SHARE

ConferoGelaran Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2017 yang tengah berlangsung sejak 10 hingga 20 Agustus mendatang di ICE BSD City, dijadikan kesempatan bagi pabrikan mobil asal China, SAIC-General Motors-Wuling (SGMW) untuk unjuk gigi. Tak tanggung-tanggung, Wuling memperkenalkan Confero dengan tujuh varian.

Yakni Confero, Confero S, Confero 1.5 C, dan Confero S 1.5 L. Untuk menarik minat konsumen, ketujuh mobil di segmen MVP itu ditawarkan dengan harga menggoda. Mulai yang termurah Rp 128,8 juta, hingga paling mahal cuma Rp 165,9 juta.
Selama pameran ini, Wuling juga memberikan penawaran khusus berupa cashback Rp 3 juta dan gratis biaya jasa, suku cadang, dan material hingga 2,5 tahun.

Kehadiran Wuling membuat kompetisi di pasar kendaraan multiguna semakin penuh sesak. Tak hanya Wuling, demi menggoyang dominasi Xenia Avanza, Mitsubishi Motor juga memperkenalkan jagoan barunya, yakni Xpander pada ajang yang sama. Meski demikian, Wuling yang sudah membenamkan dana investasi mencapai USD 700 juta, tetap optimis Confero dapat diminati pasar.

Pasalnya, rentang harga Rp 128-162 juta, adalah yang termurah di antara seluruh kendaraan multiguna yang dijual di Indonesia. Inilah yang menjadi daya pikat Wuling di Indonesia.

Harga Rp 128,8 juta untuk tipe terendah mobil 8 penumpang ini jauh di bawah harga kompetitor seperti Toyota Avanza, Daihatsu Xenia, Mitsubishi Xpander, dan Suzuki Ertiga. Tipe termurah dari kompetitor rata-rata berada di kisaran Rp 186 juta ke atas. Sementara, harga termahal Wuling Confero S hanya Rp 162,9 juta.

Harga Wuling Confero S tipe termurah bahkan lebih rendah dibanding harga mobil LCGC Toyota Calya Rp 135,1 juta.
Tentu saja, untuk bisa bersaing, MPV asal Negeri Tirai Bambu itu juga menawarkan banyak fitur yang menjadi kelebihan dibandingkan pesaingnya. Confero diklaim dirancang sesuai dengan kondisi di jalan dan selera masyarakat Indonesia.

Fitur tersebut di antaranya Tire Pressure Monitoring System (TPMS), dual airbags, smart key, charging port yang terdapat pada bangku depan, tengah dan belakang, sistem audio dengan layar 8 inci dengan kemampuan mirror link, serta peranti keselamatan yang terbilang lengkap, yakni Anti Lock Braking System (ABS), Electronic Brake Distribution (EBD), dan Isofix.

Di sisi performa, Wuling Confero S juga memiliki tenaga lebih besar dibandingkan para kompetitor. Dengan mesin empat-silinder segaris berkapasitas 1.500 cc Confero S ini sanggup menyemburkan tenaga sebesar 107 hp pada 5.800 rpm.
Perlu Waktu

Bagi pemain baru seperti Wuling, fitur berlimpah dibarengi dengan bandrol harga yang tak bikin kantong bolong merupakan senjata utama demi menarik minat konsumen. Apalagi di Indonesia, fanatisme merek terhadap mobil Jepang sangat kuat. Terbukti Toyota cs, mampu menguasai 80% pasar otomotif nasional.

Pertanyaannya, dengan harga yang terbilang paling murah itu, apakah Wuling akan segera diterima pasar. Tampaknya tidak semudah itu.

Seperti halnya produk elektronik, persepsi konsumen Indonesia terhadap produk otomotif China masih minus. Salah satunya karena kegagalan motor-motor buatan China yang tidak saja jeblok di kualitas, namun juga lemah dalam hal layanan purna jual.

Terbukti dengan persepsi yang masih minus itu, penjualan tiga pabrikan Mobil asal China, yakni Foton, Chery dan Geely sejauh ini belum menggembirakan. Padahal, ketiganya sudah hadir cukup lama di Indonesia. Chery pada 2006, Foton di 2009 dan Geely meluncur pada 2010.

