Selular.ID -

IMF Peringatkan Tsunami AI: 40% Pekerjaan Terancam Berubah, Anak Muda Jadi Korban

BACA JUGA

Selular.ID – Dana Moneter Internasional (IMF) memperingatkan ancaman besar kecerdasan buatan (AI) terhadap pasar tenaga kerja global.

Teknologi tersebut diperkirakan akan memengaruhi sekitar 40% pekerjaan di seluruh dunia, dengan generasi muda yang baru memasuki dunia kerja menjadi kelompok paling rentan terdampak.

Direktur Pelaksana IMF, Kristalina Georgieva, menggambarkan perubahan pasar tenaga kerja akibat AI sebagai tsunami yang bergerak lambat.

Menurutnya, dampak otomatisasi berbasis AI mungkin tidak langsung terlihat secara dramatis.

Baca juga:

Namun, perubahan tersebut berpotensi mengikis peluang kerja secara bertahap, terutama untuk posisi tingkat pemula.

“Yang paling perlu dikhawatirkan adalah kaum muda yang memasuki pasar kerja,” kata Georgieva, dikutip dari Fortune, Minggu (18/10/2026).

Tonton juga:
Video Rekomendasi Untuk Anda

Peringatan ini muncul ketika perusahaan di berbagai sektor semakin agresif mengadopsi AI untuk meningkatkan produktivitas dan menekan biaya operasional.

IMF: AI Bakal Mengubah 40% Pekerjaan Global

IMF memperkirakan sekitar 40% pekerjaan di dunia akan terdampak perkembangan kecerdasan buatan.

Namun, angka tersebut bukan berarti 40% pekerjaan akan langsung hilang. Sebagian pekerjaan justru dapat berkembang, sementara lainnya mengalami perubahan tugas atau berkurang akibat otomatisasi.

Dampak terbesar diperkirakan terjadi di negara-negara maju, khususnya pada pekerjaan dengan keterampilan menengah yang memiliki banyak tugas rutin.

Georgieva menjelaskan bahwa pekerja muda umumnya mengawali karier dengan pekerjaan administratif atau aktivitas berulang sebelum memperoleh pengalaman untuk menduduki posisi lebih tinggi.

Masalahnya, jenis pekerjaan tersebut termasuk yang paling memungkinkan untuk diotomatisasi menggunakan AI.

“Singkirkan mitos bahwa AI mengurangi permintaan tenaga kerja. Yang terjadi adalah AI menggeser permintaan tenaga kerja saat ini. Itu mungkin tidak akan terjadi di masa depan,” ujar Georgieva.

Perubahan kebutuhan tenaga kerja tersebut berpotensi menciptakan kesenjangan antara keterampilan lulusan baru dan kebutuhan perusahaan.

Lulusan Baru Semakin Sulit Mendapat Pekerjaan

Kekhawatiran serupa disampaikan Presiden Singapura, Tharman Shanmugaratnam.

Ia menyoroti semakin terbatasnya kesempatan kerja bagi lulusan universitas yang baru memasuki pasar tenaga kerja.

Berdasarkan data yang dilaporkan The Straits Times, proporsi lulusan universitas di Singapura yang mendapatkan pekerjaan penuh waktu turun dari 79,4% pada 2024 menjadi 74,4% pada 2025.

Penurunan tersebut mencapai lima poin persentase hanya dalam satu tahun.

“Langkah pertama dalam dunia kerja, pekerjaan pertama Anda setelah lulus, kini mengalami penurunan permintaan,” kata Shanmugaratnam.

Menurutnya, kesulitan memperoleh pekerjaan pertama tidak hanya berdampak terhadap pendapatan, tetapi juga menghambat kesempatan generasi muda membangun keterampilan profesional.

Jika persoalan tersebut berlangsung terlalu lama, lulusan baru berisiko kehilangan pengalaman kerja yang penting untuk perkembangan karier mereka.

“Kita kehilangan serangkaian atribut tak berwujud, dan kita kehilangan kepercayaan pada masa depan,” ujarnya.

Meski demikian, penurunan tingkat penyerapan lulusan di Singapura belum dengan sendirinya membuktikan bahwa AI merupakan penyebab utamanya.

Bos OpenAI Akui AI Belum Menggantikan Pekerja Secepat Perkiraan

Di tengah kekhawatiran tersebut, sejumlah pemimpin perusahaan teknologi memiliki pandangan berbeda mengenai kecepatan AI menggantikan manusia.

CEO OpenAI, Sam Altman, mengakui bahwa AI belum menghilangkan pekerjaan kerah putih tingkat pemula secepat yang sebelumnya ia perkirakan.

“Saya senang ternyata saya salah,” kata Altman dalam wawancara pada Mei lalu.

Sementara itu, CEO Anthropic, Dario Amodei, menilai otomatisasi AI berpotensi mengubah komposisi pekerjaan sekaligus meningkatkan produktivitas perusahaan.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga menyampaikan pandangan optimistis bahwa perkembangan AI pada akhirnya dapat menciptakan lebih banyak lapangan kerja dibandingkan jumlah pekerjaan yang dihilangkan.

Perbedaan pandangan tersebut menunjukkan bahwa dampak jangka panjang AI terhadap ketenagakerjaan masih menjadi perdebatan.

Indonesia Perlu Bersiap Menghadapi Gelombang AI

Bagi Indonesia, peringatan IMF menjadi perhatian penting di tengah semakin luasnya penggunaan AI dalam aktivitas bisnis, pendidikan, dan layanan digital.

Pekerjaan administratif, pengolahan data, layanan pelanggan, hingga produksi konten merupakan beberapa bidang yang berpotensi mengalami perubahan cara kerja akibat otomatisasi.

Namun, perkembangan AI juga membuka kebutuhan keterampilan baru, mulai dari analisis data, pengembangan perangkat lunak, keamanan siber, hingga pengelolaan sistem AI.

Georgieva menekankan pentingnya pemerintah menyesuaikan sistem pendidikan agar pekerja dapat terus meningkatkan kemampuan sepanjang karier.

Ia juga mengingatkan bahwa gangguan pasar tenaga kerja berpotensi menekan penerimaan pajak dan memperburuk kondisi keuangan pemerintah apabila tidak diantisipasi.

Karena itu, peningkatan keterampilan digital dan program pelatihan ulang menjadi semakin relevan, khususnya bagi mahasiswa serta lulusan baru.

Peringatan IMF menegaskan bahwa ancaman terbesar AI bukan semata-mata hilangnya pekerjaan, melainkan perubahan kebutuhan tenaga kerja yang berlangsung lebih cepat daripada kemampuan pekerja beradaptasi.

Tanpa kesiapan pendidikan dan pengembangan keterampilan, generasi muda berisiko menjadi kelompok yang paling kesulitan memperoleh pekerjaan di tengah percepatan adopsi kecerdasan buatan.

- Advertisement 1-

BERITA TERKAIT

BERITA PILIHAN

BERITA TERBARU