Wednesday, October 16, 2019
Home News FinTech OJK Sebut Fintech Sebagai Rentenir Digital, AFTECH Meradang

OJK Sebut Fintech Sebagai Rentenir Digital, AFTECH Meradang

-

Jakarta, Selular.ID -Beberapa waktu lalu, Wim Umboh, Ketua Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengeluarkan pernyataan yang menyamakan semua model bisnis teknologi finansial (tekfin) sebagai rentenir.

Menyusul pernyataan Ketua OJK tersebut Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH) mendorong OJK untuk mengenal perbedaan antara penyedia layanan peer to peer (P2P) lending yang beroperasi murni didasari semangat inklusi keuangan dan merengkuh mereka yang underbanked serta profesi non-formal (seperti para pekerja kreatif, pekerja paruh waktu, buruh tani, nelayan dan sebagainya) dengan penyedia layanan yang memberlakukan pay-day loan atau mengenakan bunga harian kepada nasabah.

“Kegiatan pinjam meminjam dalam tekfin tidak dapat disamaratakan dengan kegiatan rentenir. P2P lending yang sejati tidak beroperasi seperti pemberi pay-day loan. Sangat berbahaya bila OJK menyamakan semua model bisnis tekfin sebagai rentenir,” ucap Adrian Gunadi, Wakil Ketua Umum AFTECH menanggapi pernyataan Ketua OJK Wimboh Santoso baru-baru ini yang menyamakan tekfin dengan rentenir.

Sementara itu, Ketua Kelompok Kerja P2P Lending AFTECH sekaligus CEO Modalku, Reynold Wijaya menekankan, Tekfin lahir didorong kebutuhan untuk mengisi gap pembiayaan UMKM yang tinggi di Indonesia, yang meski telah diakselerasi dengan sangat baik, belum dapat sepenuhnya dicapai oleh lembaga keuangan lain selama ini, karena usia usaha yang masih muda, minimnya data dan ketiadaan agunan.

“Dibantu tekfin, UMKM di Indonesia diharapkan dapat berkembang menjadi bankable, sehingga tekfin dan layanan jasa keuangan incumbent bersifat saling mendukung dan melengkapi,” tuturnya.

OJK sendiri kerap menegaskan adanya gap pembiayaan sebesar Rp988 triliun yang belum mampu dipenuhi oleh perbankan saat ini. Fakta ini selaras dengan temuan studi Asian Development Bank di tahun 2017 bahwa terdapat gap pembiayaan sebesar USD57 miliar di Indonesia yang belum dapat didukung oleh lembaga keuangan formal.

Tekfin memiliki potensi yang sangat besar untuk membantu mewujudkan inklusi keuangan sesuai Strategi Nasional Keuangan Inklusif (SNKI), dengan prioritas agenda nasional yaitu membuka akses layanan keuangan kepada sedikitnya 75% penduduk Indonesia yang belum bankable.

Di sisi dunia usaha, Indonesia berada dalam momentum yang terbangun berkat perkembangan teknologi dan pertumbuhan perusahaan rintisan yang terjadi dengan sangat pesat di Asia Tenggara.

Indonesia tercatat sebagai negara dengan jumlah perusahaan rintisan tertinggi di kawasan ini dan diperkirakan akan mencapai jumlah 13.000 pada tahun 2020 mendatang.

Oleh karenanya AFTECH mendukung segala bentuk inisiatif yang mendukung agenda nasional tersebut, termasuk rencana dikeluarkannya “Principal Based Guideline Fintech Provider” oleh OJK.
Reynold mengungkapkan, khusus untuk kegiatan P2P lending, AFTECH sendiri telah menyiapkan “Pedoman Perilaku Layanan Pinjam Meminjam Daring yang Bertanggung Jawab” yang akan dipresentasikan kepada seluruh pemangku kepentingan terkait dalam waktu dekat.

“AFTECH terus berkomitmen dan bekerja secara intensif untuk mendukung terbentuknya regulasi yang bijak, baik dari sisi advokasi penyusunannya maupun dari sisi implementasi operasional, serta melakukan edukasi kepada publik agar mereka dapat bertransaksi dengan aman dan nyaman,” jelas Reynold.

Melalui AFTECH, para pelaku usaha juga saling menjaga kredibilitas, memastikan praktik yang akuntabel dan terus meningkatkan kapabilitas tata kelola usaha, agar semakin banyak perusahaan
tekfin Indonesia berkualitas dan berkembang sesuai standar internasional, terutama untuk melindungi hak dan kepentingan konsumen akan layanan yang terpercaya, serta mendorong pertumbuhan
ekonomi nasional.

Baca juga: Pelaku Usaha Fintech Makin Serius Kembangkan Bisnisnya

“Dukungan atas perkembangan dan kapabilitas usaha tekfin berarti mendukung cita-cita inklusi keuangan, serta terbukanya akses publik dan akselerasi pertumbuhan ekonomi,” pungkas Reynold.

Latest