Sunday, October 20, 2019
Home News Security Kaspersky: Adopsi Cloud di Indonesia Meninggi

Kaspersky: Adopsi Cloud di Indonesia Meninggi

-

Jakarta, Selular.ID – Seiring menjamurnya UKM, Startup, dan Perusahaan di Indonesia, adopsi cloud tetap berada pada kondisi cukup baik. Banyak bisnis yang mulai menggunakan teknologi tersebut. Temuan ini merupakan bagian dari hasil Laporan Keamanan TI B2B Kaspersky terbaru.

Dengan responden dari 24 negara dan total 134 Perusahaan yang disurvei dari Indonesia, penelitian Kaspersky menemukan sebanyak 19,4% Perusahaan telah mulai menggunakan layanan cloud publik, dan sebanyak 32,1% Perusahaan berencana untuk mengadopsi jenis layanan cloud dalam kurun waktu 12 bulan yang akan datang.

Penelitian lebih lanjut menunjukkan 31,3% Perusahaan dan UKM telah bermigrasi ke cloud untuk menyimpan informasi sensitif para pelanggan mereka.

General Manager for South East Asia di Kaspersky, Yeo Siang Tiong, mengatakan optimisme terhadap teknologi cloud ini membuktikan Indonesia siap merangkul efek positif dari digitalisasi.

“Keuntungan yang ditawarkan teknologi ini bisa beragam, seperti meningkatnya keandalan layanan Perusahaan dan meningkatnya kecepatan dalam memberikan produk dan layanan terbar,” ujar Yeo.

Tetapi, Yeo Siang Tiong menekankan ketika Anda memigrasikan data penting ke dunia virtual, Perusahaan harus memahami bahwa perhatian terhadap pertahanan keamanan siber mereka juga diperlukan.

“Ingatlah bahwa dengan konektivitas yang lebih besar akan muncul risiko dan kerentanan yang lebih besar pula,” terang Yeo.

Laporan Kaspersky mengungkapkan bahwa 9 dari 10 Perusahaan di seluruh dunia telah mengalami pelanggaran data yang memengaruhi infrastruktur cloud publik yang mereka gunakan. Lebih lanjut, Perusahaan mengakui bahwa rekayasa sosial adalah bagian dari serangan tersebut. Rekayasa sosial, termasuk semacam trik dasar untuk mengelabui pikiran manusia dan menargetkan individu dengan tujuan mencuri informasi, atau sejenisnya.

Beberapa jenis data yang termasuk dalam pelanggaran ini adalah informasi yang dapat mengonfirmasi identitas pelanggan, rincian pembayaran, bahkan kredensial otentikasi pengguna. Selain itu, para target serangan juga mengalami kerugian operasional, kerugian finansial, pencemaran reputasi, dan hilangnya loyalitas pelanggan yang sudah diperoleh dengan susah payah.

Studi yang sama menunjukkan bahwa 19,0% insiden di Indonesia yang dihosting oleh pihak ketiga dan memengaruhi infrastruktur adalah disebabkan oleh phishing, kemudian 20,7% disebabkan oleh rekayasa sosial lainnya (seperti: pesan media sosial yang dirancang untuk mengelabui responden), dan 6,9% lainnya disebabkan oleh para penyedia cloud.

Sebagai catatan positif, studi Kaspersky juga menemukan bahwa hampir setengah (47,6%) Perusahaan di Indonesia memiliki inisiatif untuk mengambil tindakan preventif demi menghindari kebocoran data dari penggunaan solusi cloud. Namun, beberapa juga masih merasa kebingungan mengenai cara mengelola keamanannya dengan tepat, terutama karena kekhawatiran akan pelanggaran yang terjadi pada sistem cloud mereka.

Hampir lima dari sepuluh (49,2%) Perusahaan lokal mengklaim mereka memiliki kekhawatiran akan insiden yang dapat mempengaruhi infrastruktur TI mereka dari pihak ketiga, yaitu para penyedia layanan. Lainnya, sebanyak 12,2% Perusahaan masih belum yakin tentang cara melindungi kebocoran data dari solusi cloud yang mereka gunakan.

Territory Channel Manager for Indonesia, Kaspersky South East Asia, Dony Koesmandarin, meyakini Perusahaan dan UKM di Indonesia bisa menemukan pijakan dalam hal meningkatkan keamanan cloud mereka. Sementara beberapa masih tidak tahu harus mulai dari mana.

“Maka dari itu Kaspersky hadir di sini untuk membimbing mereka dalam membangun pertahanan virtual mereka. Solusi dan layanan kami dibuat khusus untuk melindungi Perusahaan dari level terkecil hingga terbesar. Keahlian dan rekam jejak kami dalam memerangi ancaman tentunya akan sangat membantu,” tutup Dony.

Latest