Selular.ID -

Setelah 3G, Haruskah Operator Selular Juga Matikan 2G?

BACA JUGA

Uday Rayana
Uday Rayana
Editor in Chief

Selular.ID – Sejak pertama diluncurkan secara komersial sesuai standar GSM oleh operator telekomunikasi Radiolinja (sekarang bagian dari Elisa) pada 1991 di Finlandia, jaringan 2G dengan cepat menyebar ke seluruh dunia.

Meluasnya 2G menjadi penanda kemajuan industri selular, sekaligus mendorong terjadinya revolusi digital lebih dari empat dekade kemudian.

Namun, seiring dengan berkembangnya teknologi 4G dan 5G yang membutuhkan tambahan frekwensi, terutama untuk menyediakan akses data, sejumlah operator di berbagai belahan dunia, mulai merampingkan operasi dengan dengan menghentikan layanan 2G.

Tercatat sejumlah negara menjadi pelopor penghentian layanan 2G sepenuhnya. Seperti Singapura, Australia, Norwegia, Swiss, dan Belanda.

Di Singapura, tiga operator selular di negara itu, SingTel, StarHub dan M2,  telah menutup jaringan 2G mereka pada pertengahan April 2017, setelah proses peralihan yang terbilang singkat. Hanya sekitar tiga minggu saja.

Pada Desember 2016, operator selular terbesar Australia, Telstra menutup jaringan 2G, yang beroperasi lebih dari 23 tahun.

Tonton juga:
Video Rekomendasi Untuk Anda

Sebelumnya, pesaing terdekat Optus (dimiliki oleh Singtel) lebih dulu berhenti menawarkan layanan 2G pada awal April. Langkah yang sama juga dilakukan Vodafone Australia pada akhir 2017.

Pada awal Juli 2017, Taiwan bergabung dalam daftar negara di mana operator selular menghentikan layanan 2G mereka.

The China Post melaporkan bahwa, meskipun tersisa 90.000 pelanggan (0,3 persen dari 31 juta koneksi mobile), tiga operator setempat, yakni Chunghwa Telecom, Taiwan Mobile dan Far EasTone, telah resmi menghentikan layanan di jaringan 2G mereka, kecuali untuk panggilan darurat.

Di Jepang, NTT Docomo adalah operator pertama yang mematikan 2G pada 2011. Para pesaingnya dengan cepat mengikuti sang pemimpin pasar itu.

Meski begitu, SoftBank, operator terbesar ketiga di negeri sakura itu, masih mempertahankan 3 juta pengguna telepon genggam pribadi atau PHS (2G) sejak mengakuisisi Willcom pada 2010.

Seiring dengan meningkatnya kebutuhan akan internet cepat, bola salju kematian 2G terus berlanjut.

Di Amerika Serikat, T-Mobile secara resmi mematikan jaringan GSM 2G-nya pada 3 Agustus 2026, menjadikannya operator besar terakhir di AS yang melakukan langkah tersebut setelah AT&T dan Verizon lebih dulu menghentikan layanan serupa.

Di Swedia, Tele2 dan Telenor merampungkan penghentian jaringan 2G/3G mereka, persis pada 1 Desember 2025.

Langkah yang sama juga terjadi di Jerman. Deutsche Telekom telah menjadwalkan penghentian total layanan 2G pada musim panas 2028.

Dua pesaing terdekatnya, Telefónica Deutschland berencana mematikan layanan 2G pada paruh kedua 2028, sedangkan Vodafone menjadwalkan penutupan jaringan 2G mulai September 2028.

Bagaimana dengan China? Sebagai negara dengan jumlah pengguna ponsel terbesar di dunia, China secara bertahap menghentikan penggunaan jaringan 2G.

Operator-operator utama secara aktif mematikan layanan lama tersebut atau merencanakan penghentian total.

China Mobile saat ini masih mengoperasikan sebagian jaringan GSM 2G lamanya, meskipun jadwal penarikan dan penutupan bertahap secara menyeluruh sedang berjalan, dengan target yang mencakup hingga akhir 2026.

Di Hong Kong, China Mobile Hong Kong secara resmi telah menyelesaikan penutupan jaringan 2G pada 23 Juni 2026.

China Unicom telah secara aktif menghentikan dan membongkar jaringan GSM 2G/3G dalam beberapa tahun terakhir guna mengalokasikan ulang spektrum untuk layanan 4G dan 5G.

Operator besar lainnya, China Telecom juga secara resmi menghentikan layanan CDMA/2G dan 3G-nya pada akhir Desember 2023.

Meskipun sejumlah BTS di wilayah terpencil, perangkat IoT (Internet of Things), dan modul machine-to-machine (M2M) lama mungkin masih bergantung pada sinyal 2G di wilayah daratan tertentu, tren menunjukkan bahwa era 2G secara aktif sedang berakhir di seluruh China.

