Saturday, November 23, 2019
Home News Feature Melihat Langsung 5G On di China

Melihat Langsung 5G On di China

-

Jakarta, Selular.ID – Atas undangan Huawei Indonesia, saya berkesempatan mengunjungi gelaran MWC (Mobile World Congress) 2019 di Shanghai, China.

Dalam media trip kali ini, saya ditemani oleh Manager Huawei Network Indonesia Panji Pratama. Juga ada rekan jurnalis dari Okezone, Muhamad Lutfi.

Saat tiba di Shenzen, sebelum melanjutkan perjalanan ke Shanghai, kami juga ditemani oleh VP Public Affair & Communication Huawei Indonesia Ken Qi Jian.

Ini adalah kunjungan MWC saya yang kedua, setelah menghadiri MWC Barcelona 2017, saat itu bersama tim Telkomsel.

Sekedar diketahui, MWC yang digagas oleh GSMA (Global System for Mobile Association), adalah event tahunan industri ICT dunia yang berlangsung sejak 1987.

Hingga 2006, Cannes, kota kecil nan eksotis di bagian selatan Prancis, dipilih menjadi tuan rumah. Namun, sejak 2011, MWC dipindahkan ke Fira Gran Via di Barcelona dan terus berlangsung hingga kini. Dengan waktu pelaksanaan tetap sama, yakni pada akhir Februari hingga awal Maret.

Dipilihnya Barcelona membuat kota cantik di tepi pantai Mediterania itu, memperoleh predikat baru, yaitu kota sebagai ibu kota teknologi dunia.

Untuk memperluas cakupan sekaligus meningkatkan reputasi, kini MWC tak hanya dihelat di Eropa. Sejak 2014, Shanghai dipilih menjadi kota kedua dan berlangsung setiap Juni.

Dua tahun berselang, MWC America mulai digelar. Karena merupakan pamungkas, waktu yang dipilih adalah Oktober dengan Los Angeles menjadi tuan rumah.

Kembali ke MWC Shanghai 2019, puluhan ribu peserta memadati gelaran yang berlangsung dari 24 – 28 Juni lalu. Dari sisi jumlah peserta, memang sedikit kalah dibandingkan MWC Barcelona. Namun, MWC Shanghai terasa lebih menarik.

Seperti halnya even serupa di Barcelona, 5G juga menjadi isu sentral dari MWC 2019 Shanghai. Bedanya adalah, 5G kini sudah dalam tahap implementasi, bukan sekedar jargon.

Sebagai negara terdepan, China menjadikan MWC Shanghai sebagai panggung untuk menunjukkan bahwa mereka sudah siap menggelar layanan 5G. Ini menunjukkan negara berpenduduk terbesar di dunia itu, memimpin dalam front runner.

Hal itu mempertegas dominasi China dalam perlombaan 5G, sekaligus memperkuat sinyal bahwa mereka tak mudah ditekan oleh AS.

Seperti diketahui, konflik dagang antara AS dan China hingga saat ini belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Konflik bahkan sempat memanas karena AS membatasi raksasa telekomunikasi Huawei, karena dianggap bagian dari mata-mata China.

Cepatnya China mengoperasikan layanan 5G, tak lepas dari kebijakan yang sudah dikeluarkan. Pada Juni lalu, pemerintah Beijing resmi menerbitkan lisensi 5G untuk tiga operator negara (China Union, China Unicom, China Mobile) bersama dengan perusahaan penyiaran lokal.

Lisensi yang diberikan termasuk penggunaan spektrum. Salah satu spektrum yang dapat digunakan adalah 2,6 Ghz, dengan lebar masing-masing 100 Mhz.

Dengan pemberian lisensi itu, China mulai merealisasikan ambisi yang sudah diusung sejak 2014, yakni komersialisasi 5G secara nasional mulai 1 Oktober 2019.

Untuk mengetahui lebih jauh tentang implementasi 5G di China, saya berkesempatan mendengarkan paparan dari Huidi Li, EVP China Mobile, pada hari pertama digelarnya MWC Shanghai.

Huidi Li menjabarkan terdapat 10 use case yang menjadi model layanan 5G di masa depan. Ke-10 layanan tersebut adalah smart grid, smart healtcare, smart factory, smart campus, smart city, smart agriculture, home entertainment, dan drone.

Beragam use case tersebut sudah bisa dijalankan, sehingga dapat menjadi benchmark bagi negara-negara lain, terutama kelompok front runner.

Huidi juga menjelaskan, sejauh ini China Mobile sudah meluncurkan berbagai inovasi dalam layanan 5G pertama di dunia. Seperti tayangan live dengan 4K yang ditayangkan stasiun CCTV pada China Spring Festival.

China Mobile juga sukses menjadi operator pertama yang membangun smart port dengan teknologi 5G di pelabuhan Ning Bao. Kemudian pembangkit listrik dan gas di China Southern Power Grid, layanan 5G drone, dan remote surgery pertama di Cina.

