Saturday, March 28, 2020
Home News Feature Menunggu Realisasi Microsoft Membangun Pusat Data di Indonesia

Menunggu Realisasi Microsoft Membangun Pusat Data di Indonesia

-

Jakarta, Selular.ID – Microsoft Corp tertarik untuk berinvestasi di pusat data di Indonesia. Pemerintah akan segera membuat perubahan peraturan untuk memfasilitasi langkah ini. Demikian diungkapkan langsung oleh Presiden Jokowi setelah bertemu dengan CEO Microsoft Satya Nadella, pada Kamis (27/2/2020) di Jakarta.

“Microsoft ingin segera berinvestasi di Indonesia,” kata Presiden Joko Widodo kepada wartawan setelah memberikan pidato di sebuah acara merayakan 25 tahun kehadiran perusahaan di ekonomi terbesar di Asia Tenggara itu.

“Jadi dalam waktu satu minggu kami akan memutuskan peraturan baru yang sederhana untuk mendukung investasi,” kata Widodo, tanpa menjelaskan tentang kemungkinan peraturan itu atau ukuran potensi investasi.

Ekonomi digital Indonesia adalah yang terbesar dan paling cepat berkembang di Asia Tenggara dan diperkirakan akan mencapai sekitar $ 130 miliar pada 2025 dibandingkan dengan $ 40 miliar pada tahun lalu. Demikian laporan yang disusun Google, bersama Temasek Holdings and Bain & Company.

Pemerintah diketahui telah mengajukan RUU ke parlemen pada Januari yang bertujuan melindungi data konsumen di era digital, tetapi itu belum disetujui.

Meski Jokowi sudah mengungkapkan rencana strategis itu, namun sejauh ini, Microsoft belum menanggapi pernyataan Presiden.

Rencana Microsoft untuk membangun pusat data di Indonesia, sebenarnya telah santer terdengar sejak tahun lalu.

Hal itu diungkapkan oleh Menko Maritim dan Investasi Luhut Panjaitan. Menurut Luhut, raksasa perangkat lunak itu, dikabarkan akan menanamkan dana investasi sebesar USD 1 miliar atau setara Rp13,6 triliun (asumsi Rp13.675 per USD). Meski begitu, hingga setahun berselang, investasi Microsoft belum bisa dipastikan kapan akan dimulai. 

Upaya Indonesia untuk meminta Microsoft segera membangun pusat data, sesungguhnya tidak semudah membalik telapak.

Meski Indonesia berpotensi menjadi salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi digital terbesar, namun sebagai perusahaan teknologi, Microsoft punya hitungan-hitungan tersendiri.

Seperti halnya Amazon, Google, IBM, Facebook dan perusahaan raksasa lainnya, terdapat banyak faktor yang menjadi perhatian Microsoft dalam membangun data center di suatu negara. Alih-alih Indonesia, Singapura masih menjadi pilihan utama di kawasan Asia Tenggara.

Mengutip laporan South China Morning Post (SCMP), terdapat dua alasan utama mengapa Microsoft membangun data center di negara kota itu.

Pertama, dalam percaturan infrastruktur internet, Singapura merupakan“hub” atau area tempat bertemunya perusahaan internet dengan para penggunanya di Asia Tenggara. Di sanalah pusat kabel internet bawah laut berada, menghubungkan kawasan Asia Tenggara dengan dunia.

Kedua, dibandingkan negara lain di Asia Tenggara, Singapura memiliki undang-undang perlindungan data dan kekayaan intelektual yang kuat. Hal itu sangat berguna selepas Eropa meloloskan General Data Protection Regulation (GDPR).

Selain itu, masih menurut laporan SCMP, negara Asia Tenggara lain punya aturan yang dianggap tidak biasa. Mereka mewajibkan data warga disimpan di server yang berada di negaranya, tetapi membatasi transfer data lintas-negara.

Bagi Microsoft dan perusahaan internet umumnya, ini menyulitkan. Di dunia internet, batasan seperti batas teritorial negara hampir tak terlihat.

Dengan dua kelebihan yang dimiliki itu, pada akhirnya Singapura menjadi sasaran investasi Microsoft. Tengok saja pada 2016, Microsoft membangun Transparency and Cyber Security Center untuk Asia Pasifik di negeri kota itu.

Fasilitas gabungan ini untuk pertama kalinya menyatukan kemampuan Microsoft di satu lokasi di Asia Pasifik agar dapat menghasilkan pendekatan holistik yang mampu melayani kebutuhan keamanan dari sektor publik maupun swasta.

Sekaligus membangun sebuah kondisi komputasi yang aman dan terpercaya – salah satu faktor penting dalam transformasi digital.

Masifnya pertumbuhan ekonomi digital memang telah menjadikan Singapura terdepan dalam pembangunan pusat data.

Selain Microsoft, tercatat Google, Amazon, IBM, Alibaba, dan Tencent, juga sudah memiliki pusat data di Singapura.

Pada Agustus 2018, Google menyatakan membangun pusat data di Singapura setelah melakukannya pada 2011 dan 2015. Proses pembangunan pusat data itu ditaksir menelan biaya hingga $850 juta.

Langkah Google diikuti Facebook sebulan berselang. Raksasa media sosial tersebut mengumumkan membangun pusat data di wilayah Tanjong Kling, Singapura, dengan luas 170 ribu meter persegi.

Pusat data yang akan dikerjakan oleh Fortis Construction itu diperkirakan menelan biaya lebih dari $1 miliar dan direncanakan mulai beroperasi pada 2022 mendatang.

Menurut laporan The Strait Times, Singapura merupakan rumah terbesar keempat dalam hal populasi pusat data di Asia Pasifik. Untuk ukuran Asia Tenggara, negeri yang hanya seluas 60 km2 seperti Jakarta ini, berada di puncak.

Selain Singapura, kota-kota lain di dunia yang menjadi sasaran pembangunan data center perusahaan-perusahaan raksasa adalah Seatle, Portland, Iowa, Dallas, Houston, Silicon Valley – California (AS), Toronto dan Quebec (Kanada), Sao Paulo (Brazil), Frankfurt (Jerman), London (Inggris), Dublin (Irlandia), Pune, Chennai dan Mumbai (India), Hong Kong, Tokyo (Jepang), Sydney dan Melbourne (Australia).

Latest