SHARE
  • 19
    Shares

Jakarta, Selular.ID – Dengan proyeksi 40 juta unit smartphone terjual setiap tahunnya, Indonesia merupakan pasar yang sangat seksi bagi vendor ponsel. Meski demikian untuk bisa menjadi pilihan konsumen tak semudah membalikan telapak tangan. Sistem kompetisi terbuka membuat setiap vendor yang mencoba mengadu peruntungan harus memiliki strategi yang brilian dan juga nafas kuda.

Masuknya sejumlah pendatang baru, seperti Gionee pada akhir 2017 lalu, menegaskan bahwa pasar yang sejatinya sudah disesaki oleh banyak pemain, tetap saja dinilai punya peluang untuk tumbuh. Walau pun harus mengeluarkan extra effort untuk mengalahkan pemain-pemain yang sudah lama bercokol di posisi elit.

Faktanya, beberapa pendatang baru yang mencoba mengadu peruntungan di Indonesia, tak sepenuhnya berhasil. Berbagai faktor menjadi kendala utama. Diantaranya pemenuhan TKDN 30% yang mengharuskan vendor membangun pabrik atau bermitra dengan EMS untuk merakit produknya di sini. Faktor lain yang juga menjadi kendala adalah line up produk yang terbatas, budget promosi yang cekak, hingga saluran distribusi yang terbatas.

Di sisi lain, level kompetisi saat ini sudah berubah dengan cepat. Sejumlah vendor seperti Oppo dan Vivo mengeluarkan budget promosi yang gila-gilaan guna mengatrol brand image yang sangat penting demi mendorong penjualan. Hal itu dibarengi dengan pengembangan channel distribusi yang meluas ke seluruh Indonesia, lengkap dengan perekrutan ribuan promoter dan insentif menarik untuk pengecer.

Baca juga: Masuk Indonesia, Nubia Boyong Tiga Smartphone Sekaligus

Pada akhirnya, kita melihat sejumlah vendor baru gigit jari karena pangsa pasar mereka tak beringsut sedikit pun. Mereka hanya menjadi pelengkap penderita ditengah pencapaian signifikan yang diperoleh para pesaingnya, seperti Xiaomi yang belakangan menjadi bintang penjualan smartphone di Tanah Air.

Salah satu brand yang bernasib ‘amsiong’ adalah Nubia. Melongok ke belakang, pada 26 April 2017, Nubia, resmi mendarat di Indonesia. Nubia adalah sub-brand yang dahulu lekat dengan smartphone besutan ZTE.

Dalam debutnya, vendor asal China itu langsung menyuguhkan tiga smartphone andalannya, yaitu M2, M2 Lite, dan N1 Lite. Ketiganya diklaim memiliki keunggulan di sisi alat pengabadi momen atau kamera, berkat teknologi NeoVision.

Dari ketiga smartphone tersebut, M2 merupakan smartphone jagoan dari Nubia. Smartphone yang dibanderol Rp 4,3 ini dikemas dengan spesifikasi layar 5.5 inci full HD, prosesor Snapdragon 625, RAM 4GB, baterai 3630 mAh, dan memori internal 64 GB yang masih bisa diperluas via kartu microSD hingga 200 GB. Dari sektor kamera, smartphone ini dibekali alat bidik utama beresolusi 13 MP dan kamera depan 16 MP.

Dengan jajaran produk yang diklaim terbaik di kelasnya, manajemen Nubia tentu berharap mereka bisa menggoyang pasar Indonesia. Apalagi mereka didukung oleh sejumlah eksekutif yang telah lama malang melintang di industri selular Indonesia. Seperti Stephen Qu (mantan petinggi Hisense) dan Joko Tata Ibrahim (mantan petinggi Smartfren).

Sayangnya sejak peluncuran perdana hingga kini, awareness Nubia tak kunjung meningkat. Hal ini tak bisa dilepaskan dari minimnya dana promosi yang dikeluarkan Nubia. Selain harga yang terbilang tinggi, jalur penjualan Nubia hanya difokuskan pada media daring (e-commerce), sehingga membuat pasar Nubia menjadi terbatas.

Baca juga: Di Belakang Nubia Ada Mantan Petinggi Smartfren dan Hisense

Pasca peluncuran perdana pada April tahun lalu, tak pernah terdengar lagi kabar tentang Nubia. Kiprah dan pencapaiannya benar-benar tak diketahui publik. Sebelumnya, pihak Nubia berniat untuk mendatangkan varian terbaru, yakni Nubia Z17 yang diklaim mengalami penjualan yang luar biasa di China.

“Direncanakan dengan sangat bahwa Nubia Indonesia dapat memboyong seri Flagship ini di sekitar Q4 2017,” ucap Michael Mondong, Marketing Manager Nubia Indonesia kepada Selular. Namun sayang, hingga akhir tahun lalu, Nubia Z17 tak kunjung mendarat. Membuat pamor brand ini semakin tenggelam di tengah agrefitas para pesaing yang terus memborbardir pasar dengan deretan smartphone anyar.

Berbagai kondisi yang menghadang Nubia, bisa jadi membuat Joko Tata Ibrahim hengkang. Seperti kita ketahui, pada awal pekan ini, sosok yang lekat dengam produk Andromax itu mengumumkan kembali ke Smratfren sebagai Deputi CEO.

Joko rupanya tak ingin berspekulasi. Ia meninggalkan Nubia yang sepertinya kehilangan arah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here