Selular.ID -

Telkom Catat Pendapatan Rp75,9 Triliun pada Semester I 2026

BACA JUGA

Selular.ID – Telkom Indonesia membukukan kinerja positif sepanjang semester pertama 2026 dengan mencatat pendapatan konsolidasi sebesar Rp75,9 triliun, meningkat 3,9% dibandingkan periode yang sama tahun lalu (year-on-year/YoY).

Pertumbuhan tersebut diikuti kenaikan EBITDA menjadi Rp37,5 triliun atau tumbuh 3,8% YoY, sementara laba bersih normalisasi meningkat 6,2% YoY menjadi Rp11,3 triliun.

Perseroan menyatakan capaian ini mencerminkan hasil implementasi strategi transformasi TLKM 30 yang berfokus pada penguatan bisnis digital, efisiensi operasional, serta optimalisasi portofolio usaha.

Laba bersih Telkom secara konsolidasi tercatat sebesar Rp10,6 triliun atau naik 1,4% YoY dengan margin laba bersih mencapai 14%.

Di sisi lain, laba bersih yang telah dinormalisasi mencapai Rp11,3 triliun dengan margin 14,9%, menunjukkan ketahanan operasional perusahaan di tengah proses transformasi bisnis yang masih berlangsung.

Arus kas operasional juga meningkat 7% YoY menjadi Rp34,9 triliun berkat disiplin pengelolaan biaya dan implementasi program efisiensi.

Tonton juga:
Video Rekomendasi Untuk Anda

Direktur Utama Telkom, Dian Siswarini, mengatakan pertumbuhan tersebut menjadi indikator bahwa strategi transformasi perusahaan mulai memberikan hasil yang nyata.

Menurutnya, percepatan transformasi digital melalui strategi TLKM 30 menjadi fondasi untuk memperkuat posisi Telkom sebagai pemimpin ekosistem digital Indonesia sekaligus mendukung pertumbuhan jangka panjang.

 

Kontributor terbesar pendapatan tetap berasal dari segmen Business-to-Consumer (B2C) melalui Telkomsel.

Pada semester pertama 2026, Telkomsel membukukan pendapatan Rp55,6 triliun atau tumbuh 3,3% YoY.

Pertumbuhan tersebut didorong oleh peningkatan pendapatan Digital Business Data sebesar 11% seiring membaiknya industri seluler dan meningkatnya konsumsi layanan digital.

Perbaikan kualitas bisnis mobile juga tercermin dari Average Revenue Per User (ARPU) yang naik menjadi Rp45.600 atau tumbuh 9% dibandingkan tahun sebelumnya.

Telkom menyebut peningkatan tersebut dipengaruhi implementasi strategi komersial yang lebih disiplin melalui optimalisasi portofolio produk, penyesuaian harga, serta pengelolaan nilai pelanggan.

Momentum liburan sekolah dan penyelenggaraan Piala Dunia turut mendorong kenaikan trafik data pelanggan selama periode tersebut.

Pada layanan fixed broadband, Telkomsel melanjutkan strategi kalibrasi basis pelanggan IndiHome untuk meningkatkan kualitas pelanggan dan efektivitas monetisasi layanan.

Jumlah pelanggan tercatat 9,5 juta, turun dari 10,1 juta pada periode yang sama tahun lalu.

Meski demikian, dampaknya terhadap pendapatan dinilai terbatas karena ARPU IndiHome meningkat menjadi Rp211.000 secara kuartalan atau naik 3,4%.

Secara semesteran, ARPU berada di level Rp207.000 di tengah persaingan harga layanan fixed broadband yang masih berlangsung.

Perseroan juga melaporkan rasio konvergensi pelanggan meningkat menjadi 65%.

Strategi ini menjadi bagian dari upaya Telkom mengintegrasikan layanan mobile dan fixed broadband agar mampu meningkatkan loyalitas pelanggan sekaligus menciptakan pertumbuhan yang lebih berkelanjutan.

Ke depan, Telkomsel akan memperluas pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (AI), jaringan 5G, serta solusi digital untuk pelanggan individu maupun pelaku usaha.

