Wednesday, January 22, 2020
Home News Feature Menanti Perubahan Peta Pasar di Segmen Premium

Menanti Perubahan Peta Pasar di Segmen Premium

-

Jakarta, Selular,ID – Meningkatnya daya beli sebagian konsumen Indonesia, membuat segmen premium kini menjadi incaran vendor-vendor smartphone. Saat ini dua brand China, Huawei dan Oppo, terus berusaha memperbesar pangsa pasar.

Langkah yang sama juga akan dilakukan Realme. Vendor yang tengah hits di Indonesia itu, bersiap untuk meluncurkan varian tertinggi, Realme X2 Pro pada 2020.

Merek China lain, Vivo diperkirakan juga akan memasuki gelanggang yang sama pada 2020. Sebelumnya Vivo sudah mendebutkan V15 Pro, smartphone rasa premium yang dibandrol dibawah Rp 6 juta.

Agresifitas vendor-vendor China dipastikan akan membuat tensi persaingan akan meningkat. Seperti halnya segmen menengah yang sudah dikuasai, mereka ingin menyudahi dominasi Apple dan Samsung di segmen premium pada 2020.

Selain berpotensi mengubah peta pasar, peneterasi smartphone premium asal China, dipastikan akan mendorong pertumbuhan dalam kategori ini menjadi yang tercepat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Menurut Counterpoint Technology Market Research, smartphone premium – dengan harga lebih dari Rp 9 juta – diperkirakan akan tumbuh sebesar 48% pada 2020.

“Segmen premium di Indonesia masih dalam tahap awal, memberikan kontribusi hanya 6% ke pasar berdasarkan volume. Ini masih rendah jika dibandingkan dengan pasar seperti AS dan Cina, di mana segmen premium masing-masing menyumbang 50% dan 22%, ” kata Tarun Pathak, Associate Director di Counterpoint Research.

Dengan Oppo, Vivo dan Realme memasuki segmen premium, konsumen ditetapkan memiliki banyak pilihan, yang akan membantu memperluas pasar dengan kecepatan lebih cepat dari sebelumnya, kata para analis.

Pengiriman perangkat premium diperkirakan akan tumbuh sebesar 33% sepanjang 2019. Sementara penjualan smartphone secara keseluruhan diperkirakan akan menunjukkan pertumbuhan yang signifikan, melebihi pencapaian 2018 yang menyentuh 38 juta unit.

Sejak bertahun-tahun, pasar smartphone premium di Indonesia, didominasi oleh Samsung dan Apple. Namun sejak 2016, Huawei sudah bergerilya dengan meluncurkan seri P dan Mate.

Langkah Huawei kemudian disusul oleh Oppo. Vendor yang kini menjadi penguasa ponsel di Indonesia itu, meluncurkan Reno Series. Sebelumnya, Oppo menjajaki pasar premium dengan dua varian, yakni Find X dan R17 Pro.

Kendati mulai diusik brand-brand China, Samsung mengklaim menguasai 68% pasar smartphone premium di Indonesia selama 2018.

Hal itu diungkapkan Bernard Ang, IT & Mobile Business Vice President PT SEIN, di sela-sela acara peluncuran Samsung Galaxy S10 Series di Indonesia, di Jakarta, Rabu (6/3/2019).

Bernard mengatakan, pasar smartphone Indonesia tumbuh 27% per tahun sejak 2009 sampai 2018.

“Jauh melebihi pasar, Samsung tumbuh 69% per tahun di Indonesia,” kata Bernard.

Jika Samsung sejauh ini masih menjadi jawara smartphone premium di Indonesia, namun untuk pasar global, Apple belum tergoyahkan.

Berdasarkan data Counterpoint Research, Apple menguasai 51% pangsa pasar smartphone premium di dunia.

Posisi kedua ditempati oleh Samsung, dengan 22% pangsa pasar ponsel premium di 2018. Pencapaian ini juga turun dibanding 2017 yang sebesar 23%.

Posisi ketiga diisi oleh Huawei yang pasarnya mencapai 10%. Pangsa pasar Huawei ini naik dibanding 2017 yang hanya 8%. Sedangkan OPPO menduduki posisi keempat dengan 6%. Disusul oleh OnePlus yang pangsa pasarnya 2%.

Diketahui, penjualan smartphone premium seharga lebih dari US$ 400 atau sekitar Rp 5,6 juta tumbuh 14% secara tahunan (year on year/yoy) pada 2018.

Padahal penjualan smartphone global turun tiga persen. Karena itu, segmen premium sangat potensial untuk digarap.

Apalagi segmen premium menjanjikan keuntungan yang lebih baik. Tengok saja pencapaian Apple. Meski penjualannya menurun, namun keuntungan justru meningkat.

Counterpoint merilis data tentang keuntungan yang dihasilkan industri smartphone sepanjang kuartal III (Q3) 2017.

Hasilnya, Apple mendominasi margin keuntungan, jauh lebih tinggi dibandingkan para kompetitornya.

Raksasa yang berbasis di Cupertino, California itu, menguasai 59,8% keuntungan di bisnis handset global pada Q3 2017, tapi jumlahnya turun dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pada Q3 2016, Apple menguasai keuntungan sebanyak 85,9%.

Posisi kedua ditempati oleh Samsung sebanyak 25,9%. Kemudian posisi lima besar lain dikuasai oleh vendor asal Tiongkok, yaitu Huawei 4,9%, Oppo 4% dan Vivo 3,1%.

Dominasi Apple masih berlanjut dalam hal keuntungan yang didapat dari penjualan per unit produknya. Apple mendapatkan keuntungan lebih dari US$ 150 per iPhone yang dijual.

Riset Counterpoint mencatat keuntungan per unit iPhone hampir lima kali lebih tinggi dibandingkan Samsung. Keuntungan Samsung per unit adalah US$ 31. Para vendor Tiongkok yaitu Huawei mendapatkan keuntungan per unit US$ 51, Oppo US$ 14, Vivo US$ 13 dan Xiaomi US$ 2.

Latest