Monday, October 21, 2019
Home Insight Meski Jadi Tren, Big Data Belum Akan Diimplementasikan

Meski Jadi Tren, Big Data Belum Akan Diimplementasikan

-

Ilustrasi: connexica.com
Ilustrasi: connexica.com

Jakarta, Selular.ID – Dalam pprediksi tren teknologi yang dikeluarkan oleh berbagai lembaga dan institusi teknologi, big data menjadi salah satu tren yang akan terjadi di tahun 2015 ini. namun bagaimanakah kesiapan perusahaan dalam menghadapi tren ini?

Qlik, salah satu pemain pasar dalam data discovery menggarisbawahi apa yang tersedia di pasar untuk business intelligence (BI) di tahun 2015 dan dalam prediksinya juga menempatkan big data dalam salah satu tren yang bakal terjadi di tahun ini.

“Hari ini, kita hidup di dunia di mana cara manusia berinteraksi dengan data berubah dengan cepat dan sebagian besar menuju kearah yang lebih baik. Pekerjaan menjadi sarana ekspresi diri; gagasan bahwa ada sekelompok kecil orang dalam organisasi yang membuat semua keputusan sudah tidak lagi berlaku,” jelas Terry Smagh, Vice President Qlik Asia.

Lebih lanjut, Terry mengatakan bahwa pengambilan keputusan didistribusikan ke seluruh organisasi dan ‘keputusan mikro’ ini penting bagi keberhasilan keseluruhan bisnis. Potensi manfaat bagi organisasi akan sangat besar jika kita mampu memberikan layanan mandiri alat discovery data kepada lebih banyak orang untuk mengeksplorasi data dan berkolaborasi sesuai wawasan mereka.

Namun demikian menurut Terry sebagian besar perusahaan akan berbicara tentang big data, tetapi tidak melakukannya. Ada peluang nyata bagi bisnis untuk memanfaatkan big data. Tapi kebanyakan, departemen TI yang dimiliki perusahaan belum memiliki keterampilan atau waktu untuk menerapkan infrastruktur baru karena masih bergulat untuk memelihara beban kerja yang ada.

Sementara itu sebagian besar pemimpin bisnis memiliki pemahaman yang relatif dangkal tentang apa yang Big Data dapat lakukan untuk perusahaannya. Apa yang mereka pahami hampir selalu menyertakan “meningkatkan media sosial” sebagai tujuan utama.

Menurutnya sebuah organisasi dapat mencapai banyak manfaat dengan alat analisis sentimen yang ada atau penghubung media sosial. Mengintegrasikan media sosial ke dalam analisis yang ada sangat bermanfaat dan relatif sederhana. “Tentu tidak berarti Big Data tidak sedang menuju ke arah kita. Memperoleh keterampilan dan, jika mungkin, pengalaman. Namun, organisasi belum waktunya memensiunkan database relasional mereka,” jelasnya.

Jika Big Data adalah buzzword di tahun 2014, visualisasi berada pada posisi tidak jauh di belakangnya. Masalahnya, terlalu banyak visualisasi yang benar-benar terlibat dalam pengambilan keputusan yang lebih baik. Alasannya adalah karena ada banyak kekurangan yang secara teknis tidak ada dalam sistem mereka.

Masalahnya, secara paradoks, adalah bahwa visualisasi seperti yang digunakan hari ini bisa terlalu meyakinkan. Menurut Terry banyak visualisasi mengurangi informasi yang ditampilkan dengan “mengklarifikasi” kepada orang lain sesuatu yang telah kita ketahui. Di sisi lain, terjadi pengurangan percakapan dan argumen, sehingga mengurangi kemampuan kita untuk mengetahui kebenaran dari sebuah situasi.

Solusinya adalah dengan menghindari alat yang hanya memberikan grafik untuk presentasi atau berbagi. Kita harus menggunakan alat yang benar-benar interaktif dan eksploratif. Tidak hanya menjadi “pengguna akhir”; setiap orang dalam organisasi dapat memiliki wawasan yang penting.

Latest