3 August 2014 13:00
Beberapa vendor mencoba untuk memproduksi ponselnya di Indonesia. Meski masih ada beberapa kendala yang mengganjalBisnis ponsel di Tanah Air diprediksikan masih akan terus tumbuh. Terutama pasar smartphone. Mengingat pasar Indonesia yang masih didominasi feature phone, sehingga menyimpan potensi permintaan smartphone yang tinggi. Karena bakal terjadi migrasi dari pengguna feature phone ke smartphone. Saat ini besarnya pangsa pasar (market size) ponsel di Indonesia jauh melebihi pasar industri elektronika secara keseluruhan (TV, Kulkas, AC, mesin cuci,dll). Namun ironisnya belum ada satu pabrik ponsel pun yang berdiri. Berbeda dengan produk elektronik yang sudah memiliki beberapa pabrik di Indonesia, baik itu merek internasional maupun lokal.

Sebenarnya sejak tahun 2011, ponsel merek lokal IMO yang bekerjasama dengan PT INTI sudah berupaya melakukan produksi dalam negeri. Namun ternyata di tahun 2012 produksi tersebut mandek. Belakangan, beberapa vendor lain mencuatkan asa yang sama untuk memproduksi ponsel di Tanah Air. Polytron contohnya yang sudah mengoperasikan pabrik ponselnya sejak akhir 2013. Pabrik yang berlokasi di Kudus, Jawa Tengah ini memiliki kapasitas produksi hingga 100 ribu unit ponsel per bulan. “Pabrik Polytron akan memproduksi feature phone sebanyak 30% dan 70% lainnya smartphone” ujar Usun Pringgodigdo, General Manager Polytron Mobile Phone

Langkah sejalan juga ditempuh vendor merek lokal lainnya, Evercoss, yang sejak akhir 2013  lalu, sudah memulai membangun pabrik ponsel senilai Rp 1 triliun di Semarang, Jawa Tengah. “Tahun ini kami sudah siap untuk produksi. ” kata Chief Marketing Officer (CMO) Evercoss Djanto Djojo. Masih menurut Djanto Djojo, tahap awal pabrik ini mampu memproduksi sekitar 5 – 6 ribu unit ponsel per bulan. “Kami main di harga kelas menengah. Dan Sekitar 20% produksi pertama diharapkan bisa masuk pasar ASEAN “kata Edward.  Tidak ingin kalah langkah, PT Erajaya Swasembada, selaku distribusi dan retail handset, serta pemegang ponsel merek lokal Venera, juga berencana membangun pabrik ponsel Venera di dalam negeri. Begitu juga dengan merek lokal Advan, juga berencana untuk mendirikan pabrik ponsel sendiri.

Beberapa vendor luar negeri pun mulai berkenan untuk mendirikan pabriknya di Indonesia. Seperti Haeir, vendor asal China ini berencana membangun pabrik di Indonesia yang berlokasi di Cikarang Jawa Barat dan bisa beroperasi akhir 2014. “Kita harapkan pembangunan pabrik di Indonesia bisa lebih efisien soal biaya pengiriman produk yang sebelumnya dilakukan dari China” ujar Kevin. Selain itu juga ada FoxCon, produsen yang biasa memproduksi produk Apple, juga sempat mengungkapkan niatnya untuk membangun pabrik di Indonesia. Meski hingga kini belum juga terrealisasi.

Upaya beberapa vendor yang sudi membangun pabrik ponsel di dalam negeri, patut mendapat apresiasi. Meski kenyataannya pabrik ini masih sebatas merakit dan mengemas ponsel. Chief Marketing Officer (CMO) Evercoss Djanto Djojo menambahkan,  pabrik Evercoss ini akan lebih difokuskan untuk melakukan proses perakitan perangkat. Sedangkan untuk parts tetap masih akan bekerjasama dengan manufaktur yang berbasis di China. ” Kita belum bisa produksi beberapa jenis parts sendiri,” lanjut Djanto. Begitu juga dengan Haeir yang diungkapkan oleh Kevin Jap, Country Manager Haier Indonesia, bahwa pabrik Haier di Indonesia akan menangani perakitan dan pengemasan, sementara waktu komponen masih dikirim dari luar negeri. Menurut Direktur Pemasaran Advan, Tjandra Lianto hal ini dikarenakan produsen komponen elektronik di Tanah Air masih minim. “Paling dari dalam negeri hanya mensuply box  dan casing,” tambah Tjandra Lianto.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin ) mengharapkan komponen lokal untuk ponsel sudah tersedia pada 2016. Menurut Kemenperin, hampir semua komponen ponsel bisa diproduksi di Indonesia. “Bahkan ada perusahaan yang sudah produksi panel layar sentuh di Tangerang” ujar Direktur Industri Elektronika dan Telematika Kementerian Perindustrian, Triharso. Kemenperin menurut Triharso, mencoba untuk mengajak para vendor dan pemasok komponen dalam negeri untuk berkolaborasi. Selain masalah komponen pendukung, hal lain yang perlu juga menjadi perhatian yaitu masalah pengaturan tata import handset untuk mengatasi masuknya ponsel-ponsel illegal yang bisa mematikan produksi dalam negeri. (Edi Kurniawan)

 

Sumber : Majalah Selular Edisi Agustus 2014