Jakarta, Selular.ID – Didukung populasi yang besar dan jumlah pengguna internet yang terus meningkat, Indonesia perlahan-lahan bergerak menuju ekosistem ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara.

Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menyebut 143,26 juta orang Indonesia menggunakan internet pada akhir 2017. Jelas jumlah ini merupakan pasar yang sangat menggiurkan bagi perusahaan rintisan yang bermimpi untuk menjadi unicorn.

Saat ini terdapat empat unicorn, yakni GoJek, Tokopedia, Traveloka dan Bukalapak. Kehadiran Unicorn ini membantu pemerintah yang sedang berupaya meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan inovasi di Tanah Air.

Para unicorn ini pun diharapkan mampu memahami peran mereka dalam pergerakan ekonomi Indonesia.

Di Indonesia setidaknya ada empat satrtup yang telah menjadi unicorn, yakni Tokopedia, Gojek, Traveloka dan Bukalapak.

Salah satu Unicorn yang berkembang pesat adalah GoJek. GoJek adalah perusahaan rintisan yang telah menerima suntikan dana berbagai investor luar negeri termasuki JD.com dan Tencent.

GoJek tercatat memiliki valuasi hampir USD5 Milyar, dengan kehadiran besar dalam keseharian masyarakat Indonesia melalui layanan Go-Life dan transport.

Direktur Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Enny Sri Hartati mendesak Pemerintah membuat aturan yang jelas soal investasi di startup digital.

Dia pun menilai, pemerintah kurang antisipasi terhadap perubahan lingkungan bisnis yang bergerak ke arah digital.

“Regulasi tidak ada. Yang sekarang hanya bersifat parsial. Contoh ride sharing hanya diatur PP Menhub. Padahal bisnis startup digital seperti Gojek berkembang luas menjadi 10 bidang,” jelasnya.

“Perlu peta jalan dan blueprint yang jelas. Polemik dapat diakhiri kalo regulator memiliki aturan. Ekonomi digital adalah keniscayaan. Tinggal aturan yang jelas untuk meminimalkan ekses. Kita harus maksimalkan manfaatnya,” imbuhnya.

Lebih lanjut disampaikan Ekonom Indef ini, semua negara yang mengimplelemntasikan ekonomi digital regulasinya sudah direncanakan, terstruktur sistematis bagaimana memanfaatkan teknologi. Tetapi berbeda dengan yang terjadi di Indonesia

Satya Yudha, Wakil Ketua Komisi I DPR RI perlu memeberikan ruang agar startup digital ini bisa berkembang mengingat rasio kegagalannya sangat tinggi.

“Kalau pemerintah bisa mengkalkulasi dampak pertumbuhan startup, Negara punya langkah bagaimana mengantisipasi tumbuhnya unicorn di indonesia yang valuasi assetnya luar biasa agar rantai asetnya tetap ada di dalam negeri tidak keluar. Ini menjadi salah satu factor utk memperkuat ekonomi kita,” jelas Satya.

Keberhasilan para startupdigital menjadi unicorn dikatakan Satya mempunya dimensi yang unik. Para Unicorn yang ada di indonesia diharapkandapat membuat putaran uangnya tetap ada di Indonesia.

Menurut Satya, Indonesia dengan semua kerjasama multilateral yang ada, benefit yang didapat hampir tidak ada.

Terkait investasi asing di startup digital Indonesia, Enny Sri Hartati mengatakan bahwa, perosalannya kita bebaskan sebebas-bebasnya perilaku mereka disini atau ada kehadiran pemerintah untuk membatasinya.