Catatan Akhir 2017 : Industri Kreatif Vs Kesenjangan Digital

wp-1472286660122.jpg
Jakarta, Selular.ID – Tak dapat dipungkiri, bahwa saat ini Indonesia telah mengalami “krisis spektrum”. Tingginya kebutuhan layanan data sejalan dengan meningkatnya penetrasi smartphone, membuat operator harus berjibaku untuk mempertahankan QoS (Quality of Service).

Untuk mengatasi krisis spektrum tersebut, terdapat tiga solusi. Yaitu, menambah bandwith spektrum, meningkatkan spektrum efisiensi dengan meng-upgrade teknologi, dan menambah jumlah BTS.

Meski kondisi keuangan operator umumnya tak lagi mewah, membangun BTS demi memperluas coverage, tetap menjadi salah satu prioritas operator. Tengok saja, pasca digelarnya 4G LTE sejak akhir 2015, pembangunan BTS 4G terus melonjak.

Menurut data GSMA Intelligence (GSMAi), Indonesia tergolong sebagai negara dengan adopsi 4G LTE tercepat. Ini terlihat dari koneksi 4G di Tanah Air melonjak dari 34 juta pada Q3 2016 menjadi 85,5 juta pada Q3 2017. Sedangkan penetrasi LTE di Q3 2016 mencapai 7,9 persen.

Untuk mendukung pertumbuhan tersebut, operator selular telah menggandakan pembangunan jumlah BTS 4G yang digunakan dalam enam bulan pertama 2017. Yakni mencapai 55.700 unit pada akhir Juli 2017, dibandingkan dengan 26.000 pada akhir 2016.

Kemenkominfo juga mencatat, cakupan 4G sudah mencapai 257 kabupaten dan kota pada akhir Juli 2017. Naik dari 58 kota jika dibandingkan akhir 2016.

Sayangnya agresifitas membangun BTS seperti buah simalakama. Dalam jangka panjang, perluasan BTS 4G membuat operator punya daya saing yang lebih tinggi dibandingkan dengan pesaing.

Namun dalam jangka pendek dan menengah, gelontoran investasi yang tak sedikit, bisa membuat performa keuangan operator bolong-bolong. Terutama buat operator yang masih ‘gali lubang tutup lubang’.

Padahal dengan kompetisi yang terbilang keras, termasuk dengan para pemain OTT, operator sudah dihadapkan pada persoalan turunnya pendapatan dan laba yang signifikan, sehingga mempengaruhi EBITDA.

Oleh sebab itu, tender frekwensi yang digelar pemerintah pada Oktober 2017 lalu menjadi salah satu jawaban bagi operator yang sudah sangat membutuhkan tambahan frekwensi. Setidaknya hal itu dapat memperkuat kapasitas di kota-kota besar di Pulau Jawa yang kondisinya sudah nyaris ‘congest.

Seperti kita ketahui, pasca tender, Telkomsel resmi menjadi pemilik baru frekwensi 2.300 Mhz seluas 30 Mhz. Sedangkan Indosat Ooredoo dan Tri Hutchinson berhak atas masing-masing 5 Mhz di 2.100 Mhz.

Dengan tambahan frekuensi baru tersebut, ketiga operator bersiap untuk memperkuat layanan internet cepat, khususnya 4G LTE yang sudah penuh sesak di 900 Mhz dan 1.800 Mhz karena lonjakan konsumsi data dan konten. Seiring dengan perubahan perilaku pengguna yang mendadak berubah menjadi data hungry.

Menurut Danny Buldansyah, tambahan spektrum akan dipergunakan untuk memaksimalkan layanan mobile broadband Tri sejalan dengan rencana pemerintah untuk mewujudkan percepatan jaringan pita lebar.

“Kami harapkan ke depannya pemerintah dapat membuka kesempatan akan adanya teknologi maju lainnya yang dapat mendukung pertumbukan kebutuhan digital yang sangat pesat”, kata Wadirut Tri itu.

Kedepannya, tambah Danny, kebutuhan akan peningkatan kapasitas akan terus ada, mungkin spektrum lain yang bisa menunjang efesiensi industri dapat dipertimbangkan untuk dapat dibuka bagi industri telekomunikasi.