Berkaca pada kasus Chery, Foton dan Geely, memang tidak mudah untuk membangun reputasi merek (brand equity). Diperlukan waktu yang lama untuk mencapai hal itu. Perusahaan pembuat mobil Jepang dan Korea Selatan telah mengalami hal itu. Keadaan yang sama juga berlaku di Indonesia.

Perusahaan-perusahaan mobil Jepang, seperti Toyota, Nissan (Datsun), Honda, Mitsubishi, Mazda, dan Daihatsu, yang masuk ke Indonesia pada akhir 1960-an dan awal 1970 mengalami hal itu.

Periode 1970-an, ketika pasar mobil Indonesia dikuasai oleh mobil-mobil buatan Amerika Serikat dan Eropa Barat, mobil-mobil buatan Jepang hanya dipandang sebelah mata. Pada masa itu bodi mobil Jepang tipis sehingga diejek berbodi kaleng kerupuk. Ejekan itu muncul untuk menggambarkan bahwa kualitas mobil Jepang tidak sebaik mobil Amerika Serikat atau mobil Eropa.

Harga jual yang murah tidak membuat mobil Jepang menjadi laku dijual, malahan dianggap sebagai pembenaran bahwa kualitasnya tidak sebaik mobil Amerika Serikat atau mobil Eropa.

Namun, seiring dengan perjalanan waktu, masyarakat akhirnya menerima bahwa mobil Jepang itu tidak kalah dibandingkan dengan mobil Amerika Serikat atau mobil Eropa.

Apalagi ketika bahan bakar minyak (BBM) sempat langka dan harganya meningkat, banyak orang yang menengok ke mobil-mobil Jepang, yang pada masa akhir tahun 1970-an dikenal irit BBM. Secara perlahan-lahan mobil-mobil Jepang mulai mendominasi pasar mobil Indonesia.

Pabrikan asal Korea Selatan, seperti Hyundai dan KIA, pun mengalami hal yang lebih kurang sama. Mobil-mobil Korea Selatan, yang masuk ke Indonesia pada pertengahan1990-an, masih sulit menyaingi mobil-mobil Jepang yang sudah hadir 20 tahunan lebih dulu.

Padahal dalam beberapa kasus, kualitas mobil Korea Selatan tidak kalah daripada pesaingnya dari Jepang, dijual dengan harga yang lebih murah. Memang pembeli mobil-mobil Korea Selatan bertambah dari tahun ke tahun, tetapi dari segi jumlah masih sangat jauh di bawah jumlah pembeli mobil Jepang.

Soal harga juga tidak sederhana. Meski dijual dengan harga lebih murah 20% hingga 30%, tidak serta merta membuat publik tertarik. Apalagi di Indonesia, murah dan bagus adalah dua kata yang bertentangan.

Di negara ini murah kerap diartikan jelek, dan sebaliknya, bagus itu selalu berarti mahal. Oleh karena itu, jika ada mobil yang dijual dengan harga murah, konsumen enggan menengokkan kepalanya, apalagi membelinya. Apalagi jika brandnya masih terdengar asing.

Belum lagi, di Indonesia banyak orang yang membeli mobil dengan tujuan berinvestasi atau juga untuk menyimpan uang. Itu sebabnya di negara ini laris tidaknya sebuah mobil sangat ditentukan oleh nilai harga jualnya kembali (resale value).

Mengacu pada kondisi tersebut, tentunya masih banyak yang harus dibuktikan oleh Wuling, jika ingin menapakkan kaki lebih dalam di pasar otomotif Indonesia. Hal-hal yang harus dibuktikan antara lain ketahanan mobil serta layanan purna jual, ketersediaan suku cadang, dan tak kalah penting adalah harga jual kembali.
Tanpa dapat membuktikan hal tersebut, sulit bagi Wuling dan pabrikan mobil asal China lainnya untuk mendapatkan pembeli yang besar di negeri ini.

Jelas, semua itu memerlukan waktu. Karena waktulah yang akan membuktikan apakah mobil China bakal diminati oleh masyarakat Indonesia, seperti halnya mobil-mobil asal Jepang.

Smartphone China
Jika merek-merek otomotif China masih harus berjuang untuk mengejar ketinggalan, khususnya dari pabrikan mobil Jepang, nasib lebih baik terjadi di pasar smartphone. Dalam lima tahun terakhir, vendor-vendor asal China semakin digdaya di Indonesia.

