Sunday, September 22, 2019
Home News Q4-2018: Laba Operasional Samsung Diprediksi Anjlok 12%

Q4-2018: Laba Operasional Samsung Diprediksi Anjlok 12%

-

Jakarta, Selular.ID – Samsung diperkirakan bakal melaporkan penurunan laba operasi dan pendapatan untuk Q4 2018. Penurunan kinerja tersebut disebabkan oleh berbagai faktor, terutama penjualan yang buruk di pasar utama, China.

Mengutip data dari perusahaan keuangan Refinitiv, Reuters melaporkan Samsung akan mengungkapkan laba operasional turun sebesar 12 persen YoY menjadi KRW13,3 triliun ($ 11,9 miliar). Itu adalah penurunan pertama dalam dua tahun terakhir. Penurunan laba operasional membuat total pendapatan juga diperkirakan turun sebesar 5 persen.

Samsung tidak mengonfirmasi laporan Reuters tersebut. Raksasa asal Korsel itu, dijadwalkan secara resmi baru akan mempublikasikan hasil Q4-2018 pada awal besok (8 Januari 2019).

Reuters mengungkapkan, penurunan yang dialami Samsung didorong oleh melemahnya penjualan di pasar China untuk smartphone. Hal itu berimbas pada menurunnya penjualan chip memori, yang selama ini menjadi motor penggerak pertumbuhan perusahaan.

Sesungguhnya tak hanya Samsung yang menderita di pasar China. Apple yang merupakan pesaing utama Samsung, minggu lalu juga memangkas target penjualan untuk produk andalannya, iPhone. Raksasa asal Cupertino, AS itu, mempetimbangkan pasar yang cenderung melemah di berbagai kawasan, terutama China yang selama ini menjadi tumpuan penjualan.

Sejauh ini, bisnis smartphone Apple sangat bergantung pada pasar China. Meski terjadi tren penurunan, Apple masih memegang pangsa pasar 9 persen, sedangkan Samsung memiliki kurang dari 1 persen.

Data Refinitiv menunjukkan bisnis ponsel pintar Samsung di seluruh dunia juga terpukul, dengan laba merosot sebesar seperlima pada kuartal keempat 2018.

Namun, memori dan chip prosesor Samsung adalah bagian utama dari bisnisnya, menyumbang lebih dari tiga perempat dari pendapatannya dan 38 persen dari keseluruhan penjualan. Chipnya juga memberi daya pada banyak smartphone utama dunia, termasuk pemimpin pasar domestik, Huawei.

Dengan penurunan tersebut, laba Samsung untuk keseluruhan bisnis chip diperkirakan turun 3,7 persen tahun-ke-tahun menjadi KRW10,5 triliun. Begitu pun dengan pengiriman chip memori yang turun rata-rata 10 persen.

Bulan lalu, Reuters melaporkan Samsung berencana untuk menutup salah satu fasilitas manufaktur ponselnya di Tianjin, China, karena menghadapi persaingan ketat dari pesaing domestik dan penjualan line up Galaxy di negara tersebut yang lebih lemah dari perkiraan.

Menurut laporan South China Morning Post, dalam dua tahun terakhir, tak satupun ponsel Galaxy besutan Samsung berhasil masuk daftar 10 ponsel terlaris di China.

Kinerja Samsung yang semakin melorot di Q4-2018 sesungguhnya tidak mengejutkan. Pasalnya, dalam beberapa kuartal sebelumnya, chaebol Korsel itu terus mengalami tekanan.

Menurut kajian perusahaan riset Canalys, Samsung adalah satu-satunya vendor smartphone yang mencatat penurunan pengiriman global selama Q3, dengan penurunan 14 persen.

Pangsa pasar vendor yang identik dengan warna biru itu, juga menurun dari 22% di Q3 2017 menjadi 20,4% dalam periode terakhir.

Sementara itu, pesaing Cina yang dimotori Huawei, Xiaomi dan Oppo, sukses melipatgandakan penjualan. Bahkan dua vendor terakhir, memegang pangsa pasar tertinggi dari pengiriman smartphone global pada Q3-2018.

Sebelum kebangkitan vendor-vendor domestik, Samsung merupakan pemain dominan di China. Menurut catatan Strategy Analytics, pada 2011 pangsa pasar Samsung di China sebesar 12,4%. Kemudian melonjak menjadi 19,7% pada 2013.

Namun, pencapaian Samsung pada tahun-tahun berikutnya menjadi anti klimaks. Pada 2015, pangsa pasar vendor asal negeri Ginseng itu langsung anjlok menjadi 7,6%.

Pada kuartal pertama 2017, amblas lagi menjadi 2,7%. Di kuartal terakhir 2017, market share Samsung tinggal tersisa 0,8%.

Latest