Friday, September 20, 2019
Home News Market Update Top 5 Vendor Smartphone di Indonesia 2018

Top 5 Vendor Smartphone di Indonesia 2018

-

Jakarta, Selular.ID – Pasar smartphone Indonesia melonjak pada penutupan 2018. Samsung masih menjadi vendor jawara di Q4 dan sepanjang tahun lalu.

Menurut riset Canalys, pengiriman smartphone Indonesia mencapai rekor tertinggi yakni 38 juta pada 2018, naik 17,1% dibandingkan 2017.

Canalys menunjukkan pasar telah melakukan pemulihan total dari titik terendah di 2016 (pertumbuhan tahunan -3,3%) dan 2017 (pertumbuhan tahunan 0,6%), akibat peraturan TKDN.

Pasar tumbuh secara konsisten sepanjang 2018 meskipun momentum melambat menjelang akhir tahun karena pelemahan Rupiah terhadap AS dolar, dan tetap berkinerja jauh lebih baik daripada negara lain di wilayah Asia Pasifik.

Pada Q4 2018, total pengiriman smartphone Indonesia mencapai 9,5 juta unit, tumbuh 8,6% dari periode sama tahun 2017.

“Pasar smartphone Indonesia berada di puncaknya,” kata Manajer Riset Canalys Rushabh Doshi.

Perkembangan pesat di penjualan online memicu pertumbuhan, seiring konsumen sehat yang bergairah untuk upgrade smartphone. Pada saat yang sama, merek-merek baru bergabung ke pasar. Indonesia kembali ke daftar atas pasar smartphone yang terus tumbuh, karena lingkungan relatif stabil (peraturan dan sosial) dibandingkan dengan pasar negara berkembang lainnya.

“Persaingan pasar meningkat secara dramatis. Lima besar vendor sekarang menguasai 80% pangsa pasar dibandingkan 65% setahun yang lalu,” tambah Doshi.

Perekonomian yang digerakkan oleh aplikasi mobile menggarisbawahi semakin pentingnya smartphone.

“Pemain global seperti Huawei dan Apple, menempatkan Indonesia dalam rencana ekspansi jangka panjang. Saat pasar tumbuh, vendor yang lebih kecil dan vendor lokal kemungkinan akan semakin menderita karena kenaikan biaya pemasaran dan R&D sementara perang harga dari pemain global semakin kuat.

Penguasa Pasar

Samsung memperkuat keunggulannya atas pemain Cina dan lokal di Q4, tumbuh 21,5% setiap tahun, dengan lebih dari 2,4 juta unit dikirimkan. Model terpopuler adalah seri J yang diperbarui, J4+ dan J6+.

Namun secara tahunan, pertumbuhan Samsung melambat menjadi 15% YoY di tahun 2018 dibandingkan 20,9% pada 2017 dan 25,8% pada 2016.

Meskipun Samsung masih mempertahankan cengkeraman kuat pada channel offline melalui program kredit, perlawanan dari Xiaomi memaksa Samsung meningkatkan daya saing dari model menengah ke bawah.

Pada 2019, Samsung kemungkinan akan menggunakan seri A dan M untuk mengkonsolidasikan keunggulannya atas Xiaomi.

Xiaomi memegang tempat kedua dengan pengiriman hampir 2 juta unit untuk pertumbuhan 139,4% YoY di Q4, tetapi menurun 3,9% QoQ.

Sepanjang tahun, Xiaomi mengirimkan 8,0 juta unit smartphone dibandingkan 2,0 juta pada 2017.

Kemitraan distribusi eksklusif dengan Erajaya sangat penting untuk ekspansi cepat di negara ini sejak Q4 2017, terutama di ritel offline.

Sementara seri Redmi berkontribusi tiga perempat dari pengiriman Xiaomi, vendor juga menguji pasar dengan meluncurkan smartphone high-end Pocophone F1 seharga Rp4,6 juta di Q3. Tapi itu tidak berdampak pada ASP Xiaomi, karena kurang dari 130.000 unit dikirim pada paruh kedua 2018.

Xiaomi harus membedakan dirinya dari pesaing karena penantang baru terus memasuki pasar.

Oppo berada di bawah tekanan luar biasa dari Xiaomi di Indonesia dan mencatat pertumbuhan triwulanan paling lambat di pasar sejak Q3 2017, hanya 0,8% pada kuartal terakhir 2018.

Sementara Oppo A3s menjadi perangkat miliknya dengan pengiriman terbaik di Indonesia pada Q4. Sisa portofolionya gagal mendorong pertumbuhan vendor di tanah air.

Dinamika kompetisi bergeser ke arah perang harga dan channel online, dan Oppo lambat untuk bereaksi tanpa portofolio low-end yang kompetitif.

Pengenalan Realme by Oppo, dijalankan sebagai entitas terpisah di Indonesia, diterima dengan baik oleh pasar pada kuartal pertama, dengan pengiriman lebih dari 150.000 unit.

Oppo akan menghadapi persaingan lebih keras di 2019 ketika Samsung mengatur ulang strateginya untuk meningkatkan line-up-nya di segmen mid-to-low-end, sementara rekan China Vivo dan Huawei juga terus mengejar ketinggalan.

Latest