Selular.ID – CEO Nvidia, Jensen Huang, mengatakan bahwa perusahaan pembuat chip tersebut “mutlak harus” bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan AI asal China untuk memantau risiko terkait teknologi yang “berpotensi berbahaya” ini.
“Kita mutlak harus bekerja sama agar dapat memajukan teknologi ini dengan cara yang aman,” ujarnya dalam sebuah sesi pengarahan media di London pada Rabu (14/10).
Diskusi mengenai keamanan AI telah menguat dalam beberapa bulan terakhir, setelah para peneliti dari berbagai laboratorium AI—termasuk OpenAI dan Anthropic—menyerukan perlambatan dalam pengembangan teknologi tersebut serta memperingatkan adanya risiko eksistensial bagi umat manusia.
Sementara Sam Altman dari OpenAI dan Dario Amodei dari Anthropic menyerukan regulasi yang lebih ketat, Huang justru muncul sebagai tokoh terkemuka yang menentang pandangan tersebut.
Huang mengatakan bahwa “dialog” merupakan cara untuk menjalin kerja sama dengan perusahaan-perusahaan kecerdasan buatan (AI) asal China. Ia menambahkan bahwa dirinya telah “melakukan dialog dengan banyak peneliti di China”.
“Kita perlu meningkatkan dialog tersebut. Amerika Serikat harus melakukannya. Saya juga menyarankan agar Inggris melakukan hal yang sama”, ujarnya.
Baca Juga: Saat Jensen Huang “Kehilangan” Salah Satu Jaket Kulit Kesayangannya
Keamanan AI telah menjadi topik utama dalam hubungan antara pemerintah Amerika Serikat dan China, di mana kedua negara tengah mempertimbangkan cara untuk menangani risiko yang muncul akibat teknologi yang berkembang pesat ini.
Sebelum pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping, Menteri Keuangan AS Scott Bessent mendiskusikan prospek “dialog AI AS-China” dengan mitranya dari China, He Lifeng, pada September lalu.
Diskusi tersebut mencakup pembentukan saluran komunikasi untuk menangani insiden yang “mencakup tingkat keamanan nasional.”
Berdasarkan keterangan pihak China mengenai pertemuan tersebut, Presiden Xi menyatakan bahwa meskipun China dan AS “mungkin memiliki persaingan, mereka justru bisa lebih banyak bekerja sama” dalam bidang AI.
“Kedua belah pihak dapat melanjutkan dialog mengenai AI, bertukar pandangan tentang risiko dan manfaatnya, serta bersama-sama mencegah penyalahgunaan AI,” ujar Xi, sebagaimana tercantum dalam keterangan tersebut.
Huang berpendapat bahwa Inggris berada dalam posisi yang tepat “di kancah global untuk menjadi penyelenggara berbagai dialog” terkait AI, mengingat negara tersebut memiliki “modal intelektual” yang mumpuni.
Baca Juga: Saat Jensen Huang Jadi Jembatan Meredakan Konflik Dagang AS – China