Senada dengan Danny Buldansyah, Dirut Telkomsel Ririek Adriansyah, mengatakan bahwa BTS LTE TDD yang mendukung layanan TDD 2,3 GHz secara bertahap akan digelar di area Jabodetabek yang memiliki tingkat kepadatan layanan data yang tinggi.

“Tambahan spektrum ini memungkinkan Telkomsel untuk memperkuat dan memaksimalkan kualitas layanan layanan 4G LTE bagi pelanggan, khususnya di wilayah-wilayah yang kapasitas penggunaan layanan datanya sudah padat”, ujar Ririek.

Ririek menambahkan, pada pertengahan Desember 2017, sebanyak 500 BTS LTE TDD akan tergelar tidak hanya di Jabodetabek namun juga di Palembang dan Bandung.

Sedangkan pada awal 2018, BTS LTE TDD akan digelar untuk menyasar kota-kota lainnya di seluruh Indonesia yang memiliki kepadatan akses layanan data yang cukup tinggi, imbuh Ririek.

Tingkatkan Daya Saing

Terlepas dari isu persaingan, komitmen operator dalam membangun BTS 4G, memang sangat dibutuhkan oleh pemerintah demi menggerakan ekonomi kreatif yang semakin tumbuh pesat belakangan ini.

Faktanya, jaringan internet sangat berperan penting dalam mengenalkan dan memasarkan produk industri kreatif. Pemasaran sistem online memiliki jangkauan sangat luas dan dalam waktu singkat.

Mengutip data 2016, industri kreatif menyumbang sekitar Rp 800 triliun atau 8% dari total produk domestik bruto (PDB). Industri ini juga mampu tumbuh rata-rata 5% tiap tahunnya. Dengan pencapaian tersebut, industri kreatif merupakan sektor keempat terbesar dalam penyerapan tenaga kerja.

Saat ini ada 16 sub sektor ekonomi kreatif yang akan terus berkembang di Indonesia, yaitu seni pertunjukan, seni rupa, televisi dan radio, aplikasi game, arsitektur, desain interior. Kemudian desain komunikasi visual, periklanan, musik, penerbitan, fotografi, desain produk, fashion, film animasi dan video, kriya, dan kuliner.

Namun sayangnya pengembangan tersebut terkendala oleh akses internet di Indonesia yang belum merata. Masih banyak wilayah lain di Indonesia yang belum tercover layanan mobile internet.

Berdasarkan Survei yang dilakukan oleh Asosiasi Penyelenggara Jaringan Internet Indonesia (APJII), pada 2016 penetrasi internet mayoritas masih berada di Pulau Jawa. Dari survei yang dipresentasikan oleh APJII itu tercatat sekitar 86,3 juta orang atau 65% dari angkat total pengguna internet tahun ini berada di Pulau Jawa.

Sedangkan sisanya adalah 20,7 di Sumatera (15,7%), 8,4 juta di Sulawesi (6,3%), 7,6 juta di Kalimantan (5,8%), 6,1 juta di Bali dan NTB (4,7%), 3,3 juta di Maluku dan Papua (2,5%).

Kondisi geografis dan besarnya investasi yang dikeluarkan untuk membangun akses telekomunikasi di daerah, menjadi alasan utama enggannya operator menghadirkan layanannya di daerah pelosok.

Alhasil, kebanyakan operator masih berkutat di kota-kota besar, khususnya di Pulau Jawa yang secara bisnis juga lebih menguntungkan. Sejauh ini hanya Telkomsel yang konsisten membangun ke daerah-daerah terpencil yang tidak feasible secara bisnis.

Padahal layanan 4G LTE juga dibutuhkan oleh masyarakat di pedesaan, yang memiliki potensi daerah seperti destinasi wisata dan potensi ekonomi. Hal ini agar destinasi wisata tersebut semakin dikenal di dunia internasional.

Terlebih lagi wisatawan lokal maupun dunia saat ini tengah mencari tempat wisata yang tidak mainstream. Dengan menggunakan media internet 4G LTE hal tersebut bisa dilakukan.

Masyarakat di pedesaan juga berhak merasakan pengalaman mobile digital lifestyle yang sesungguhnya. Khususnya bagi para pelaku usaha kecil atau UKM. Mereka bisa mulai memanfaatkan teknologi selular untuk memperluas jaringan marketing sekaligus meningkatkan daya saing, baik di pasar domestik maupun global.