laporan McAfee melihat lonjakan serangan phishing yang menargetkan jaringan rumah tahun lalu, dengan rata-rata 400 tautan phishing per rumah dari bulan Maret hingga November 2020 akan terus berlangsung hingga 2021 apalagi dengan adanya fenomena Work From Home (WFH) yang membuat netizen Indonesia menggunakan perangkat digital pintar.

Lebih dari dua pertiga (69%) responden Indonesia mengatakan bahwa mereka telah membeli setidaknya satu perangkat digital yang terhubung (connected device) di tahun 2020. Perangkat-perangkat tersebut mungkin memiliki tingkat keamanan yang rendah dan menjadi target mudah bagi pelaku kejahatan.

“lalu penipuan pembayaran seluler juga diperkirakan akan meningkat tahun ini, terlebih karena penggunaan pembayaran seluler yang kian berkembang akibat pandemi. Kami memprediksikan adanya peningkatan penjahat siber yang mengeksploitasi dan menipu netizen Indonesia melalui pesan singkat (SMS) dan email. Lalu kode QR juga menjadi cara yang berbahaya bagi penjahat siber untuk menipu netizen Indonesia. Kode QR sekarang memiliki peran yang besar dalam era pandemi, seperti menawarkan pembayaran yang higienis dan aman, serta mengakses menu atau layanan dengan mudah,” tandasnya.

spot_img

Artikel Terbaru