Jakarta, Selular.ID – Ratusan pengemudi GoJek kembali menggeruduk kantor GoJek di bilangan Blok M, Jakarta (26/11/2018). Aksi turun ke jalan para pengemudi ojek online itu, sebagai buntut penurunan tarif yang dilakukan oleh manajemen.

“Ini aksi spontanitas teman-teman karena manajemen Gojek tetap mempertahankan kebijakan penurunan tarif menjadi Rp 1.600, dari sebelumnya Rp 2.000 per kilometer,” ujar salah satu peserta aksi.

Para pengemudi menilai, tarif yang diterapkan oleh manajemen GoJek sangat tidak sesuai dengan kinerja mereka yang melelahkan. Sebab, dinilai tidak cukup untuk menutupi biaya operasional sehari-hari. Terlebih bahan bakar dan suku cadang kendaraan saat ini sudah tidak lagi murah. Di sisi lain, para driver masih harus menghidupi keluarganya.

BACA JUGA:
Dicegah Masuk Filipina, GoJek Pilih Bungkam

Mereka pun berharap manajemen PT Gojek bisa mendengar jeritan para driver. Mereka mengancam akan melakukan demo yang lebih besar, jika tak ada perubahan kebijakan yang mendorong kesejahteraan pengemudi.

Menanggapi aksi unjuk rasa yang dilakukan para pengemudi, VP Corporate Affairs Go-Jek Michael Say mengungkapkan alasan penurunan go-ride karena persaingan bisnis yang berhubungan dengan supply dan demand. 

BACA JUGA:
Pembayaran PBB di Kota Semarang Gunakan GoPay

“Kalau kami lihat di masyarakat beberapa waktu lalu, sisi konsumsi ada perubahan penyesuaian. Dari sisi tarif mitra Gojek, kami sudah paling tinggi di pasaran saat ini,” klaim Michael saat temu media di Kantor Gojek di Pasaraya Blok M, Jakarta Selatan, Jumat (23/11). 

“Jadi otomatis ketika market melakukan penyesuaian kalau kami tidak ikut, maka dari sisi demand-nya tidak akan ada yang masuk. Jadi kami harapkan adalah menjaga demand di pasar,” lanjutnya.

BACA JUGA:
70 Persen Donatur Palu di Kitabisa.com Gunakan Go-Pay

Jika tak ada permintaan yang masuk, kata Michael, maka pendapatan mitra akan menurun lantaran penumpang berpindah ke aplikasi lain. Oleh karenanya, Gojek meminta para mitranya untuk memahami hal tersebut.