Chris Kanter, Dirut Indosat Ooredoo

Jakarta, Selular.ID – Dalam RUPSLB yang digelar di Jakarta (17/10/2018), Chris Kanter resmi dikukuhkan sebagai Dirut Indosat Ooredoo. Chris yang sebelumnya menjabat sebagai komisaris di operator yang identik dengan warna kuning itu, “terpaksa” turun gunung. Pasalnya, Dirut sebelumnya, Joy Wahyudi mendadak mengajukan pengunduran diri pada Agustus lalu.

Dengan portofolio yang lebih dari cukup, Chris dianggap sebagai sosok yang tepat untuk menahkodai Indosat. Operator yang kini dimiliki oleh Ooredoo Group itu, sepertinya membutuhkan pemimpin seperti Jonathan L. Parapak. Sepanjang menjabat sebagai Dirut sepanjang 1980 -1991, Jonathan L. Parapak sukses menjadikan Indosat berkibar sebagai salah satu perusahaan terbaik di Indonesia.

Namun sayangnya, upaya untuk membenahi kinerja Indosat saat ini terbilang sangat tidak mudah. Sepanjang semester 1-2018, Indosat mengalami kerugian Rp693,7 miliar berbanding terbalik dengan periode sama tahun lalu yang masih membukukan keuntungan Rp784,2 miliar.

Pada periode tersebut, Indosat hanya membukukan pendapatan sebesar Rp11 triliun. Anjlok hingga 26,8% dibandingkan periode sama tahun lalu yang masih mencetak Rp15,11 triliun. Alhasil, Indosat mencatatkan EBITDA minus 47,5% dari Rp6,7 triliun menjadi Rp3,5 triliun.

Nah, dengan melongok rapor tersebut, kita bisa memahami tantangan sesungguhnya yang akan dihadapi oleh Chris Kanter. Bagaimana pun, persoalan keuangan menjadi hal paling kritikal. Karena hal itu mencerminkan fundamental dan kesehatan perusahaan.

Namun, sejatinya beban kerugian bukan kali pertama menghantam Indosat. Saat mengambil alih tampuk kepemimpinan dari Hari Sasongko pada 2012, Alexander Rusli (Dirut Indosat sebelum Joy Wahyudi) juga mengalami persoalan serupa. Perang tarif yang berlangsung 2007 – 2012, membuat, kinerja Indosat menukik tajam.

Perseroan mencatat rugi Rp71,1 miliar pada triwulan pertama 2013. Kerugian itu membengkak 214% dibandingkan posisi pada periode yang sama 2012 sebesar Rp22,6 miliar. Utamanya disebabkan rugi kurs, imbas masih besarnya beban hutang dalam dollar.

BACA JUGA:
Jokowi : Diuntungkan Grab dan GoJek, Tidak dengan Indosat

Meski diwarisi gunungan hutang, Alex tak patah semangat. Lewat visi “Leader in Data and Smart Devices”, Alex berusaha mengembalikan kinerja Indosat ke track yang seharusnya.

Serangkaian program terus digeber, termasuk modernisasi jaringan ke berbagai wilayah di seluruh Indonesia. Program ini bertujuan untuk memberikan pengalaman terbaik, baik dari sisi kualitas layanan maupun kualitas jaringan kepada pelanggan.

Upaya gigih yang dilakukan Alex dalam melakukan transformasi tak sia-sia. Setelah cukup lama menderita kerugian, kinerja keuangan Indosat Ooredoo mulai menghijau.

Hal ini terefleksi dari laporan kinerja 2016. Laba bersih yang berhasil dibukukan Indosat Ooredoo sepanjang tahun tersebut mencapai Rp1,10 triliun. Peningkatan sebesar 184,4% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Begitu pun diakhir 2017, mencapai Rp1,13 triliun, meski hanya tumbuh tipis 2,3% dibandingkan 2016.

Sayangnya, apa yang diperjuangkan oleh Alex Rusli selama periode kepemimpinannya, seperti menguap begitu saja. Kebijakan pemerintah yang tak kunjung merumuskan tarif data yang dinilai sudah kemurahan, membuat margin keuntungan operator semakin mengecil. Karena persaingan yang ketat, tak jarang operator jual rugi tarif data demi mengejar pelanggan.

Hal itu diperburuk oleh kebijakan yang mengharuskan operator untuk meregitrasi ulang pelanggan pra bayar. Dampak dari kebijakan itu, jumlah pelanggan semua operator menciut drastis, termasuk Indosat.

Merger dan Akusisi

Dengan berbagai indikator tersebut, tentu tak mudah bagi Chris Kanter untuk mengembalikan kinerja Indosat Ooredoo ke dalam jalur yang positif dalam waktu pendek. Apalagi sejauh ini tak ada inisiatif apa pun dari pemerintah untuk menyehatkan operator yang kondisinya sudah berdarah-darah (di luar Telkom Group).

Pertanyaan, apakah ada tujuan lain dibalik penunjukkan Chris Kanter sebagai Dirut Indosat Ooredoo?

Dalam jumpa pers pasca penunjukkan sebagai Dirut Indosat (18/10/2018), Kanter menyampaikan bahwa Ooredo Group melihat dirinya mampu menyelesaikan persoalan yang dihadapi oleh Indosat di industri telekomunikasi nasional.

