Thursday, October 24, 2019
Home News Feature Melongok Fasilitas R&D Huawei Bertema 12 Kota Eropa di Dongguan, China

Melongok Fasilitas R&D Huawei Bertema 12 Kota Eropa di Dongguan, China

Laporan dari Dongguan, Cina

-

Dongguan, Selular.ID – Raksasa telekomunikasi China Huawei pada tahun lalu memperkenalkan kampus baru yang mampu menampung 25.000 pekerja di Dongguan, sebelah utara provinsi Guangdong.

Sekedar diketahui, Huawei menamakan kampus sebagai sebutan, karena fasilitas itu tak hanya berfungsi sebagai kantor, namun juga pabrik, fasilitas R&D, dan tempat tinggal bagi karyawan.

Sehari sebelum mendatangi MWC 2019 Shanghai (24/6/2019), saya berkesempatan mengunjungi kampus yang menjadi ikon baru masyarakat China, ditengah memanasnya perang dagang dengan AS yang membuat posisi Huawei terjepit.

Diperlukan sekitar satu jam perjalanan menuju kampus yang diberi label Ox Horn itu (karena bentuknya seperti tanduk jika dilihat dari ketinggian) dari kantor pusat Huawei di Shenzen. Mirip waktu tempuh Jakarta – Cikarang, jika tidak terjebak macet, tentunya.

Dongguan yang terletak di utara Shenzen, dirancang sebagai kota industri baru, mengingat Shenzen telah berkembang sangat pesat dalam tiga dekade terakhir.

Kondisi itu, tak hanya membuat lahan menjadi terbatas, sehingga mempersulit pembangunan pabrik baru, juga membuat harga tanah dan properti lainnya menjadi mahal.

Alhasil, diperlukan kawasan baru yang mampu menampung ‘ledakan’ selanjutnya dari pertumbuhan ekonomi China yang luar biasa.

Tidak seperti kampus lama di Shenzen, kampus baru yang dikelilingi oleh danau Shongsan ini mengusung konsep yang out box. Tak tanggung-tanggung, semua bangunan berkonsep Eropa.

Total terdapat 12 bangunan yang masing-masing mampu menampung 2.000 pekerja. Kesemuanya merupakan replika dari kota-kota utama Eropa, seperti istana Versailes di Paris (Perancis), Heidelburg, Freiburg dan Frankfurt (Jerman), Oxford (Inggris), Verona (Italia), Granada (Spanyol), Bruges (Belgia).

Ada juga Cesky Krumlov, kota yang terletak di Hungaria. Beserta Liberty Bridge yang sarat dengan sejarah.

Hebatnya gedung-gedung itu bukan hanya sama persis, baik dari sisi desain yang terbilang klasik khas jaman pertengahan, namun juga dalam skala. Sehingga berkunjung ke Ox Horn, seolah-olah kita sedang bersafari di setengah benua Eropa.

Kabarnya, ke 12 bangunan klasik itu dibangun karena keinginan CEO sekaligus pendiri Huawei Ren Zhenfeng. Saat merintis perusahaan itu lebih dari 30 lalu, Reng menyempatkan berkunjung ke kota-kota, untuk mendapatkan inspirasi dan kreatifitas bisnis. Tentunya ingin menularkannya kepada para karyawan Huawei.

Nah, dari ke 12 bangunan tersebut, salah satunya difungsikan sebagai pusat R&D. Bangunan yang dikelilingi oleh danau buatan ini, terinspirasi dari kastil Heidelberg yang terkenal di Jerman.

Memang buat Huawei urusan R&D menjadi prioritas. Sebagai perusahaan teknologi, setiap tahun sekitar 10% pendapatan dialokasikan untuk dana tersebut.

Bahkan untuk mengembangkan teknologi 5G, Huawei dalam 10 tahun terakhir telah mengalokasikan sedikitnya USD 4 miliar. Investasi jumbo itu, membuat Huawei terdepan dengan sekitar 2.570 paten, atau sekitar 20% dari teknologi 5G yang dikembangkan vendor-vendor jaringan.

Saat ini dari 188.000 pekerja yang dimiliki Huawei yang tersebar di seluruh dunia, sebanyak 80 ribu diantaranya bertugas di bidang R&D.

Dengan luas mencapai 9 km persegi, tentu saja untuk mengelilingi kampus ini perlu waktu lama jika harus berjalan kaki, hampir setengah hari.

Tapi jangan khawatir, Huawei menyediakan fasilitas berupa KA mini. Jadi hanya diperlukan sekitar 22 menit untuk melihat keseluruhan kampus dengan kereta bergaya retro dan warna merah mencolok itu.

Saat saya berkunjung ke Ox Horn sebenarnya cuaca sedang tidak bersahabat. Namun hujan gerimis tak membuat semangat menjadi kendor. Meski sepanjang perjalanan harus berpayung ria.

Disela-sela tour of campus itu, VP Public Affair & Communication Huawei Indonesia Ken Qi Jian, menjelaskan bahwa tujuan pembangunan kampus bergaya klasik Eropa itu, salah satunya untuk memberikan inspirasi bagi karyawan Huawei karena Eropa merupakan kiblat kemajuan ekonomi dunia.

“Sehingga diharapkan dapat muncul ide dan beragam kreatifitas yang akan bermanfaat dalam mengembangkan bisnis Huawei, baik untuk saat ini maupun di masa depan”, ujar Ken.

Di sisi lain, Ken menambahkan bahwa tekanan dari pemerintah AS yang memblokade Huawei, tidak berdampak terhadap perusahaan dan segenap karyawan.

“Karyawan tetap bekerja seperti biasa. Tekanan tersebut malah membuat karyawan lebih bersemangat dalam menghasilkan produk dan solusi-solusi bisnis, agar Huawei terus terdepan dalam teknologi ICT dunia”, tandas Ken.

Latest