Sabtu, Oktober 31, 2020
Beranda News Siap-siap Bakal Ada Perang Tarif Jilid 2

Siap-siap Bakal Ada Perang Tarif Jilid 2

-

Jakarta, Selular.ID – Pada periode tahun 2007 dan 2008, perang tarif sempat mewarnai dinamika industri telekomunikasi selular di negeri ini.  Selama periode tersebut, tarif komunikasi yang diberikan para operator, bisa dikatakan tidak masuk akal. Bahkan ada operator yang mengeluarkan tarif, di bawah Rp 1. Kondisi itu akhirnya menciptakan iklim industri yang tidak sehat.

Pada akhirnya perang tarif selesai, hal tersebut ditandai dengan tarif komunikasi yang mulai kembali ke angka yang masuk akal.

Setelah lama berlalu, indikasi kembali terjadinya perang tarif di bisnis selular kembali menyeruak kepermukan. Adanya kemungkinan perang harga jilid dua, tidak lepas dari langkah beberapa operator yang mulai menurunkan tarif.

Petama Indosat Ooredoo mulai mengobral tarif pembicaraan antar operator dengan program Rp 1 perdetik mulai pertengehan tahun ini. Tak ingin kalah bersaing dengan Indosat, kini XL mengeluarkan program Rp 59 permenit untuk telpon semua operator.

Meski perang tarif saat ini hanya terbatas hanya berlaku di wilayah luar Jawa, namun kondisi tersebut pasti bisa berdampak negatif bagi pihak perusahaan. Pernyataan ini disampaikan langsung, Leonardo Henry Gavaza CFA, analis saham PT Bahana Securities.

Dalam keterangan resminya, Leonardo, menganalisis, perang tarif yang dilakukan operator saat ini, memiliki pola yang hampir mirip seperti saat periode 2007 hingga 2008.

“Beda dulu adu murah hanya di level onnet (dalam satu operator), namun kini sudah menjalar ke offnet (beda operator),” terangnya

Lebih lanjut dirinya bertutur, langkah beberapa operator yang mulai menurunkan tarif, tidak lepas dari kebijakan pemerintah yang ingin melakukan revisi PP 52/53 tahun 2000.

“Menurut saya tujuan pemerintah melakukan revisi PP 52/53 tahun 2000 untuk menciptakan kompetisi dengan konsep persaingan harga. Hal tersebut sudah bisa dirasakan saat ini,” ucapnya.

“Jadi bisa dikatakan rencana revisi PP 52/53 tahun 2000 yang bikin heboh ini, memang ditujukan untuk mensupport kebijakkan perang tarif,” terang Leonardo.

Sementara itu Kahlil Rowter, Chief Economist Danareksa Research Institute,  menilai, adu murah tarif telekomunikasi yang terjadi saat ini, merupakan strategi untuk mendapatkan pelanggan baru di suatu wilayah.

“Meski tarif murah ini sekilas akan menguntungkan konsumen, namun jika terus dilakukan dalam jangka waktu yang lama dan masiv. Bisa dipastikan akan ada operator yang mengalami kerugian,” paparnya.

“Bahkan tidak menutup kemungkinan akan ada operator telekomunikasi yang ‘gulung tikar’ akibat tak mampu bertahan di perang tarif ini,” tuntasnya.

Latest