Selular.ID – Telkom Indonesia menghadirkan program BISA PandAI Numerasi untuk memperkuat kemampuan matematika dan sains siswa di 100 sekolah dasar di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Melalui program tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL) TelkomGroup ini, perusahaan menyasar sekolah di Kabupaten Lebak, Banten; Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat; dan Kota Tual, Maluku, dengan menggabungkan pelatihan guru, perangkat pembelajaran, serta pendampingan praktik belajar interaktif.
Program yang diluncurkan melalui kegiatan kick-off pada Oktober 2026 ini dirancang untuk membantu guru menerapkan pembelajaran numerasi dan Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM).
Pendekatan tersebut mendorong siswa memahami konsep matematika dan sains melalui praktik langsung, eksperimen, serta proyek yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari.
Berdasarkan Rapor Pendidikan Indonesia 2025 yang dikutip Telkom, proporsi siswa SD/MI yang mencapai kompetensi minimum numerasi meningkat dari 39,04% pada 2022 menjadi 52,48% pada 2024.
Meski terjadi peningkatan, penguatan kemampuan numerasi masih menjadi perhatian dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan dasar.
Direktur Human Capital Management Telkom, Willy Saelan, mengatakan penguatan numerasi dan STEM penting untuk mempersiapkan generasi muda menghadapi perkembangan teknologi dan kebutuhan masa depan.
Menurutnya, upaya tersebut tidak cukup hanya dengan menyediakan perangkat pembelajaran, tetapi juga perlu disertai peningkatan kapasitas guru dan penerapan metode belajar yang sesuai.
“Melalui BISA PandAI Numerasi, kami tidak hanya mendukung penyediaan perangkat pembelajaran, tetapi juga memperkuat kapasitas guru dan mendorong pembelajaran yang interaktif dan aplikatif,” ujar Willy.
Pelatihan Guru dan Praktik STEM di Kelas
BISA PandAI Numerasi merupakan bagian dari program TJSL TelkomGroup dalam payung Bersama Jadi BISA.
Inisiatif ini menggabungkan pelatihan dan pendampingan guru dengan penyediaan perangkat pembelajaran numerasi dan STEM untuk mendukung kegiatan belajar yang lebih aplikatif.
Program tersebut diawali dengan pengenalan inisiatif dan penguatan kapasitas guru selama 17 hari melalui Training of Trainers (ToT), yakni pelatihan bagi tenaga pendidik agar mampu menerapkan metode pembelajaran yang telah dipelajari.
Setelah tahap tersebut, guru menerapkan metode belajar di kelas selama dua bulan.
TelkomGroup juga menyediakan STEM lab kit bagi sekolah peserta.
Perangkat ini digunakan untuk membantu siswa mengeksplorasi konsep matematika dan sains melalui kegiatan praktis dan proyek yang relevan dengan keseharian mereka.
Pada minggu ke-12, program dijadwalkan menggelar STEM Challenge Day.
Kegiatan ini menjadi ruang bagi guru dan siswa untuk memperlihatkan hasil pembelajaran serta proyek berbasis STEM yang telah dikembangkan selama program berlangsung.
Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan melalui Teacher Champion, yang mendorong guru berbagi pengalaman dan praktik pembelajaran yang dinilai bermanfaat.
Melalui pertukaran pengalaman tersebut, metode belajar inovatif diharapkan dapat diterapkan secara lebih luas di lingkungan sekolah peserta.
Program ini berlangsung selama kurang lebih tiga bulan. Pelaksanaan dilakukan secara bertahap agar pelatihan tidak berhenti pada penyampaian materi, tetapi berlanjut ke praktik di kelas dan evaluasi perkembangan pembelajaran.
Menjangkau Lebak, Lombok Utara, dan Kota Tual

Peluncuran BISA PandAI Numerasi dilakukan melalui kegiatan hibrida yang berpusat di Plasa Telkom Rangkasbitung, Banten.
Pendidik di Kota Tual dan Kabupaten Lombok Utara mengikuti kegiatan tersebut secara daring.
Acara peluncuran dihadiri Willy Saelan serta Prof. Maila Dinia Husni Rahiem, M.A., Ph.D., Staf Khusus Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Bidang Peningkatan STEM dan Kompetensi Guru.
Maila mengapresiasi pendekatan program yang menggabungkan pelatihan numerasi dan STEM dengan pendampingan serta praktik langsung di kelas.
Ia menekankan bahwa keberhasilan program pendidikan perlu dilihat dari perubahan proses belajar dan perkembangan kemampuan siswa, bukan hanya jumlah peserta pelatihan.
“Kami berharap keberhasilan program ini tidak hanya diukur dari jumlah guru yang mengikuti pelatihan, tetapi juga dari perubahan praktik pembelajaran dan perkembangan kemampuan murid,” ujar Maila.
Pernyataan tersebut menyoroti pentingnya evaluasi dalam program penguatan kapasitas guru.
Pelatihan menjadi salah satu tahap, sedangkan penerapan metode baru dan perkembangan kompetensi siswa menjadi aspek lanjutan yang perlu diperhatikan.
Dengan cakupan 100 sekolah dasar di tiga wilayah, BISA PandAI Numerasi menyasar pemerataan kesempatan belajar melalui penguatan kompetensi pendidik dan dukungan sarana pembelajaran.
Namun, hasil program tetap perlu dilihat melalui pelaksanaan di sekolah dan evaluasi dampak terhadap kemampuan numerasi siswa.
Telkom Kaitkan Program dengan Pendidikan Berkualitas

TelkomGroup menyatakan keberhasilan BISA PandAI Numerasi tidak hanya diukur dari jumlah sekolah penerima manfaat atau perangkat yang disalurkan.
Perusahaan juga menempatkan pemanfaatan sarana, peningkatan kompetensi guru, dan perkembangan kemampuan numerasi siswa sebagai bagian penting dari evaluasi program.
Pendekatan ini menempatkan pendampingan implementasi sebagai komponen yang berjalan bersama penyediaan fasilitas.
Perangkat pembelajaran perlu digunakan dalam kegiatan kelas, sementara guru membutuhkan dukungan untuk menerapkan metode yang sesuai dengan kebutuhan siswa.
Program tersebut juga menjadi bagian dari kontribusi TelkomGroup terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) nomor 4, yaitu Pendidikan Berkualitas.
Fokusnya adalah mendukung kesempatan belajar yang lebih baik melalui penguatan proses pembelajaran di sekolah dasar.
TelkomGroup menempatkan BISA PandAI Numerasi sebagai salah satu inisiatif dalam payung Bersama Jadi BISA untuk mendukung pendidikan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Perusahaan menyatakan akan memperhatikan pemanfaatan perangkat, pengembangan kemampuan guru, serta perkembangan siswa sebagai bagian dari upaya menjaga keberlanjutan manfaat program.
Melalui rangkaian pelatihan, praktik kelas, dan pendampingan selama sekitar tiga bulan, program ini menghubungkan dukungan teknologi pembelajaran dengan peningkatan kapasitas tenaga pendidik.
Dampaknya akan bergantung pada penerapan metode tersebut di sekolah serta hasil evaluasi kemampuan numerasi siswa setelah mengikuti pembelajaran.


