SHARE

MerzaJakarta, Selular.ID – Direktur Utama Smartfren Telecom Merza Fachys dianugerahi penghargaan Life Time Achievement dalam ajang Selular Award 2017, yang berlangsung di Balai Kartini, Jakarta (15/5/2017).

Penghargaan yang sama pernah diberikan SMG kepada Mantan Direktur Utama XL Axiata Hasnul Suhaimi, pada ajang Selular Award 2015.
Tim panel Selular Media Group (SMG) menilai bahwa Merza layak menyandang anugerah tersebut, karena kontribusi yang ia berikan untuk kemajuan industri telekomunikasi di Tanah Air.

Pria berkumis ini juga merupakan sosok yang konsisten berkiprah di industri ini sejak lebih dari tiga dekade lalu. Mulai dari era telepon tetap, jaringan satelit, analog dan digital, prabayar, sampai era media sosial, Merza selalu menjadi bagian dari evolusi industri telekomunikasi tanah air.

Bercokol sebagai orang nomor satu Smartfren, Merza terbilang “sepuh” dalam menjalani karir di industri telekomunikasi. Bagaimana tidak, sejak lulus dari jurusan Elektro ITB pada 1980, hingga kini ia masih berkutat di bidang yang ia cintai. Total sudah 35 tahun Merza terjun di industri dan masih aktif berkarya.

“Sejak lulus sampai sekarang, saya selalu dan hanya (berkecimpung) di telko. Tidak pernah berpindah hati,” ujar pria yang dianugerahi empat orang anak.

Pertama mulai karir, ia langsung memasuki industri dengan bergabung di PT INTI (industri telekomunikasi Indonesia), satu-satunya BUMN yang bergerak di bidang industri telekomunikasi. Merza ditempatkan di sebuah pabrik berlokasi di Bandung yang merancang dan menciptakan alat-alat telekomunikasi. Proyek pertamanya adalah membuat komunikasi data lewat satelit palapa. Merza berbakti di PT INTI selama 16 tahun.

Kemudian Merza pindah ke raksasa telekomunikasi dari Jerman, Siemens. Merza direkrut karena dinilai memahami jaringan dan perangkat teknologi yang menjadi bisnis inti Siemens di Indonesia. “Saya adalah satu-satunya GM kulit begini, yang lainnya bule,” tuturnya mengenang.
Di sana, ia masih berkutat di industri yang sama, memproduksi alat-alat telekomunikasi. Namun setelah Siemens melakukan merger dengan vendor jaringan Nokia pada 2006, ia memutuskan untuk mengundurkan diri. Total pengabdiannya menghabiskan masa hidup 10 tahun di perusahaan asal Jerman tersebut.

Petualangannya berpindah peran ketika menapaki PT Mobile-8 pada tahun 2007. Kalau dulu membuat jaringan telko, lalu merancang perangkat telko, maka di sini, Merza dituntut memasarkan produk telko. Saat bergabung, perusahaan tengah memperkenalkan layanan 3G pada jaringan CDMA EVDO.

Kemudian terjadilah merger antara Fren (Mobile 8) dan Smart Telecom (Sinar Mas Group). Kedua operator CDMA itu melebur menjadi Smartfren Telecom pada 2010. Merza pun ditunjuk sebagai direktur jaringan. Karir Merza terus melaju dan puncaknya pada pertengahan 2015, ia dipercaya oleh pemegang saham sebagai Presiden Direktur di PT Smartfren Telecom Tbk, menggantikan Rodolfo Pantoja.

Menjadi orang nomor satu di Smarfren merupakan tantangan yang tak ringan bagi Merza. Pasalnya, hyper competition membuat ruang bertumbuh operator di Indonesia sudah sangat sempit. Namun era data yang tumbuh dalam beberapa tahun terakhir memberikan kesempatan bagi Smartfren untuk mengejar ketinggalan dari the big three (Telkomsel, Indosat Ooredoo dan XL Axiata)

Menurut Merza, evolusi telekomunikasi Indonesia terakhir adalah konten mobile dan aplikasi. Kendati jaringan selular sudah memasuki generasi keempat, adalah konten yang menjadi raja. Sebab, tanpa adanya konten menarik, konsumen akan enggan berpindah ke 4G.

Untuk itu, Smartfren sebagai penyedia jaringan sudah melakukan tugasnya, terus mengembangkan jaringan dan penetrasi ke seluruh wilayah Indonesia. Namun adalah tugas semua komunitas untuk turut menyemarakkan era 4G dengan konten yang menarik. Merza berharap, semua sektor bisa bekerjasama untuk memberikan layanan yang terbaik bagi pelanggan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here