Berbeda dengan China, India malah terkesan santai. Sejauh ini pemerintah India tidak mengharuskan kapan 2G sepenuhnya tak lagi digunakan.

Tak ada road map spesifik, mengingat jumlah pengguna layanan 2G masih terbilang besar, mencapai sekitar 200 juta hingga 300 juta pengguna aktif.

Menariknya, di tengah tren kematian 2G, sejumlah negara masih tetap mempertahankan teknologi tersebut. Turki bahkan memberikan perpanjangan izin hingga 2029.

Langkah berbeda malah ditempuh oleh Arab Saudi. Negara kerajaan yang tengah berperang dengan kelompok Houthi di Yaman itu, tetap mempertahankan dukungan layanan 2G tanpa batas waktu.

Saat ini berdasarkan laporan GSMA, lebih dari 20 negara di seluruh dunia belum memiliki rencana resmi untuk menghentikan layanan tersebut karena masih bergantung pada teknologi lama seperti M2M/IoT, eCall, meteran utilitas, dan juga terminal pembayaran.

Baca Juga: Biaya Verifikasi Biometrik Kartu SIM Baru Kemahalan, ATSI Beri Usul

Ilustrasi terkait Namun

Rencana Penghentian 2G Sudah Mengemuka Sejak Era Rudiantara

Di Tanah Air, perdebatan apakah layanan 2G masih layak digunakan atau sebaiknya dimatikan, sejatinya sudah mengemuka sejak awal 2017.

Tak tanggung-tanggung, usulan agar teknologi selular generasi kedua itu,  tak lagi digunakan operator Indonesia, disuarakan langsung oleh Menkominfo (saat itu) Rudiantara.

Menteri yang akrab dipanggil Chief RA itu, mengatakan korban dari hadirnya 4G di Indonesia adalah 2G. Ia bahkan meminta layanan 2G dihapus demi kelancaran dan efisiensi industri teknologi.

“Perlu diingat ya, bukan saya anti jaringan 2G. Tapi saya lebih ke arah pro efisiensi industri telekomunikasi di Indonesia”, kata Rudiantara dalam sebuah forum di Jakarta (25/04/2017).

Namun permintaan Rudiantara tidak langsung ditanggapi. Para petinggi operator selular, terutama the big three (Telkomsel, XL Axiata, Indosat) memilih untuk berhati-hati, mengingat jumlah pelanggan 2G mereka masih cukup besar. Alih-alih mematikan 2G, ketiganya  lebih memilih menutup 3G.

Presiden Direktur XL Axiata (saat itu) Dian Siswarini mengatakan bahwa mempertahankan 2G jauh lebih baik daripada 3G. Kelak 2G hanya dikhususkan untuk basic service, yakni SMS dan telepon saja, sedangkan data dialihkan ke 4G.

Menurutnya, 3G adalah teknologi yang ‘banci’ sekaligus ‘nanggung’. Karena 3G sendiri memiliki kualitas suara telepon yang buruk dan kecepatan yang kurang afdol. Apalagi saat 5G telah dikomersilkan, 3G dipastikan makin tidak berguna.

Senada dengan Dian, CEO Indosat Ooredoo (saat itu), Alexander Rusli mengatakan bahwa 3G tidak lebih baik untuk layanan suara ketimbang 2G. Ia menyarankan kepada pemerintah untuk lebih baik mematikan 3G jika tujuan akhirnya berupa efisiensi.

Di sisi lain, Dirut Telkomsel (saat itu) Ririek Adriansyah, tak menampik bahwa tren ke depan layanan data akan menjadi revenue stream baru.

Menurut Ririek, layanan dasar seperti voice dan SMS memang akan terus menurun, namun tidak sepenuhnya akan hilang.

“Di negara-negara yang sudah established sekali pun, voice masih dipertahankan. Bahkan di beberapa negara lebih memilih mematikan 3G dibandingkan 2G. Jadi mereka lebih memilih 2G dan 4G. Teknologi 3G lebih susah di-manage karena mudah shrinking”, ujar Ririek.

Menurut Ririek, tren penghentian layanan di sejumlah negara tidak bisa dijadikan ukuran untuk mematikan 2G. Di Singapura misalnya, penetrasi smartphone terbilang tinggi namun wilayahnya tidak terlalu luas.

“Kecuali ada yang ingin kasih smartphone gratis. Kalau pun mencari pembanding harus setara. Kondisi geografis, perilaku masyarakat, profile pengguna ponsel nya seperti apa”, ujar Ririek.

Bahkan di Jakarta saja, imbuh Ririek, masih banyak pengguna 2G, karena penetrasi pengguna smartphone di Ibu Kota belum sepenuhnya mencapai 100%.

Alih-alih memperdebatkan 2G atau 3G, pihaknya lebih mempercepat upaya transformasi yang tengah dijalankan Telkomsel.

Yakni, dari telco company ke digital telco company sesuai dengan trend dan pergeseran pengguna yang lebih banyak memanfaatkan layanan data, dalam menunjang aktifitas komunikasi sehari-hari.

