Monday, December 16, 2019
Home News Telco Operator Selular Khawatir dengan Belanja Modal 5G

Operator Selular Khawatir dengan Belanja Modal 5G

-

Jakarta, Selular.ID – Gelaran Mobile World Congress (MWC) 2019 yang baru saja digelar di Barcelona (25-28/2/2019), mengindikasikan bahwa layanan 5G sebentar lagi akan menyambangi dunia. Tiga operator di Amerika Serikat, diketahui bersaing ketat menjadi yang pertama meluncurkan layanan selular generasi ke lima pada tahun ini.

Eropa diperkirakan menjadi kiblat selanjutnya dari penggelaran teknologi 5G. Operator Jerman Deutche Telecom diprediksi menjadi yang terdepan di benua biru itu.

Di Asia, dua negara ras kuning Korea Selatan dan Jepang, juga  merencanakan peluncuran 5G pada 2019. Langkah yang sama akan diikuti oleh dua negara yang menyandang predikat sebagai pasar smartphone terbesar pertama dan kedua di dunia. China pada 2020 dan India pada 2022.

Kepastian peluncuran 5G pada tahun ini, juga dikonfirmasi langsung oleh Ericsson. Vendor jaringan asal Swedia itu, akan mengaktifkan layanan 5G-nya secara global pada tahun 2019.

Di hadapan media dan analis pada gelaran MWC 2019, Börje Ekholm, Presiden dan CEO Ericsson menyebutkan peran 5G sebagai infrastruktur nasional yang sangat penting. Ia juga menekankan potensi keuntungan bagi para pengguna awal layanan ini.

“Kami benar-benar mengaktifkan 5G di seluruh dunia pada tahun 2019,” tambah Ekholm. 

Ekholm mengatakan bahwa Ericsson telah mengumumkan kesepakatan komersial 5G dengan 10 pelanggan penyedia layanan, serta 42 nota kesepahaman.

Perusahaan yang berbasis di Stockholm itu, bersiap meluncurkan jaringan 5G di seluruh dunia, mencakup Amerika Serikat, Eropa, Asia, dan Australia. Ekholm juga menjanjikan lebih banyak pengumuman yang akan datang.

Meski peluncuran layanan 5G hanya tinggal menunggu waktu, namun sesungguhnya operator terbilang masih gamang, terutama terkait dengan belanja modal (Capex).

Dalam panel diskusi di MWC 2019, tiga CEO operator mengaku khawatir tentang pengeluaran modal yang diperlukan untuk membangun jaringan 5G, mengingat pengembalian investasi yang rendah dari 4G dan tekanan pendapatan akibat regulasi dan ketatnya persaingan.

Selama keynote pembuka (opening speech), Chief Telstra Andrew Penn mengatakan, pengembalian investasi modal untuk operator secara global berada di angka tengah tunggal (mid-single digit), dan itu terus menurun.

Dia mengatakan para operator perlu menangani pertanyaan-pertanyaan berikut: “Bagaimana kita memastikan bahwa kita tidak berada dalam posisi yang sama dalam 10 tahun ke depan? Bagaimana kita memastikan bahwa ketika kita berbicara tentang 6G, kita belum melewatkan kesempatan dengan 5G? “

Seperti halnya Penn, CEO Liberty Global Mike Fries mengakui sebagian besar operator di Eropa “gugup” tentang biaya 5G dan tetap “tidak yakin tentang model bisnis”.

Dia menambahkan: “Anda telah mengalami 10 tahun berturut-turut menurun pendapatan seluler di Eropa dengan masalah terbesar adalah harga. Namun konsumen menginginkan lebih banyak dengan harga lebih murah. ”

Penn menambahkan operator kemungkinan akan perlu memikirkan kembali strategi komersial mereka, termasuk bagaimana mereka mengemas dan menentukan harga produk untuk pelanggan.

“Saya khawatir jika kita tidak melakukan itu, kita akan berakhir dalam situasi di mana kita pada akhirnya hanya menyediakan kereta dan margin dikurangi hingga ke tingkat itu.”

Di luar pasar konsumen yang masih terbilang sumir, Fries dan Penn menunjuk perusahaan dan industri sebagai peluang penting bagi operator untuk menghasilkan pendapatan melalui penyebaran teknologi, termasuk layanan otomatisasi dan robot.

Di sisi lain, Hatem Dowidar, CEO Etisalat International, menjelaskan bahwa pasar yang berbeda memiliki kebutuhan yang berbeda. Ia mencatat operator di banyak pasar negara berkembang baru saja selesai meluncurkan 4G.

Pada titik ini, dia mengatakan fokus operator adalah pada upaya menghasilkan pengembalian dari investasi 4G sebelum melompat ke 5G.

“Kita masih harus sedikit waras tentang menggunakan 4G lebih banyak, mendapatkan lebih banyak darinya, mendapatkan lebih banyak konektivitas ke yang tidak terhubung sambil tetap melakukan penggelaran jaringan 5G.”

Dowidar menambahkan mendapatkan layanan yang tepat untuk populasi yang tepat sangat penting.

“Sangat penting untuk memikirkan apa yang dibutuhkan pelanggan. Itu tidak membantu pelanggan untuk menyediakan teknologi dengan handset hari ini, namun akan membebani pendapatan mereka selama dua tahun”, pungkasnya.

Latest