Selular.ID – Pemerataan jaringan internet di Indonesia masih menghadapi tantangan besar, terutama tingginya biaya pembangunan infrastruktur telekomunikasi di luar kawasan perkotaan.
Menjawab persoalan tersebut, PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (Mitratel) mendorong pemanfaatan infrastruktur bersama atau shared infrastructure agar operator seluler dapat memperluas jaringan dengan investasi lebih efisien.
Anak usaha PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk tersebut mengandalkan 40.563 menara telekomunikasi dan jaringan serat optik sepanjang 59.239 kilometer yang dimiliki hingga semester pertama 2026.
Infrastruktur tersebut menjadi modal Mitratel untuk mendukung percepatan pembangunan jaringan sekaligus memperluas akses internet ke wilayah yang belum terlayani secara optimal.
Baca juga:
- 11 Saham Teknologi dan Ekosistem Digital Terancam Terdepak dari IHSG, Ada Mitratel hingga Blibli
- Telkom Latih Guru di 100 Sekolah 3T Lewat BISA PandAI Numerasi
Strategi ini disampaikan Direktur Operasi dan Pembangunan Mitratel, Hastining Bagyo Astuti, dalam Sovereign Tech Summit 2026 yang menjadi bagian dari Bali Tech Week 2026 di Denpasar, Kamis (22/10/2026).
Mitratel Dorong Operator Berbagi Infrastruktur
Hastining mengatakan pembangunan infrastruktur telekomunikasi tidak cukup hanya berfokus pada penambahan jumlah menara dan jaringan.
Menurutnya, pemanfaatan infrastruktur yang sudah tersedia juga harus dioptimalkan agar investasi industri dapat memberikan manfaat lebih luas.
“Pemerataan konektivitas digital membutuhkan pendekatan yang tidak hanya berfokus pada pembangunan infrastruktur, tetapi juga pada bagaimana infrastruktur tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal untuk menjangkau lebih banyak masyarakat,” ujar Hastining.
Melalui skema shared infrastructure, beberapa operator telekomunikasi dapat memanfaatkan infrastruktur yang sama tanpa harus membangun seluruh fasilitas secara terpisah.
Pendekatan tersebut berpotensi menekan kebutuhan belanja modal, mengurangi duplikasi pembangunan, dan mempercepat perluasan jaringan.
“Melalui shared infrastructure, kami ingin mendorong ekosistem konektivitas yang lebih efisien, inklusif, dan berkelanjutan, sehingga manfaat transformasi digital dapat dirasakan secara lebih merata di seluruh Indonesia,” lanjutnya.
40.563 Menara dan Fiber Optik 59.239 Kilometer
Mitratel memiliki salah satu portofolio infrastruktur telekomunikasi terbesar di Indonesia.
Hingga semester pertama 2026, perusahaan mencatat kepemilikan 40.563 menara yang tersebar di berbagai wilayah Tanah Air.
Selain menara, Mitratel juga mengembangkan jaringan fiber optik sepanjang 59.239 kilometer.
Kombinasi kedua infrastruktur tersebut dinilai penting untuk mendukung kebutuhan operator dalam meningkatkan kapasitas jaringan dan memperluas layanan digital.
Jaringan fiber optik berperan sebagai penghubung berkapasitas tinggi yang mendukung lalu lintas data dari infrastruktur telekomunikasi.
Sementara itu, menara menjadi salah satu fasilitas utama untuk menempatkan perangkat jaringan seluler.
Pemanfaatan bersama kedua infrastruktur tersebut dapat membantu operator memperluas cakupan layanan tanpa harus menanggung seluruh biaya pembangunan secara individual.
Mitratel Tak Mau Hanya Jadi Perusahaan Menara
Seiring meningkatnya kebutuhan konektivitas, Mitratel juga mulai memperluas model bisnisnya.
Perusahaan bertransformasi dari penyedia menara telekomunikasi konvensional menjadi Next-Generation Tower Company yang menawarkan ekosistem infrastruktur digital terintegrasi.
Selain layanan menara, Mitratel mengembangkan bisnis fiber connectivity dan penyediaan daya melalui skema Power as a Service.
Pengembangan tersebut diarahkan untuk membantu operator meningkatkan kapasitas jaringan sekaligus mempercepat implementasi layanan digital.
“Aspirasi Mitratel tidak berhenti pada pembangunan dan pengelolaan menara telekomunikasi. Kami ingin menjadi bagian penting dari ekosistem konektivitas digital Indonesia melalui penyediaan infrastruktur yang terintegrasi, andal, dan berkelanjutan,” kata Hastining.
Menurutnya, kolaborasi dengan operator telekomunikasi, pemerintah, dan pelaku industri menjadi faktor penting agar perluasan konektivitas tidak hanya terpusat di kawasan ekonomi utama.
Pemerataan Internet Tak Bisa Hanya Mengandalkan Kota Besar
Dalam kesempatan yang sama, Expert Team Asosiasi Pengembang Infrastruktur dan Menara Telekomunikasi (Aspimtel), Alif Bajara, menyoroti pentingnya dukungan pemerintah daerah dan kepastian investasi.
Menurutnya, pemerataan jaringan internet tidak akan tercapai apabila pembangunan infrastruktur hanya diarahkan ke wilayah yang secara komersial sudah menguntungkan.
“Pemerataan konektivitas nasional tidak dapat dicapai hanya dengan mengandalkan pembangunan jaringan di wilayah yang secara ekonomi sudah matang,” ujar Alif.
Ia menilai pengembangan jaringan di daerah dengan tantangan keekonomian membutuhkan kolaborasi lebih luas antara pemerintah, operator, dan penyedia infrastruktur.
Pemanfaatan infrastruktur bersama juga perlu didukung kebijakan yang kondusif agar investasi telekomunikasi dapat menjangkau wilayah yang selama ini kurang menarik secara komersial.
“Pemanfaatan shared infrastructure, didukung kepastian investasi dan kebijakan yang kondusif, dapat menjadi salah satu kunci untuk mempercepat pemerataan akses digital di Indonesia,” tegasnya.
Berbagi Infrastruktur Jadi Kunci Efisiensi Investasi
Tingginya kebutuhan investasi jaringan telekomunikasi membuat efisiensi pembangunan menjadi semakin penting bagi operator.
Selain memperluas cakupan 4G, industri juga menghadapi kebutuhan peningkatan kapasitas jaringan untuk mendukung perkembangan layanan digital dan teknologi 5G.
Dalam kondisi tersebut, skema berbagi menara, fiber optik, dan infrastruktur pendukung dapat menjadi salah satu solusi untuk mengoptimalkan belanja modal.
Namun, keberhasilannya tetap membutuhkan kepastian regulasi, kerja sama antarpelaku industri, dan model bisnis yang layak bagi penyedia maupun pengguna infrastruktur.
Dengan dukungan lebih dari 40 ribu menara dan hampir 60 ribu kilometer jaringan fiber optik, Mitratel berupaya menjadikan shared infrastructure sebagai salah satu strategi untuk mempercepat pemerataan internet nasional.
Tantangan berikutnya adalah memastikan efisiensi investasi tersebut benar-benar menghasilkan perluasan jaringan, peningkatan kualitas layanan, serta akses internet yang lebih terjangkau bagi masyarakat di berbagai daerah Indonesia.