Kehadiran 5G, membuat China Mobile berada di atas angin dibandingkan dua operator lainnya. Apalagi China Mobile merupakan penguasa pasar, setelah China Union dan China Unicom.
Pada Q2-2017, China Mobile memiliki 973 juta pelanggan, disusul China Unicom 303 juta dan China Telecom 246 juta.

Rivalitas Kota

Karena China Mobile sudah ‘ngebut mengoperasikan layanan 5G, pada akhirnya kota-kota di China juga terlibat dalam perlombaan 5G. Mereka berupaya menjadi kota dengan cakupan atau coverage 5G tercepat.

Dua kota, masing-masing Guangzhou dan Shanghai menjadi yang terdepan dalam layanan 5G. Rivalitas kedua kota itu, seolah mencerminkan pertarungan antara wilayah China selatan dan China utara.

Guangzhou, kota yang terletak di China selatan, berambisi dapat mengalahkan Shanghai di China utara. Ibu kota provinsi Guangdong itu, mengumumkan rencana untuk mempercepat peluncuran 5G di wilayah metropolitan terbesar di negara itu.

Tak tanggung-tanggung, demi mengungguli Shanghai, Guangzhou menargetkan cakupan penuh dengan 65.000 BTS pada 2021.

Menurut laporan harian China Daily, Biro Industri dan Teknologi Informasi Guangzhou mengatakan, pihaknya bertujuan untuk menyebarkan 14.600 BTS 5G pada akhir tahun, dengan 5.000 lokasi sudah beroperasi.

Sementara otoritas Shanghai, kota dengan populasi terbesar kedua di negara itu, menargetkan cakupan 5G, akan menyebar di seluruh pusat kota dan daerah pinggiran utama pada akhir 2019 melalui 10.000 BTS.

Rencana ambisius pemerintah kota untuk memberikan cakupan 5G pada tahun 2020 adalah bagian dari rencana tiga tahun dengan nilai investasi total CNY30 miliar (US$ 4,4 miliar).

Penambahan 10.000 lebih lanjut pada 2020 akan memberi kota berpenduduk 36 juta orang itu, cakupan 5G secara penuh, tambah surat kabar itu.

Lebih lanjut 10.000 BTS akan ditambahkan pada tahun 2021, di mana titik bisnis terkait 5G di kota ini diharapkan akan menghasilkan CNY100 miliar.

Seperti halnya Shanghai, bisnis terkait 5G di Guangzhou diharapkan dapat menghasilkan lebih dari CNY800 miliar pada tahun 2021, tambah surat kabar terkemuka China itu.

Sebelumnya pada Mei 2019, jaringan 5G pertama di Cina diuji coba di Qianhai-Shekou Free Trade Zone di Shenzhen. China Unicom membangun 111 BTS 5G dengan menggandeng FTZ di Shenzhen.

Selanjutnya, kapasitas BTS 5G akan ditingkatkan menjadi 7.000 BTS di Shenzhen sebelum 2020.

Jaringan 5G ditargetkan dapat membantu perusahaan dan masyarakat untuk menikmati dan merasakan teknologi terbaru ini.

Dengan latensi rendah dan kecepatan internet yang jauh melebihi 4G, akan ada peluang yang lebih baik di berbagai bidang, pun demikian dengan startup teknologi hingga perusahaan.

China Unicom sebelumnya juga sudah menguji jaringan 5G di Beijing, Tianjin, Qingdao, Hangzhou, Nanjing, Wuhan, Chengdu, Fuzhou, Zhenzhou, dan Shenyang.

Operator ini juga ingin menghadirkan jaringan 5G di beberapa kota lain dengan membangun 10.000 BTS 5G pada 2020 mendatang.

Investasi 5G memang tidak main-main. Namun dampak yang dihasilkan juga sangat menjanjikan.

Lembaga riset terkemuka Ernst and Young, memperkirakan bahwa tiga operator China akan menghabiskan dana investasi senilai hampir USD5 miliar pada 2019 saja untuk membangun jaringan 5G.

Sedangkan total pengeluaran mereka diprediksi mencapai USD 217 miliar sepanjang 2020 hingga 2025.

Hal ini menjadi dorongan bagi tumbuhnya ekonomi digital di China, baik dalam hal kualitas maupun kuantitas.

Tahun lalu, kontribusi industri digital terhadap perekonomian Cina telah mencapai 27,6% dari total GDP. Kehadiran 5G dipastikan akan mendorong pertumbuhan industri digital di China menjadi berlipat ganda.

Itulah sebabnya, mengapa China menempatkan 5G sebagai skala prioritas. Tak hanya sebagai pilar dalam pengembangan ekonomi digital, 5G juga merupakan representasi penguasaan teknologi yang menempatkan China di atas negara-negara lain.

Latest