Mengacu pada laporan IDC, berturut-turut lima besar penguasa ponsel di Indonesia sepanjang 2016 adalah Samsung (32,2% ), disusul Oppo (16,7%), Asus (8,2%), Advan (6%), Lenovo (5,7%), dan selebihnya dikuasai merek lainnya.

Laporan bertajuk Quarterly Mobile Phone Tracker yang dirilis IDC mengungkapkan, pangsa pasar smartphone China semakin bertambah, dari 2015 sebesar 12 persen, menjadi 23% di tahun 2016, dan kini menjadi 31 persen di kuartal pertama 2017.

Pengiriman smartphone ke Indonesia tercatat mencapai 7,3 Juta unit di kuartal pertama 2017. Jumlah ini bertumbuh 13 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Merujuk pada kondisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa pasar smartphone di Indonesia telah berubah, vendor berbasis China semakin agresif dengan strateginya. Hebatnya, strategi itu tak hanya melalui lini produk, namun juga pada rencana dan aktivitas pemasarannya.

Inisiatif yang dilakukan vendor smartphone China yang rela menggelontorkan dana promosi dan penjualan yang besar, membuat para vendor smartphone lokal susah untuk bersaing karena keterbatasan sumber daya. Saat ini hanya terdapat Advan di posisi lima besar. Padahal pada awal 2015, masih ada Andromax yang bercokol di posisi dua besar.

Begitu pun dengan Asus. Vendor asal Taiwan ini, tak mampu mempertahankan market share yang sudah diraih secara susah payah. Pada akhir 2015, Asus sukses menyodok di peringkat kedua. Namun di 2016, pangsa pasar Asus tergerus sangat dalam, membuat Asus turun ke peringkat ketiga namun gap-nya dengan Oppo terbilang lebar.

Seperti air bah, agresifitas vendor China, seperti Oppo dan Vivo, terbilang gila-gilaan. Keduanya banyak berfokus pada aktivitas pemasaran below dan above the line marketing, seperti billboard, flyer, iklan TV, dan lainnya.

Semua dilengkapi dengan perekrutan brand ambassador, terdiri dari sederetan selebritas lokal muda populer, figur-figur yang digemari oleh target penggunanya. Selain itu mereka juga menambah jumlah tim pemasaran untuk mendorong penjualan lebih jauh di pasar.

Aryo Meidianto, Media Engagement, Oppo Indonesia ,Alinna WenXin, Brand Manager Oppo Indonesia.
Aryo Meidianto, Media Engagement, Oppo Indonesia ,Alinna WenXin, Brand Manager Oppo Indonesia.

Memang di antara vendor smartphone China, Oppo, dan Vivo adalah merek yang paling cepat menyeruak di pasar Indonesia. Padahal, baik keduanya belum terlalu lama hadir di Indonesia, yakni pada 2013 dan 2014.

Namun dalam waktu yang relatif singkat, keduanya mampu mengobrak-abrik tatanan pasar. Meski bandrol Oppo dan Vivo terbilang tak murah. Dengan kisaran harga Rp 3 – 6 juta, mereka mampu bersaing karena berbagai inisiatif pemasaran, insentif menarik dan margin lebih besar untuk channel partner, sekaligus berupaya meningkatkan layanan purna jual demi memperbaiki stigma negatif smartphone China.

Hal ini telah menetapkan standar baru untuk para pesaing, baik vendor global dan lokal. Mau tak mau mereka harus menambahkan lebih banyak kegiatan pemasaran, agar dapat menyesuaikan dengan standar persaingan yang baru yang telah diciptakan oleh Oppo dan Vivo.

Jelas bahwa keberhasilan membangun pasar dalam waktu singkat merupakan buah dari kejelian dan ekesekusi strategi vendor-vendor China melihat peluang pasar di Indonesia.

Diakui oleh Edy Kusuma, Brand Manager Vivo Indonesia, sejak hadir di Indonesia empat tahun silam, Edy melihat bahwa mindset konsumen di Tanah Air kini sudah berubah tentang smartphone asal China.

Edy-Kusuma-Vivo

“Dulu mayoritas menganggap remeh, tapi sekarang tidak lagi. Terbukti dari hasil laporan IDC yang menempatkan Vivo sebagai merek ponsel terbesar nomor 5 di Indonesia setelah Oppo, itu berarti mereka sudah percaya dengan produk kami,” pungkas Edy.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here