Wednesday, November 13, 2019
Home News Feature Melongok Kesiapan 5G di Negara-Negara Asia Tenggara (Bagian 1)

Melongok Kesiapan 5G di Negara-Negara Asia Tenggara (Bagian 1)

-

Jakarta, Selular.ID – Setelah China meluncurkan 5G secara komersial pada Oktober tahun ini, Jepang dan Korea Selatan sudah memastikan bahwa mereka akan segera meluncurkan 5G pada 2020.

Meski bukan front runner, negara-negara di kawasan Asia Tenggara juga bersiap meluncurkan teknologi selular generasi kelima itu dalam beberapa tahun ke depan.

Saat ini operator umumnya masih menggenjot 4G demi memaksimalkan pendapatan. Namun sebagai road map, kehadiran 5G sesungguhnya hanya tinggal menunggu waktu, mengingat teknologi ini menawarkan beragam keuntungan bagi operator.

Seperti diketahui, teknologi 5G memiliki berbagai kelebihan dibanding 4G. Antara lain kecepatan hingga 50 kali lebih cepat, 10 kali lebih responsif, dan daya konektivitas yang jauh lebih rendah.

Kajian yang dilakukan oleh GSMA memperkirakan, bahwa jaringan 5G akan menyumbang 15 persen dari koneksi selular global pada 2025.

Sementara kawasan Asia-Pasifik berpotensi menjadi wilayah 5G terbesar di dunia, berkat sokongan negara-negara ASEAN yang terus bertumbuh secara ekonomi, dan lingkungan keamanan yang relatif stabil.

Tak dapat dipungkiri, negara-negara ASEAN, yang secara kolektif membentuk ekonomi terbesar keenam di dunia, selalu menjadi pasar penting bagi pertumbuhan bisnis global.

Dalam sebuah konferensi di awal tahun ini, James Wu, Presiden Huawei Southeast Asia, mengatakan bahwa 5G memberikan peluang tumbuhnya industri di Asia Tenggara senilai US$ 1,2 triliun, dengan jumlah pelanggan 5G kemungkinan akan mencapai 80 juta dalam beberapa tahun ke depan.

Kajian terbaru yang dilakukan Cisco bersama konsultan manajemen A.T. Kearney, menyebutkan bahwa komersialisasi teknologi 5G bisa dipercepat di kawasan ASEAN, seperti penyelenggaraan smart cities, Industri 4.0, penyebaran Internet of Things (IoT), dan lainnya.

Studi bertajuk “5G in ASEAN: Reigniting Growth in Enterprise and Consumer Markets”, menyimpulkan bahwa, dampak terbesar dari implementasi 5G, akan dirasakan sejumlah sektor utama seperti manufaktur dan jasa sebagai kontributor terbesar perekonomian secara keseluruhan.

Besarnya kontribusi dari sektor-sektor itu, akan mendorong adopsi layanan 5G untuk perusahaan, sebagai segmen pasar utama.

Lebih lanjut, kajian itu menyebutkan bahwa pertumbuhan adopsi teknologi 5G diperkirakan akan berasal dari high-value customers dan high-value devices. Seiring dengan semakin terjangkaunya harga perangkat, jumlah pelanggan juga akan meningkat.

Sehingga pada 2025 nanti, penetrasi 5G bisa mencapai 25 hingga 40 persen di sejumlah negara di kawasan ASEAN, dengan kontribusi terbesar berasal dari Indonesia, mencapai 27 persen. Saat itu, jumlah pelanggan diprediksi sudah melewati 200 juta, dan setengahnya berbasis di Indonesia.

Ketersediaan Spektrum

Meski berpeluang menjadi magnet dalam pertumbuhan 5G secara global, sesungguhnya masih banyak PR (pekerjaan rumah) yang harus diselesaikan oleh negara-negara di kawasan ini.

Penulis utama A.T. Laporan Kearney, Nikolai Dobberstein, mengatakan regulator akan memainkan peran sentral dalam pengembangan jaringan selular generasi mendatang.

Dobberstein mengatakan pihak berwenang perlu memastikan ketersediaan spektrum jangka pendek, mendorong berbagi infrastruktur dan memelihara kemampuan keamanan siber nasional.

“Potensi keseluruhan peluncuran 5G di ASEAN sangat besar. Namun, untuk memenuhi potensi penuh, kawasan perlu mengatasi tantangan utama,” tulisnya dalam laporan itu.

Para ahli percaya perbedaan dalam infrastruktur teknologi di antara negara-negara Asia Tenggara akan menghasilkan output yang beragam dalam penyebaran.

Laporan lain oleh Institut Internasional untuk Pengembangan Manajemen, menyoroti kesenjangan antara negara terkecil ASEAN, Singapura, dan negara-negara tetangganya.

Berdasarkan Peringkat Daya Saing Dunia Digital (World Digital Competitiveness Ranking) yang diterbitkan pada September 2019, Singapura berada di urutan kedua di belakang A.S.

