Selular.ID – Pengguna ChatGPT kini perlu lebih berhati-hati ketika menyalin teks hasil kecerdasan buatan (AI).
Pasalnya, OpenAI mulai menerapkan teknologi watermark atau tanda air tak terlihat yang memungkinkan teks buatan ChatGPT dan Codex diidentifikasi sebagai konten hasil AI.
Teknologi tersebut diperkenalkan sebagai bagian dari upaya meningkatkan transparansi penggunaan AI sekaligus memenuhi ketentuan regulasi di Uni Eropa.
Berbeda dengan watermark pada gambar yang biasanya terlihat secara visual, tanda air pada teks AI disisipkan melalui pola statistik tertentu sehingga tidak dapat dikenali hanya dengan membaca tulisan.
Baca juga:
- Jensen Huang: Kerjasama AS dan China Mutlak Dilakukan Agar Teknologi AI Berkembang Secara Aman
- 10 HP Murah dengan Kamera OIS Terbaik 2026, Ada Samsung hingga Xiaomi
Mengutip TechRadar, Selasa (20/10/2026), OpenAI berencana menerapkan sistem tersebut pada teks ChatGPT dan Codex yang memenuhi persyaratan di wilayah Uni Eropa.
Namun, penerapan watermark ini belum berlaku secara global untuk seluruh pengguna ChatGPT.
OpenAI Sisipkan Watermark Tak Terlihat di ChatGPT
OpenAI mengumumkan bahwa teknologi watermark akan mulai diterapkan secara bertahap pada teks yang dihasilkan ChatGPT dan Codex di Uni Eropa.
“Dalam beberapa minggu ke depan, kami menambahkan tanda air tidak terlihat pada teks ChatGPT dan Codex yang memenuhi syarat di Uni Eropa,” kata OpenAI dalam pengumumannya awal Oktober.
Untuk menjalankan mekanisme tersebut, OpenAI menggunakan sistem bernama textGrain.
Teknologi ini bekerja dengan menambahkan sinyal statistik tersembunyi pada pilihan teks yang dihasilkan model AI.
Dengan pendekatan tersebut, teks tetap terlihat normal bagi pengguna, tetapi memiliki pola tertentu yang dapat diperiksa menggunakan alat pendeteksi khusus.
Artinya, pengguna tidak dapat mengetahui keberadaan watermark hanya dengan melihat tampilan teks di layar.
Teks Hasil AI Bisa Terdeteksi Meski Disalin
Kehadiran watermark membuka kemungkinan identifikasi teks yang dibuat menggunakan ChatGPT, termasuk ketika hasilnya disalin ke dokumen atau platform lain.
Namun, kemampuan pendeteksian tersebut memiliki sejumlah keterbatasan.
OpenAI mengakui bahwa sistem watermark dan alat pendeteksinya belum sepenuhnya akurat.
Teks yang terlalu pendek, memiliki jumlah karakter terbatas, atau telah mengalami penyuntingan dapat menjadi lebih sulit diidentifikasi.
Karena itu, keberadaan watermark tidak berarti setiap tulisan yang dibuat menggunakan ChatGPT pasti dapat dideteksi.
Sebaliknya, hasil pemeriksaan juga tidak boleh langsung dianggap sebagai bukti mutlak bahwa sebuah tulisan dibuat oleh AI.
Detektor Watermark ChatGPT Belum Tersedia untuk Umum
Meski teknologi watermark mulai diperkenalkan, OpenAI belum menyediakan alat pendeteksinya secara terbuka kepada masyarakat.
Untuk saat ini, akses detektor hanya diberikan kepada sejumlah peneliti dan organisasi ahli yang memenuhi persyaratan.
Pihak yang ingin menggunakan alat tersebut harus mengajukan permohonan akses kepada OpenAI.
Perusahaan menyatakan keputusan untuk tidak merilis detektor secara publik berkaitan dengan risiko kesalahan identifikasi.
Selain itu, OpenAI menegaskan bahwa alat pendeteksi tidak dirancang untuk mengungkap identitas pengguna maupun isi percakapan yang digunakan untuk menghasilkan teks.
“Alat itu tidak akan mendeteksi pengguna atau membuka prompt yang digunakan atau percakapan,” jelas OpenAI.
Dengan demikian, watermark ditujukan untuk membantu mengenali asal-usul teks, bukan untuk membongkar identitas pembuatnya.
Claude Sudah Terapkan Watermark Secara Global
Langkah OpenAI mengikuti kebijakan Anthropic yang lebih dahulu menerapkan teknologi watermark pada chatbot Claude.
Anthropic disebut telah menghadirkan mekanisme tersebut sejak awal 2026.
Berbeda dengan OpenAI yang membatasi penerapan awalnya pada pengguna di Uni Eropa, Anthropic menerapkan fitur serupa secara global.
Kedua perusahaan mengembangkan teknologi identifikasi konten AI di tengah meningkatnya tuntutan transparansi terhadap penggunaan kecerdasan buatan.
Regulasi AI Uni Eropa menjadi salah satu pendorong pengembangan mekanisme yang memungkinkan konten sintetis dikenali sebagai hasil teknologi AI.
Pengguna ChatGPT di Indonesia Bakal Terkena Dampaknya?
Untuk saat ini, penerapan watermark teks ChatGPT dan Codex yang diumumkan OpenAI masih difokuskan pada wilayah Uni Eropa.
Belum ada kepastian apakah perusahaan akan memperluas sistem tersebut ke Indonesia maupun negara lain.
Meski demikian, kebijakan tersebut menunjukkan bahwa perusahaan pengembang AI semakin serius membangun mekanisme identifikasi konten digital.
Bagi pengguna yang memanfaatkan ChatGPT untuk membuat artikel, tugas, laporan, maupun dokumen pekerjaan, teknologi watermark menjadi pengingat pentingnya transparansi penggunaan AI.
Namun, watermark bukan mekanisme yang otomatis melarang pengguna menyalin atau memanfaatkan teks hasil ChatGPT.
Yang perlu dipahami, teknologi ini memungkinkan teks AI dikenali melalui sinyal tersembunyi, tetapi akurasi pendeteksiannya masih memiliki keterbatasan, terutama pada tulisan pendek atau yang telah disunting.
Ke depan, penerapan watermark berpotensi menjadi bagian penting dari upaya membedakan konten buatan manusia dan hasil kecerdasan buatan di ruang digital.