 

Di segmen Business-to-Business (B2B) Infrastructure, Telkom mencatat pertumbuhan yang lebih tinggi.

Total pendapatan segmen ini mencapai Rp33,1 triliun atau meningkat 19% YoY, sedangkan pendapatan eksternal naik 4,9% menjadi Rp4,7 triliun.

Pertumbuhan terutama berasal dari layanan Data, Internet, dan IT Service yang terus meningkat seiring kebutuhan transformasi digital perusahaan di berbagai sektor.

Anak usaha Telkom, Mitratel, turut mencatatkan pertumbuhan pendapatan sebesar 2,1% YoY menjadi Rp4,7 triliun.

Bisnis penyewaan menara masih menjadi penyumbang utama, didukung peningkatan jumlah tenant menjadi 63.866 atau naik 4,9% YoY.

Kenaikan tersebut mendorong rasio tenancy menjadi 1,57 kali, yang menunjukkan semakin optimalnya pemanfaatan aset menara telekomunikasi.

 

Pada bisnis data center, Telkom memperkuat pengembangan NeutraDC sebagai platform pengelolaan terpusat seluruh aset pusat data TelkomGroup.

Konsolidasi ini dilakukan untuk memperluas kapasitas layanan, meningkatkan monetisasi aset, serta memperkuat kolaborasi dengan mitra strategis di tengah meningkatnya permintaan infrastruktur digital, termasuk untuk mendukung implementasi teknologi AI.

Sementara itu, pendapatan segmen B2B ICT mencapai Rp7,3 triliun atau tumbuh 35,7% dibandingkan kuartal sebelumnya (quarter-on-quarter/QoQ).

Walaupun masih terdampak proses restrukturisasi portofolio bisnis, Telkom menilai penyederhanaan tersebut menjadi bagian dari strategi memperkuat fokus pada layanan dengan nilai tambah lebih tinggi.

Pada bisnis internasional, Telkom membukukan pendapatan Rp5,7 triliun.

Perseroan menyatakan transformasi portofolio dari layanan traditional voice hubbing menuju konektivitas dan solusi digital dengan margin lebih tinggi diharapkan mampu meningkatkan profitabilitas dalam beberapa tahun mendatang.

Permintaan kapasitas kabel bawah laut internasional juga terus meningkat seiring kebutuhan perusahaan teknologi global terhadap infrastruktur pendukung AI dan perubahan dinamika geopolitik.

Dari sisi transformasi perusahaan, implementasi strategi TLKM 30 menunjukkan perkembangan pada empat pilar utama.

Telkom mencatat pertumbuhan arus kas operasional sebesar 9,5% YoY, meningkatkan efisiensi biaya operasional (OPEX), serta menerapkan belanja modal (CAPEX) secara lebih selektif.

Sepanjang semester pertama 2026, perusahaan merealisasikan CAPEX sebesar Rp10,8 triliun dengan lebih dari 96% dialokasikan untuk pengembangan bisnis prioritas pada segmen B2C, B2B Infrastructure, dan International Business.

 

Perseroan juga telah menyelesaikan proses streamlining terhadap 10 entitas melalui divestasi, merger, dan likuidasi untuk menyederhanakan struktur grup sekaligus memperkuat fokus pada bisnis inti.

Selain itu, Telkom melanjutkan persiapan pengalihan aset InfraNexia Tahap 2 yang ditargetkan rampung pada semester kedua 2026 sebagai bagian dari strategi unlock value.

Menutup pemaparan kinerja semester pertama, Dian Siswarini menegaskan Telkom akan terus mempercepat transformasi digital melalui penguatan infrastruktur dan kapabilitas digital.

Menurutnya, investasi tersebut ditujukan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi digital Indonesia, memperkuat ekosistem teknologi nasional, serta menciptakan nilai jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan melalui implementasi strategi TLKM 30.

Baca Juga: Telkom Perkuat Budaya Kerja lewat Culture Festival 2026

- Advertisement 1-

BERITA TERKAIT

BERITA PILIHAN

BERITA TERBARU