Faktanya, setelah polemik tersebut, jaringan 3G akhirnya dimatikan sepenuhnya oleh operator selular di Indonesia.

Telkomsel resmi merampungkan suntik mati dan penonaktifan total jaringan 3G di 504 kota/kabupaten di seluruh Indonesia pada Juni 2023.

Indosat Ooredoo Hutchison (IOH) telah lebih dulu menyelesaikan penghentian total sinyal 3G secara bertahap hingga ke wilayah Jabodetabek dan daerah lainnya sejak akhir 2022.

Sedangkan XL Axiata juga telah mengalihkan dan menonaktifkan sebagian besar hingga seluruh layanan 3G mereka seiring migrasi ke jaringan 4G.

Namun berbeda dengan 3G, layanan 2G masih tetap dipertahankan oleh operator untuk keperluan layanan telepon suara (voice call) dan perangkat berbasis Internet of Things (IoT) tertentu.

Baca Juga: Menkomdigi Tantang Operator Seluler Ciptakan AI, ATSI: Kami Pakai Untuk Efisiensi

Ilustrasi terkait Namun

ATSI dan Komdigi Masih Membahas Road Map Penghentian 2G

Kini hampir satu dekade sejak polemik itu mengemuka, Indonesia masih menggunakan jaringan 2G, meskipun pihak berwenang dan operator telekomunikasi sedang aktif mengkaji rencana untuk menghentikan penggunaannya secara bertahap.

Saat ini jaringan 2G yang dioperasikan tiga operator tersisa (Telkomsel, Indosat Ooredoo Hutchison, XLSmart) masih aktif di seluruh negeri.

BTS 2G tersebut terutama terletak di wilayah pedesaan dan wilayah timur, termasuk wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar), tempat banyak orang masih menggunakan ponsel fitur (feature phone) sederhana.

Ponsel-ponsel fitur bermerek Nokia dan Samsung model candy bar  yang terlihat jadul, masih marak digunakan oleh masyarakat setempat.

Hingga pertengahan 2026, Indosat misalnya, masih mempertahankan dan mengoperasikan sekitar 50.000 BTS 2G.

Jumlah BTS 2G sebanyak itu untuk melayani kebutuhan dasar seperti panggilan suara (voice) dan SMS, khususnya di wilayah pedesaan atau daerah yang belum sepenuhnya bermigrasi ke perangkat 4G.

Begitu pun dengan Telkomsel yang masih mengoperasikan sekitar 49 ribu BTS 2G dari total kurang lebih 301 ribu BTS hingga akhir semester I-2026.

Sementara XLSmart masih memiliki 49.471 BTS 2G. Namun seiring dengan strategi optimalisasi jaringan pasca-merger, operator hasil merger XL Axiata dengan Smartfren itu, secara bertahap mengurangi jumlah menara BTS 2G miliknya melalui proses shutdown klaster demi klaster untuk dialihkan (refarming) ke jaringan yang lebih efisien seperti 4G dan 5G.

Masih besarnya jumlah BTS 2G sejalan dengan jumlah pengguna. Menurut catatan ATSI (Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluruh Indonesia),  sekitar 29 juta pelanggan selular (kira-kira 8% hingga 10% dari total pengguna) masih mengandalkan 2G untuk layanan dasar.

Mengingat basis pelanggan yang masih cukup besar, penghentian layanan 2G diputuskan secara bertahap, sehingga tanggal resmi penghentian layanan 2G secara nasional belum ditetapkan.

Saat ini ATSI dan Kementerian Komdigi sedang mengadakan diskusi awal untuk menghentikan layanan 2G.

Ketua ATSI Marwan O. Baasir mengatakan, penghentian 2G perlu dipersiapkan sebagai bagian dari upaya mempercepat transformasi digital.

“Kita masih membahas di tahap awal ke pemerintah. Karena kan sebetulnya kalau ekosistem digital dikejar dan dipercepat, tentunya kita harus mulai mempersiapkan diri. Kira-kira kapan dan insentif program apa yang akan dilakukan,” kata Marwan.

Menurut Marwan, salah satu tujuan penghentian jaringan 2G adalah mengoptimalkan penggunaan spektrum frekuensi pada pita 900 MHz.

Spektrum yang selama ini digunakan untuk layanan 2G tersebut nantinya dapat direalokasikan untuk mendukung teknologi telekomunikasi yang lebih sesuai dengan perkembangan kebutuhan digital, termasuk 4G dan 5G.

Namun, proses peralihan tidak bisa dilakukan secara langsung karena masih cukup banyak masyarakat yang menggunakan telepon selular generasi lama atau feature phone.

Baca Juga: Kemkomdigi Minta Operator Perkuat Perlindungan Sisa Kuota

- Advertisement 1-

BERITA TERKAIT

BERITA PILIHAN

BERITA TERBARU