Sementara anggota ASEAN lainnya seperti Thailand berada di peringkat ke-40, Filipina ke-55, dan Indonesia ke-56. Peringkat tersebut didasarkan pada faktor-faktor seperti kemampuan ekonomi untuk mengembangkan inovasi digital baru dan kesiapan untuk perkembangan baru.

Menurut Howard Yu, Profesor Manajemen dan Inovasi IMD, adopsi 5G akan banyak bergantung pada konteks negara dalam kesiapan digital.

“Jumlah pilot untuk menemukan skenario kasus penggunaan (use case), dan kemampuan untuk skala teknologi yang muncul seperti itu, membutuhkan suatu negara yang memiliki kesadaran untuk melakukan investasi, dan mengembangkan kerangka teknologi, sesuai dengan kebutuhan”, ujar Howard Yu.

Hal itu mungkin menjadi tantangan utama bagi ASEAN, kata Laporan A.T Kearney. Dikatakan lambatnya ketersediaan spektrum untuk layanan 5G dan peluncuran jaringan yang tidak optimal, akan menjadi tantangan terberat bagi pemerintah di masing-masing negara.

Tetapi bahkan jika dukungan spektrum dan peraturan sudah tersedia, adopsi dan pengiriman kasus penggunaan tetap tidak pasti, tambah laporan itu.

Sejauh ini, A.T Kearney, menyimpulkan bahwa Singapura akan mengungguli negara-negara di kawasan, dengan tingkat penetrasi yang diperkirakan mendekati 60% pada 2025.

Laporan itu mengatakan negara-negara seperti Thailand, Vietnam dan Filipina dapat menemukan diri mereka dalam situasi “kalah-kalah” di mana 5G secara selektif diluncurkan dan perusahaan tidak mau membayar biaya untuk jaringan.

Dalam skenario ini, konsumen dan bisnis akan enggan untuk membayar biaya ekstra karena mereka hanya merasakan manfaat terbatas atas jaringan 3G atau 4G yang ada.

Operator akan merespons dengan berfokus pada pengembalian investasi mereka di jaringan yang ada, membatasi ekspansi infrastruktur 5G.

Alhasil, A.T Kearney memperingatkan bahwa dalam situasi ini, 5G hanya akan menjadi “hanya lapisan teknologi”, ketimbang sebuah terobosan.

4G Jadi Kunci

Sejarah mungkin terulang, kata Su Lian Jye, analis utama di ABI Research. Ia mengatakan, prospek penyebaran 5G di kawasan Asia Tenggara, tak bisa dilepaskan dari 4G. Penyebaran 4G di wilayah tersebut dapat berfungsi sebagai titik referensi untuk bagaimana teknologi 5G kelak dapat berjalan dengan baik.

“Dengan kurangnya aplikasi yang dihadapi perusahaan dan konsumen, operator di Asia Tenggara umumnya akan menunggu kasus penggunaan (use case) yang sudah matang di pasar besar lainnya sebelum membawanya ke pasar lokal,” kata Su, seperti dilansir dari Asian Nikkei Review.

Singapura adalah pasar ASEAN pertama yang meluncurkan jaringan 4G pada 2011, diikuti oleh Filipina pada 2012, Malaysia dan Thailand pada 2013, Kamboja dan Indonesia pada 2014, Myanmar pada 2016 dan Vietnam pada 2017.

Negera kota itu berencana untuk memiliki dan menjalankan 5G pada 2020, sementara Malaysia diperkirakan akan mengumumkan alokasi spektrum untuk penyedia layanan 5G tahun depan.

Operator seluler di Vietnam dan Kamboja bekerja sama dengan penyedia peralatan untuk menggelar infrastruktur yang diperlukan, yang diharapkan dapat menawarkan kecepatan internet hingga 50 kali lebih cepat daripada sistem 4G saat ini.

“Jika sebuah perusahaan telekomunikasi memiliki jaringan 4G yang relatif matang, ini berarti investasi dalam jaringan 4G sudah dapat dipulihkan dan operator mungkin siap untuk peningkatan berikutnya, dibandingkan dengan perusahaan telekomunikasi yang baru-baru ini meluncurkan jaringan 4G-nya,” papar Su.

Di sisi lain, Hitesh Prajapati, country manager Singapura di perusahaan penyedia peralatan asal Amerika Vertiv, mengatakan bahwa siapa yang memenangkan perlombaan 5G dapat bermuara pada geografi sederhana.

Menurutnya, penyebaran menjadi lebih kompleks jika jaringan mobile generasi mendatang dimaksudkan untuk mencakup area yang lebih besar, karena investasi ke setiap BTS harus dipercepat agar hasilnya dapat merata.

Seperti halnya 4G, Prajapati menyebutkan bahwa Singapura secara alami akan memimpin dalam penetrasi 5G karena ukurannya yang kecil.

“Meluncurkannya di Singapura tentu jauh lebih sederhana. Berbeda dengan hanya di Filipina atau Indonesia yang jauh lebih sulit untuk mendapatkan jangkauan jaringan. Jadi, akan butuh banyak waktu lebih lama untuk mendapatkan penetrasi yang Anda inginkan,” pungkasnya.

Latest