Tuesday, July 14, 2020
       
Home News Feature Jurus Telkom Tetap Tumbuh di Tengah Wabah Corona

Jurus Telkom Tetap Tumbuh di Tengah Wabah Corona

-

Jakarta, Selular.ID – Pandemi corona yang datang bak petir di siang bolong, membuat dunia usaha di Tanah Air terguncang. Aktifitas berbagai sektor baik manufaktur, perdagangan, transportasi, dan akomodasi seperti restoran dan perhotelan menjadi sangat rentan.

Imbas dari pelemahan ekonomi, terjadi gangguan aktifitas bisnis yang menurunkan kinerja, pemutusan hubungan kerja, bahkan ancaman kebangkrutan.

Di sisi lain, memburuknya aktifitas ekonomi dan dunia usaha juga akan merembet ke sektor keuangan. Perbankan dan perusahaan pembiayaan berpotensi mengalami persoalan likuiditas dan insolvency.

Berbeda dengan krisis ekonomi 2008, melemahnya kondisi ekonomi akibat virus corona, tak hanya berdampak pada pihak swasta, namun juga BUMN yang selama ini menjadi motor penggerak pembangunan. Itu sebabnya, Eric Thohir memilih pasrah.

“Sebelumnya kami sangat optimistis untuk menjanjikan dividen yang terus meningkat bahkan dua kali. Tapi, dengan kondisi saat ini sejujurnya untuk dividen tahun 2020 pun kemungkinan meleset,” ujar Menteri BUMN itu dalam rapat virtual bersama Komisi VI DPR, Jumat (3/4/ 2020) seperti dilaporkan laman Tempo.

Sekedar diketahui pada Februari lalu, sebelum wabah corona menerjang Indonesia, Erick optimistis setoran dividen perusahaan pelat merah bakal terus meningkat. Kala itu, ia menargetkan kenaikan laba BUMN menjadi Rp 300 triliun hingga 2024, dari semula Rp 180 triliun pada 2018.

Dengan kondisi saat ini, Erick mengatakan target setoran dividen 2020 tak bakal tercapai, begitu pula dengan tahun 2021. Ia memprediksi kinerja perseroan baru akan stabil pada 2022.

Lebih jauh, Erick memaparkan di tengah pandemi virus corona, sejumlah perusahaan BUMN sudah mulai mengalami penurunan kinerja. Dia mencontohkan, di sektor perbankan, terpantau sudah mulai terjadi kenaikan rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL).

Selain itu, perusahaan-perusahaan seperti PLN dan Pertamina memiliki eksposur valuta asing yang cukup besar. Menurutnya, hal ini akan menyebabkan arus kas kedua BUMN itu terganggu.

“PLN ada obligasi Rp 350 triliun, sebagian besarnya dalam dolar. Pertamina impornya dalam dolar, sementara jual dalam rupiah,” ujar Erick, seperti dilansir dari Kontan (3/4).

Erick juga menyebutkan penyebaran pandemi Covid-19 juta kian berdampak terhadap sektor pariwisata. BUMN di sektor bandara, pelabuhan, kapal feri, dan penerbangan akan terkena dampak yang cukup besar.

Garuda Indonesia menjadi salah satu perusahaan BUMN yang mendapat sorotan paling besar di tengah kondisi saat ini. Erick mengatakan perseroan memiliki utang obligasi dalam dolar yang akan jatuh tempo dalam waktu dekat, sementara perseroan menghadapi kondisi bisnis berat di tengah terpukulnya industri penerbangan.

Untuk menghadapi masa sulit itu, Garuda bahkan harus menerima dana talangan dari Kemenkeu sebesar sebesar Rp8,5 triliun. Ini adalah bagian dari alokasi anggaran dari pemerintah kepada lima BUMN sebesar Rp19,65 triliun untuk dana talangan. Dana itu digunakan antara lain untuk modal kerja dan mendukung rencana efisiensi Garuda Indonesia.

Perusahaan BUMN lainnya, yakni Perum Bulog juga akan terdampak pada tahun ini. Hal ini disebabkan oleh tekanan utang jangka pendek karena keterbatasan kas dan penumpukan persediaan.

Begitu pun dengan nasib BUMN karya yang juga tak kebal dari virus corona. Risiko bertambah besar karena BUMN di sektor infrastruktur ini, banyak mengandalkan pembiayaan dari bank pelat merah bahkan luar negeri. Tengok saja utang yang harus ditanggung Waskita Karya (WK). Pada 2014 utang WK adalah Rp Rp9,7 triliun, namun pada akhir Juni 2019 melesat hingga Rp103,7 triliun atau naik 970% dalam 6 tahun.

Secara keseluruhan, Bank Indonesia (BI) mencatat Utang Luar Negeri (ULN) sektor swasta per akhir Agustus sebesar US$197,21 miliar atau sekira Rp2.794,15 triliun. Dari jumlah tersebut, US$51,07 miliar atau Rp723,11 triliun adalah utang BUMN.

Kinerja Telkom

Tentu tak semua kinerja BUMN compang-camping. Salah satu BUMN yang punya rapor yang tetap bagus di masa sulit ini adalah PT Telkom. Perusahaan telekomunikasi terbesar di Indonesia itu baru saja mengumumkan pencapaian mereka di sepanjang 2019.

Tercatat, Telkom berhasil membukukan pendapatan konsolidasi sebesar Rp135,57 trilliun. Tumbuh positif sebesar Rp4,78 triliun (3,7%) dibanding 2018.

