Saturday, November 23, 2019
Home News Survey: 8 dari 10 Konsumen Indonesia Yakin Bakal Alami Kejahatan Online

Survey: 8 dari 10 Konsumen Indonesia Yakin Bakal Alami Kejahatan Online

-

choonJakarta, Selular.ID – Norton oleh Symantec mengungkap hasil temuannya yang tertuang dalam Norton Cybersecurity Insight Report. Dalam laporan tersebut terungkap kenyataan dari kejahatan online dan efek personalnya terhadap konsumen.

Di Indonesia, misalnya, 55% konsumen percaya bahwa informasi kartu kredit mereka lebih mungkin dicuri setelah belanja online daripada dari dompet mereka. Sekitar 6 dari 10 (59%) orang Indonesia percaya menggunakan Wi-Fi publik lebih berisiko daripada menggunakan toilet umum. Selain itu, 42% pengguna internet telah mengalami sendiri kejahatan cyber dalam satu tahun terakhir.

Seperti diutarakan Choon Hoon Chee, Director, Asia Consumer, Norton by Symantec, penjahat cyber tidak menyerah.
Menurut Choon, mereka (penjahat cyber) menggunakan teknik yang semakin canggih untuk mencuri informasi pribadi konsumen, seperti password, informasi kontak, dan otentifikasi perbankan untuk mengisi pundi-pundi mereka.

“Sementara konsumen di Indonesia beradaptasi dengan dunia digital yang cepat berkembang, kami mendorong mereka untuk mengambil langkah-langkah proaktif untuk melindungi informasi mereka secara online dan tidak pernah merasa puas dengan keamanan,” tandasnya.

Lalu, siapa yang bertengger di puncak daftar orang-orang yang paling menyadari langkah keamanan online di Indonesia? Generasi Baby Boomers, yakni kelompok yang sering dianggap kurang melek teknologi, melaporkan kebiasaan aktivitas online-nya lebih aman dibandingkan dengan generasi Millennial, dengan hanya 19% responden mengakui telah berbagi password. Lahir di era digital, generasi Millennial, justru harus sering berhati-hati dengan 47% orang yang mengaku telah berbagi password dan melakukan aktivitas online lainnya yang berisiko.

[nextpage title=”Konsumen Frustasi dengan Kejahatan Cyber”]Konsumen Frustasi dengan Kejahatan Cyber
Konsumen Indonesia kehilangan sekitar 33 jam waktunya selama satu tahun terakhir untuk berurusan dengan dampak dari kejahatan online dan uang senilai 7,6 juta rupiah per korban—dengan akumulasi sebesar 194,603,7 miliar rupiah. Kerugian terbesar dari hal ini adalah ketika kejahatan cyber menyebabkan kerugian dari segi emosional kepada 5 dari 10 orang (52 persen) korban konsumen kejahatan cyber di Indonesia yang merasa marah setelah menjadi korban.

Lebih lanjut, di Indonesia:

  • Lebih dari 8 dari 10 (82 persen) responden mengatakan mereka akan merasa terpukul jika informasi keuangan pribadi mereka bocor.
  • Sekitar 6 dari 10 (64 persen) responden percaya bahwa berurusan dengan konsekuensi kehilangan identitas lebih menimbulkan stres daripada duduk di sebelah bayi yang menjerit di pesawat (45 persen) atau mempersiapkan presentasi kerja (41 persen)

[nextpage title=”Percaya Diri Berlebih, Namun Kurang Persiapan”]Percaya Diri Berlebih, Namun Kurang Persiapan
Meskipun peduli dan sadar terhadap kejahatan cyber, konsumen terlalu percaya diri dengan perilaku keamanan online mereka. Ketika diminta untuk menilai langkah-langkah keamanan mereka, secara konsisten mereka memberi nilai “A”. Namun pada kenyataanya, sebagian besar tidak melakukan tindakan dasar keamanan online: penggunaan password. Di Indonesia:

  • 70% percaya bahwa berbagi password email mereka dengan teman lebih beresiko daripada meminjamkan mobil mereka (30%), namun setengah dari mereka justru membagikan password.
  • Di antara mereka yang menggunakan password, hanya 4 dari 10 (45%) responden selalu menggunakan password yang aman—kombinasi dari setidaknya delapan huruf, angka dan simbol. Orang-orang berbagi password untuk akun online yang sensitif dengan teman dan keluarga. Di antara mereka yang membagikan password, hampir satu dari empat (21%) berbagi password untuk akun perbankan mereka, dan rata-rata mereka menggunakan password yang sama untuk dua akun, umumnya untuk email (58 persen), media sosial (57 persen), dan TV / media (11 persen).

Tips Terbaik Norton untuk Tetap Aman Ketika Online

  • Pilih password yang unik, cerdas, dan aman untuk setiap akun online yang anda miliki. Untuk tips tentang bagaimana melakukan ini, klik di sini.
  • Hapus email dari pengirim yang  tidak Anda kenal, dan jangan klik lampiran atau link pada email yang terlihat mencurigakan.
  • Jika terdapat tawaran yang nampak terlalu menarik pada situs media sosial, hal itu mungkin saja berbahaya. Waspadalah terhadap perangkap untuk mengklik link dari situs media sosial. Sebelum mengklik, arahkan mouse ke link untuk melihat tujuannya. Hanya klik pada link yang mengarah ke halaman perusahaan terkemuka dan resmi.
  • Selalu pantau akun rekening keuangan Anda terkait aktivitas yang tidak biasa. Jika ada transaksi yang Anda rasa tidak pernah Anda lakukan, segera laporkan. Seringkali penjahat cyber akan melakukan “tes” transaksi dalam jumlah kecil sebelum mencoba untuk menguras rekening bank Anda.
  • Jangan menunda menginstal software keamanan seperti Norton Security  dan memperbaruinya secara teratur.
  • Gunakan solusi backup aman untuk melindungi file dan backup secara teratur sehingga penjahat tidak dapat menggunakannya sebagai tebusan.
  • Laporkan kejahatan cyber ke polisi dalam bidang cyber maupun polisi lokal jika Anda telah terkena kejahatan cyber atau pencurian identitas.

Latest