Beranda News Security Penjahat Siber Intai Platform Pembelajaran Jarak Jauh    

Penjahat Siber Intai Platform Pembelajaran Jarak Jauh    

-

Jakarta, Selular.ID – Pembelajaran jarak jauh dikabarkan menjadi sasaran empuk para pelaku kejahatan siber. Setidaknya hal itu yang diungkap melalui laporan Kaspersky Security Network (KSN) baru-baru ini.

KSN menyebutkan, kondisi baru yang mengharuskan tenaga pendidik mengelar pembelajaran secara daring ini turut mendorong lonjakan tajam dalam jumlah pengguna di Asia Tenggara terhadap adopsi platform e-learning, yang nyatanya menurut laporan KSN terjadi ancaman yang menyamar sebagai platform tersebut dan konferensi video seperti Zoom, edX, Coursera, Google Meet, Google Classroom, dan Blackboard selama tiga kuartal pertama tahun 2020.

baca juga: UKM Kesulitan Hadapi Serangan Siber    

“Peningkatan serangan naik ke empat digit dalam jumlah pengguna yang kami amankan dari berbagai ancaman online. Hal ini membuktikan bahwa pelaku kejahatan siber sangat menyadari betul akan celah baru yang dapat mereka manfaatkan untuk membidik sektor pendidikan yang sudah memikul beban cukup berat sebelumnya. Transisi online yang dipaksakan ini, nyatanya rentan menjadi rekayasa sosial yang sebenarnya ini merupakan metode lama serangan namun efektif dilakukan, seperti phishing dan scam,” kata Yeo Siang Tiong, General Manager Kaspersky untuk Asia Tenggara dalam keterangannya, Kamis (3/12).

Secara global, jumlah total serangan DDoS meningkat 80% pada kuartal pertama 2020 jika dibandingkan dengan periode yang sama di tahun 2019. Tak sampai disitu, serangan terhadap sumber daya pendidikan (educational resources) juga menjadi penyumbang cukup besar terhadap peningkatan serangan siber dalam penelitian ini.

Baca juga: RUU PDP Dikebut, Tapi Ruang Pendidikan Berbasis Kurikulum Siber Belum Menjadi Prioritas?

Di tengah Januari dan Juni 2020, jumlah serangan distributed denial-of-service (DDoS) yang memengaruhi sumber daya pendidikan meningkat setidaknya 350% jika dibandingkan dengan bulan yang sama pada 2019.

Dalam serangan yang mencegah akses seorang pengguna terhadap sistem atau jaringan ini, pelaku kejahatan siber akan berusaha membanjiri server jaringan dengan permintaan layanan sehingga server terhenti dan menolak akses pengguna.

Serangan DDoS termasuk sangat merusak, karena dapat berlangsung selama beberapa hari hingga beberapa minggu, sehingga menyebabkan gangguan pada operasi organisasi. Dalam kasus sumber daya pendidikan, serangan ini akan selalu menolak akses siswa dan staf menuju materi pembelajaran penting yang akan dilakukan.

Artikel Terbaru