Beranda Kaleidoskop Catatan Akhir 2020: Pemerintah Gandeng Operator Internet Gratis, Solusi PJJ Terjawab?

Catatan Akhir 2020: Pemerintah Gandeng Operator Internet Gratis, Solusi PJJ Terjawab?

-

Jakarta, Selular.ID – Dalam upaya mengendalikan penyebaran pandemi Covid-19, pada pertengahan Maret 2020, pemerintah memutuskan untuk menghentikan sementara kegiatan belajar di sekolah.

Disebut-sebut, sekolah dianggap sebagai salah satu media yang berpotensi memperluas penyebaran Covid-19 karena adanya interaksi secara langsung antara murid, guru, dan orang tua dengan jarak yang dekat.

Pada awalnya, kebijakan penutupan sekolah ini akan diberlakukan selama dua minggu. Namun, angka penularan pandemi di berbagai daerah yang terusmeningkat memaksa sekolah untuk menerapkan kegiatan belajar dari rumah, atau pembelajaran jarak jauh (PJJ).

Namun persolan tidak selesai sampai di situ, karena PJJ, siswa dan guru harus saling terhubung, dan mengandalkan layanan data. Tentunya para orang tua, juga guru harus menyiapkan budget untuk kebutuhan PJJ. Tentu situasi yang sangat sulit, di tengah krisis akibat pandemi, tetapi mereka harus mengeluarkan dana untuk untuk aktivitas PJJ.

Program Pemerintah
Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Nadiem Makarim, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, mengakui besarnya tantangan pembelajaran daring dalam darurat Covid-19. Dalam situasi yang tidak mudah ini, tidak semua pembelajaran daring yang dilakukan sekolah akan optimal.

“Memang tidak semua daerah punya akses smartphone ataupun koneksi internet yang baik. Jadi ini merupakan suatu hal yang menantang. Tetapi kami berkomitmen untuk terus meningkatkan kerja sama ke depan memastikan sekolah bisa menyelenggarakan pembelajaran daring,” ungkap Nadiem.

Ucapan Nadiem pun dipertegas dengan mengandeng operator, Kemendikbud meresmikan kebijakan bantuan kuota data internet tahun 2020. Kebijakan ini diharapkan dapat membantu akses informasi bagi guru, siswa, mahasiswa dan dosen, dalam menjalani PJJ selama masa pandemi. Nadiem mengatakan keterbatasan ketersediaan paket data internet bagi pendidik dan peserta didik selama ini menjadi salah satu kendala yang dihadapi selama PJJ.

Solusinya, Kemendikbud beserta pemangku kepentingan lainnya memberikan subsidi kuota internet untuk siswa, guru, mahasiswa, dan dosen selama empat bulan senilai Rp 7,2 triliun.

“Seluruh penerima manfaat yakni peserta siswa, guru, mahasiswa, dan dosen akan mendapatkan kuota internet sesuai yang diperlukan selama empat bulan ke depan,” tutur Nadiem, dalam blog resmi Kemendikbud.

Bantuan kuota data internet yang diberikan pemerintah terdiri dari dua jenis, yakni kuota umum dan kuota belajar. Kuota umum berarti yang dapat digunakan untuk mengakses seluruh laman dan aplikasi, sedangkan kuota belajar berarti yang hanya dapat digunakan untuk mengakses laman dan aplikasi pembelajaran dengan daftar yang tercantum pada http://kuota-belajar.kemdikbud.go.id/.

Alokasi kuota yang diberikan yakni untuk peserta didik Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sebanyak 20 GB/bulan. Peserta didik jenjang pendidikan dasar dan menengah 35 GB/bulan, pendidik pada Paud dan jenjang pendidikan dasar dan menengah 42 GB/bulan, serta untuk mahasiswa dan dosen 50 GB/bulan.

Seluruhnya mendapatkan kuota umum sebesar 5 GB/bulan, sisanya adalah untuk kuota belajar. Mendikbud mengatakan kuota internet akan dibagikan merata kepada seluruh pendidik dan peserta didik yang telah terdaftar.

Pembagian Kuota
Untuk bulan pertama, tahap pertama bantuan kuota diberikan pada 22-24 September 2020, disusul tahap kedua pada 28-30 September 2020. Kuota berlaku 30 hari terhitung sejak diterima oleh nomor ponsel.

Untuk bulan kedua, bantuan kuota diberikan pada 22-24 Oktober 2020 untuk tahap I, 28-30 Oktober 2020 untuk tahap II yang berlaku selama 30 hari terhitung sejak diterima nomor ponsel.

Sedangkan untuk bulan ketiga dan keempat, tahap I diberikan pada 22-24 November dan tahap II pada 28-30 November 2020 yang berlaku selama 75 hari sejak diterima nomor ponsel pendidik dan peserta didik.

