Jakarta, Selular.ID – Pasar smartphone Indonesia mencatat pertumbuhan dua digit pada kuartal kedua 2018, setelah beradaptasi dengan kebutuhan manufaktur lokal yang memperlambat pasar di bandingkan Q2-2017. Data yang dilansir Counterpoint, lembaga riset yang bermarkas di Taiwan, menunjukkan total pengiriman meningkat hingga 25% tahun ke tahun di Q2-2018.

Posisi teratas masih dikuasai Samsung. Vendor asal Korea itu memimpin pasar dengan 25% pangsa pasar, turun tipis 1% dibandingkan periode sebelumnya. Kejutan ditujukan Xiaomi bergerak ke posisi kedua dengan pangsa pasar 22%, naik 2% dibandingkan Q2-2017.

Oppo yang sebelumnya cukup digdaya, merosot ke posisi ketiga setelah kehilangan pangsa pasar yang cukup signifikan. Vendor yang baru saja memperkenalkan flagship Find X itu, hanya meraih 20% dibandingkan periode sebelumnya sebesar 26%.

Urutan keempat ditempati oleh Vivo. Vendor yang berbasis di Shenzen itu, mampu menambahkan 4 poin ke bagiannya pasarnya. Vivo meraih 6% dibandingkan 2% pada periode sebelumnya.

BACA JUGA:
Babak Baru Pertarungan Samsung Vs Xiaomi

Sementara di posisi kelima ditempati oleh vendor lokal, Advan. Pabrikan yang bermarkas di Semarang itu, tak kuasa menahan gempuran pemain-pemain asal China. Padahal pada periode sebelumnya, Advan masih bertengger di posisi ketiga. Advan tercatat hanya meraih 4%, turun 1% dibandingkan sebelumnya.

Secara umum, Counterpoint Research menyimpulkan bahwa merek-merek China pada kuartal 2018 mengambil 53% dari total pengiriman. Agresifitas tersebut membuat penguasaan pasar vendor lokal terus menciut. Tercatat vendor lokal hanya memiliki 9% pangsa pasar. Jauh menyusut dibandingkan periode-sebelumnya yang masih mencapai dua digit.

Tarun Pathak, Associate Director Counterpoint Research, mengatakan jumlah pengguna smartphone di Indonesia akan melampaui angka 100 juta tahun ini. Dia mencatat pengguna telah mulai bermigrasi dari smartphone entry-level ke model mid-tier yang telah meningkatkan tingkat penggantian selama beberapa kuartal terakhir.

BACA JUGA:
Resmi Pisah dari Xiaomi, Ini Smartphone Pertama Redmi

Segmen US$ 150 menyumbang lebih dari setengah dari total pengiriman di Q2-2018. Namun segmen US$ 100- US$ 150 adalah rentang harga yang tumbuh paling cepat.

Saat ini Apple memiliki kurang dari 1% pangsa pasar di Indonesia. Secara umum, smartphone LTE menyumbang 90 persen dari pengiriman smartphone di kuartal tersebut.

Pasar BM

Khusus untuk Xiaomi, ini kali kedua vendor yang baru saja melakukan IPO ditahbiskan sebagai penguasa kedua pasar smartphone di Indonesia. Sebelumnya, catatan perolehan market share Xiaomi tidak pernah diungkapkan secara resmi oleh pihak Xiaomi Indonesia, maupun IDC yang rajin mempublikasikan performa vendor-vendor smartphone.

Namun, dalam catatan lembaga survey Canalys, Xiaomi pada kuartal I-2018 sudah nangkring di posisi kedua. Vendor yang identik dengan warna orange itu, sukses menguasai 18,5% pangsa psar.

BACA JUGA:
APSI : Xiaomi dan iPhone Masih Mendominasi Pasar Ponsel BM

Sumber Selular mengungkapkan, bisa saja market share yang dihasilkan Xiaomi sesuai riset Canalys dan Counterpoint itu merupakan gabungan, yakni produk resmi lewat mitranya di Batam (Satnusa Persada) dengan smartphone BM (black market) yang masih banyak ditemui di pasaran, terutama dijual lewat media daring (e-commerce).

Sudah menjadi rahasia umum, sangat banyak ponsel BM beredar di pusat penjualan ponsel di Indonesia dan toko-toko daring. Selain iPhone, salah satu smartphone yang banyak masuk secara tidak resmi adalah Xiaomi. Disinyalir penyebab melejitnya perolehan market share Xiaomi adalah karena beberapa varian tidak masuk ke Indonesia yang sudah pasti ilegal.

Hal yang tentunya merugikan konsumen karena tidak memiliki jaminan layanan purna jual, pemerintah yang tidak memperoleh pendapatan dari pajak, serta vendor resmi lainnya yang merasa adanya ketidakadilan dari agresifitas Xiaomi itu karena harga yang dipatok tidak kompetitif.