Jakarta, Selular.ID – Tiga pemain utama di Singapura saat ini memiliki banyak kesamaan yang menekan kinerja keuangan di sepanjang Q2-2018. Ketiga operator diketahui tengah menghadapi persoalan pelik, yakni menghadapi penurunan pendapatan, menciutnya jumlah pelanggan selular, serta anjloknya ARPU (average revenue per user) dibandingkan dengan Q2-2017.

Tiga operator tersebut, masing-masing Singtel, StarHub dan M1 secara kolektif kehilangan hampir 160.000 pelanggan sejak akhir Juni 2017. Selain digerus pemain OTT, penurunan datang setelah empat layanan MVNO diluncurkan di negara kota itu selama dua tahun terakhir.

Data dari GSMA Intelligence menunjukkan, saat ini pasar selular di Singapura memiliki lebih dari 8 juta sambungan. Sejauh ini tidak ada perubahan dalam penguasaan pangsa pasar dalam empat kuartal terakhir. Singtel tetap memimpin dengan pengusaan 49%, diikuti oleh StarHub 27 persen dan M1 23%.

Namun hal itu bisa berubah karena kehadiran pemain MVNO terbaru, MyRepublic. Operator yang sebagian sahamnya dimiliki oleh Sinar Mas Group itu, memperkenalkan tiga rencana data baru pada akhir Juni, dengan penawaran termurah 7GB data untuk SGD35 (US$ 25,43) per bulan, yang signifikan lebih rendah dari tiga pemain utama.

Singtel dan StarHub juga terus mengalami penurunan pendapatan layanan mobile di kuartal ini, namun mencatat keuntungan yang kuat dalam penjualan handset. Tercatat penjualan perangkat mencapai SGD32.5 juta. Hal ini mengimbangi penurunan mereka dalam perputaran layanan seluler yang hanya mencapai SGD26.1 juta di Q2. Meskipun penjualan peralatan cukup kuat, namun total pendapatan selular Singtel menurun 1,3% tahun ke tahun.

Begitu pun StarHub. Operator terbesar kedua di Singapura itu mencatat pendapatan mobile 35,7% dari total omset layanan di Q2. Angka itu turun 40,3 persen dibandingkan Q2-2017 kuartal. Untuk setahun penuh, StarHub memperkirakan pendapatan layanan semakin menurun dari 1% menjadi 3% tahun-ke-tahun.

M1 melawan tren penurunan dalam pendapatan layanan dengan peningkatan 3,8%, tetapi mengalami penurunan penjualan handset hampir 8%.

Faktor kunci dalam kelemahan pendapatan jatuh ARPU, terutama pasca bayar, yang menyumbang sekitar 60 persen dari pelanggan Singtel dan StarHub dan 70 persen di M1 Ketiga berpengalaman year-on-tahun penurunan pasca bayar ARPU :. M1 prabayar Tingkat tetap datar di SGD10.50, ARPU pra-bayar StarHub turun 13,3 persen menjadi SGD13, dan pendapatan Singtel dari SGD18 turun 0,8 persen.

Analis Canalys Tuan Anh Nguyen mengatakan bahwa siklus penyegaran smartphone meningkat, mengakibatkan penurunan pendapatan seluler di beberapa pasar.

“Di Singapura, banyak pelanggan yang beralih ke SIM pemain lain. Pelanggan hanya menggunakan perangkat selama dua tahun masa kontrak. Hal ini menjadi penghambat utama pada peningkatan ARPU”, kata Tuan Anh Nguyen.

Ia mengatakan munculnya para pemain MVNO, seperti Circles, Life dan MyRepublic menimbulkan tantangan kuat untuk operator yang ada. Operator incumbent tak memiliki daya saing sebaik yang ditawarkan MVNO, terutama dari sisi harga.

“Layanan suara dan perangkat kini tak lagi penting dibandingkan bundel data. Hal itu bisa menciptakan pergeseran dari tiga besar menuju MVNO”, kata Nguyen.

Selain digerus oleh para pemain MVNO, pasar akan segera melihat masuknya operator selular keempat. Pada Desember 2016 operator fixed-line berbasis Australia TPG mengalahkan MyRepublic untuk memenangkan lisensi sebagai operator keempat di Singapura, lewat lelang terbuka hanya untuk pendatang baru.

Seperti di sebagian besar pasar, tekanan tidak akan terbatas pada tarif pendapatan atau mobile, namun juga penggunaan data terus melambung, dengan rata-rata penggunaan data per bulanan melompat dari seluruh 4GB di Juni 2017 menjadi sekitar 5.5GB (hampir 40% peningkatan).

Alhasil, hal tersebut menuntut sumber daya jaringan yang mutlak harus ditingkatkan jika ingin terus bersaing. Ini menjadi dilema bagi operator. Pasalnya belanja modal tidak mungkin diturunkan. Di sisi lain tarif tidak serta merta dinaikkan, sehingga margin keuntungan semakin tipis.