Laba sebelum Bunga, Pajak, Depresiasi, dan Amortisasi (EBITDA) sebesar Rp64,83 triliun dengan Laba Bersih sebesar Rp18,66 triliun, atau masing-masing tumbuh 9,5% dan 3,5%. Dua sektor Digital Business, Telkomsel dan IndiHome tumbuh signifikan dan menjadi kontributor utama pertumbuhan perseroan.

Meski pendapatan utama masih bersumber pada Telkomsel, namun Telkom mulai mengakselerasi platform digital dengan cara mengembangkan layanan data center dan cloud, mengarah pada smart platform sebagai enabler berbagai layanan dan solusi ICT.

Hal itu sejalan dengan permintaan Erick Thohir yang menginginkan Telkom agar tidak terlalu bergantung pada Telkomsel. Erick secara terbuka menginginkan Telkom lebih agresif dalam menawarkan layanan non konvensional, seperti komputasi awan.

Ririek Adriansyah, Dirut Telkom, menegaskan bahwa pembangunan data center ini dilakukan untuk mempercepat transformasi perusahaan. Tahun ini, Telkom berencana menambah lagi satu data center yang berlokasi di Jakarta Timur.

Namun, tak hanya sampai di situ, data center juga akan dibangun di daerah-daerah lain di luar Jakarta.

Apalagi, lanjut Ririek, Telkom memiliki keunggulan dengan 180 juta pelanggan selular dan 7 juta lebih pelanggan home broadband.

“Digitaliasasi ini bisa digunakan untuk layanan perbankan, misalnya untuk credit scoring. Akan membantu perbankan memberikan layanan personal loan,” ujar mantan Direktur Utama Telkomsel ini.

Menurut Ririek, pengembangan bisnis data center dan cloud ini juga akan menjadi jawaban atas tantangan disrupsi teknologi yang terjadi selama ini. Disrupsi tersebut, marak terjadi karena banyaknya layanan sejenis dari pemain-pemain OTT (over the top). Puncaknya terjadi pada 2018 yang menyebabkan industri pertumbuhan selular anjlok sebesar -7,3%.

Penyebabnya karena adanya peralihan layanan SMS, telepon, dan suara selular ke aplikasi seperti WhatsApp. Selain itu, adanya kebijakan registrasi kartu selular dan perang harga khususnya layanan data, turut menekan industri telekomunikasi.

Melalui anak perusahaan Telkom Sigma, Telkom saat ini memiliki tiga data center utama berlokasi di Serpong, Surabaya dan Sentul. Telkom Sigma juga mengelola 14 data center NeuCentrix yang tersebar di berbagai lokasi di Indonesia.

Dengan kinerja sepanjang 2019 yang tetap terjaga meski industri telekomunikasi terdisrupsi oleh layanan-layanan baru, Telkom berpeluang untuk mempertahankan posisi sebagai BUMN dengan setoran deviden terbesar ke negara.

Seperti diketahui pada 2018, Telkom menjadi penyumbang deviden terbesar dengan setoran mencapai Rp16,23 triliun. Jumlah tersebut setara dengan 90 persen laba perusahaan pada tahun tersebut.

Kemudian disusul oleh BRI sebesar Rp16,17 triliun atau 50 persen dari laba bersih tahun lalu dan Bank Mandiri Rp11,25 triliun atau 45 persen laba tahun lalu. Sementara Pertamina yang biasanya menjadi penyumbang dividen terbesar, tahun itu hanya membagikan Rp8,4 triliun. Di posisi kelima, ditempat PT Bukit Asam dengan setoran Rp3,76 triliun.

Tahun ini dampak virus corona dapat dipastikan membuat kinerja BUMN di bawah standar. Secara terbuka, Erick Thohir menyampaikan, mayoritas perusahaan negara terkena dampak dari pandemi itu.

“Sebanyak 90% BUMN terkena Covid-19, hanya 10% yang bertahan,” ujar Menteri Erick dalam konferensi video di Jakarta, Selasa (26/5).

Menurutnya, hanya perusahaan sektor telekomunikasi, farmasi, dan perkebunan yang berhubungan dengan makanan yang tidak terdampak.

Meski dinilai cukup kebal dari dampak virus corona, Telkom menilai sepanjang 2020 akan ada tekanan dalam pendapatan, sehingga pendapatan tahun ini tidak akan setinggi capaian sebelumnya.

Dalam rapat dengar pendapat (RDP) virtual bersama Komisi VI DPR, Ririek Adriansyah memperkirakan pendapatan mereka lebih rendah.

“Mengacu pada analis, sejalan dengan apa yang diperkirakan, pendapatan akan melemah 3% hingga 4% di bawah proyeksi semula. Mandiri Sekuritas bahkan memprediksi pendapatan sektor telekomunikasi hanya tumbuh 0,7% secara tahunan di 2020,” ujar Ririek kepada anggota Komisi VI, Selasa (5/5).

Ririek menjelaskan, melemahnya pendapatan tersebut disebabkan dari penurunan daya beli dan beralihnya prioritas pembelian di saat pandemi Covid-19. Beberapa jenis pendapatan Telkom yang mengalami penurunan tersebut seperti pendapatan selular untuk voice dan SMS, pendapatan telepon, pendapatan international roaming, dan pendapatan IT Services.

Dengan perkiraan penurunan pendapatan tersebut, pihaknya akan melakukan berbagai efisiensi. Khususnya, di sisi beban dengan melakukan pemangkasan pengeluaran. Selain itu, perusahaan juga akan memaksimalkan potensi peluang bisnis seperti peningkatan layanan broadband, komunikasi, dan kolaborasi.

Untuk memaksimalkan pendapatan jangka panjang, Ririek mengatakan Telkom akan mendiversifikasi produk serta mengintensifkan kerja sama di bidang digital.

Latest