Penerima Kuota
Untuk mengetahui sejauh mana bantuan kuota itu sampai kependidik dan pelajar, saat yang sama, Nadiem berdialog bersama para penerima bantuan kuota data internet. Salah satu siswa menyampaikan bahwa ia sangat mengetahui berapa kuota yang habis jika digunakan untuk PJJ. Dia mencontohkan satu video conference bisa menghabiskan hampir 1 GB.

“Dengan bantuan 50 GB dari Kemdikbud dan operator salah satunya Tri memberikan 30+6 GB. Apalagi saya mahasiswa informatika, jadi overall sangat membantu. Saya di perbatasan, ada yang belum mendapatkan infrastruktur sinyal, apalagi di dekat perbatasan Malaysia sangat sulit mendapatkan sinyal, harus di satu tempat. Tapi secara keseluruhan, sangat membantu, apalagi saya mahasiswa yang tugasnya sangat banyak,”jelasnya.

Danny Buldansyah, Wakil Presiden Direktur Hutchison 3 Indonesia menuturkan, Tri hadir untuk memberikan bantuan kepada seluruh civitas akademika di Indonesia untuk bisa tetap melaksanakan kegiatan belajar mengajar di tengah pandemi.

Untuk mendapatkan kuota gratis ini, mahasiswa hanya perlu mendaftarkan kartu Tri yang dimilikinya ke perguruan tinggi. Setelah itu perguruan tinggi akan mendaftarkan nomor tersebut ke Dikti/Pusdatin untuk kemudian pusdatin akan merekap semua data.

Tidak hanya itu, masing-masing mahasiswa juga berpeluang mendapatkan bonus kuota 36GB dari Tri, dengan 10 GB bisa digunakan untuk aplikasi apapun dan 26GB khusus untuk aplikasi edukasi yang akan diberikan setelah mahasiswa/dosen menerima notifikasi SMS dari pihak Tri.

Bayu Hanantasena, Chief Business Officer Indosat Ooredoo menuturkan, sejak September 2020, besaran bantuan kuota data internet yang didapatkan oleh pengguna IM3 Ooredoo bervariasi sesuai dengan jenjang pendidikan.

Untuk Paud menurut Bayu, akan mendapatkan total kuota 20GB, yang terdiri dari kuota 5GB akses ke semua, dan kuota belajar 15GB yang bisa digunakan untuk mengakses aplikasi dan situs belajar daring. Untuk Pelajar, memperoleh total kuota 35GB, 5GB, akses ke semua dan 30GB kuota belajar. Sementara untuk Guru total kuota yang diberikan adalah 42GB, 5GB akses ke semua dan kuota belajar 37GB, serta total kuota 50GB untuk Mahasiswa dan dosen yang terdiri dari 5GB akses ke semua dan kuota belajar 45GB.

Kuota belajar yang diperoleh dapat digunakan mengakses aplikasi belajar online seperti Ruangguru, Zenius, Quipper, Rumah Belajar, Google Classroom, dan lainnya serta ke lebih dari 300 portal universitas di Indonesia yang bisa digunakan selama 24 jam. Tak jauh berbeda, Telkomsel dan XL Axiata juga melakukan hal yang sama.

Survei Kebutuhan Penggunaan Data Untuk PJJ
Sementara Nizam, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) dalam acara Virtual bersama salah satu operator menjelaskan, kehadiran teknologi menjadi kebutuhan pokok sehari-hari, meskipun banyak yang mengalami kendala dalam pembiayaan.

Biaya dalam pemanfaatan teknologi ini menjadi concern. Tidak dapat dipungkiri bahwa pada masa pandemi ini beban pulsa mendadak berlari seperti kereta cepat, maka kerja sama dengan penyedia jasa telekomunikasi sangat dibutuhkan demi kelancaran proses pembelajaran jarak jauh.

Baca Juga:Melihat Peran Operator Dalam Memfasilitasi PJJ

Nizam juga mengungkapkan bahwa hal ini dilakukan demi memenuhi kebutuhan proses pembelajaran dosen dan mahasiswa. Ia menginginkan seluruh insan perguruan tinggi bisa mendapatkan layanan semurah mungkin dengan jangkauan seluas mungkin.

Pihaknya sudah melakukan survei, bahwa rata-rata kebutuhan penggunaan data untuk pembelajaran jarak jauh adalah 50GB per-bulan, sementara daya beli masyarakat untuk kuota di bawah Rp100.000, maka dari itu perlu disediakan layanan internet seramah mungkin sesuai dengan kantong mahasiswa juga pengajar.

Artikel Terbaru