BACA JUGA:
Indosat Klaim Trafik Layanan Data Naik 74 Persen Saat Natal

“Saya melihat bahwa ke depannya Indosat ini memiliki peranan penting dan harus tetap eksis dalam industri telekomunikasi yang tidak diatur dengan baik,” imbuhnya.

Penjelasan tersebut terbilang normatif. Meski demikian, ada poin menarik yang disampaikan oleh Chris. Pria asal Manado ini, menyoroti banyaknya operator yang ada di industri telekomunikasi Indonesia.

Ia menilai itu merupakan salah satu contoh lemahnya aturan yang ada di industri selular. Begitu banyaknya lisensi yang dikeluarkan oleh pemerintah di masa sebelumnya, berdampak pada pemborosan sumber daya, terutama frekwensi yang terbatas.

Di banyak negara yang industri telkonya maju, dikatakan Kanter, jumlah operatornya tidak sebanyak yang ada di Indonesia. Indosat diharapkan Kanter dapat menciptakan keseimbangan di industri ini.

Dari pernyataan tersebut, dapat disimpulkan, bahwa sambil berupaya memperbaiki kinerja Indosat Ooredoo yang kini bolong-bolong, Chris diyakini punya tugas lebih penting, yakni mendorong terjadinya merger dan akusisi dengan operator lain.

Seperti diketahui, sudah sejak lama Indosat diisukan akan melakukan merger dengan operator lain di Indonesia. Dua operator yang kerap dispekulasikan adalah 3 Hutchinson dan Smartfren. Rapor keduanya diketahui tak pernah menggembirakan. Sehingga merger adalah pilihan paling realistis agar tidak terus terjebak pada kubangan kerugian.

Namun hingga kini aksi korporasi tersebut belum terlaksana. Perbedaan valuasi perusahaan untuk menilai besaran harga jual, diperkirakan menjadi musabab, gagalnya upaya merger dan akusisi tersebut.

Di sisi lain, Ooredoo Group sebagai induk semang Indosat juga telah lama berniat untuk melepas kepemilikannya mereka dengan berbagai alasan. Merujuk pada laporan yang dikeluarkan Bloomberg (20/9/2016), konglomerat yang berbasis di Doha – Qatar, lebih memilih fokus kepada anak usaha yang beroperasi di wilayah yang memberikan profitabilitas seperti pasar Timur Tengah.

Sekedar diketahui, untuk mengambil alih seluruh saham Indosat (40%) dari STT Telecom (Temasek, Singapura) pada 2008 silam, Ooredoo (dahulu Qatar Telecom) mengeluarkan dana tak kurang dari Rp16.740 triliun. Untuk mendukung program modernisasi jaringan yang digeber perusahaan pada periode 2013 -2015, Ooredoo Group diketahui telah mengeluarkan investasi sebesar Rp15 triliun.

BACA JUGA:
Tsunami Banten, Layanan Seluler Berfungsi Normal

Namun hingga sekarang, investasi besr yang telah ditanamkan Ooredoo Group terbilang belum balik modal.

Tengok saja, dalam periode enam tahun yakni 2011 -2017, kinerja yang dibukukan perusahaan adalah sebagai berikut : laba Rp 1,1 triliun, laba Rp 0,5 triliun, rugi Rp 2,7 triliun, rugi Rp 1,8 triliun, laba Rp 1,10 triliun, dan laba 1,13 triliun.

Dengan kerugian sebesar 693,7 miliar yang sudah diderita sepanjang semester 1-2018, dapat dipastikan bahwa para petinggi Indosat dan Ooredoo Group akan menutup tahun ini tidak dengan senyum mengembang.

Valuasi Perusahaan

Jika aksi merger dan akusisi bisa terjadi di masa Chris Kanter, kita tentu menyambut baik. Karena hal itu dengan sendirinya bisa mendorong kesehatan industri. Namun untuk mewujudkan aksi merger dan akusisi juga tidak mudah. Pasalnya, valuasi Indosat Ooredoo kini tak lagi sama saat perusahaan masih mampu mencetak keuntungan.

Sekedar diketahui, menurut laporan Bloomberg, valuasi Indosat pada 2016 diperkirakan mencapai USD1,4 miliar.

Namun. jika kita rangkum, berbagai indikator yang mencerminkan valuasi perusahaan yang dimiliki Indosat, saat ini tengah dalam titik terendah.

Sepanjang semester 1-2018 dibandingkan semester 1-2017, perseroan mencatat kerugian Rp 693,7 miliar dibandingkan laba periode sebelumnya Rp784,2 miliar.

ARPU secara total turun sebesar 36,4% dari Rp 22.500 menjadi Rp 14.300.

EBITDA minus 47,5% dari Rp 6,7 triliun menjadi Rp 3,5 triliun.

Jumlah nomor di jaringan turun sebesar 21,9% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, yakni dari 96,4 juta nomor menjadi 75,3 juta nomor.

Nah, dengan sederetan indikator-indikator tersebut, mampukah Chris Kanter mengubahnya menjadi lebih baik? Kelak waktu yang akan membuktikan.