Selular.ID – Telkom Indonesia melalui TelkomGroup menyalurkan bantuan kesehatan berupa paket masker medis dan vitamin bagi masyarakat serta petugas di wilayah terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan.
Bantuan tersebut disalurkan pada pertengahan September 2026 melalui program TelkomGroup Peduli Bencana Karhutla 2026, dengan sasaran wilayah Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Barat.
Program ini ditujukan untuk membantu memenuhi kebutuhan kesehatan dasar masyarakat di tengah kondisi kabut asap akibat karhutla.
Selain masyarakat yang tinggal di wilayah terdampak, bantuan juga menyasar petugas yang menjalankan aktivitas di lapangan selama penanganan kebakaran dan dampaknya.
Senior General Manager Social Responsibility Telkom Indonesia, Hery Susanto, mengatakan penyaluran bantuan tersebut merupakan bagian dari komitmen TelkomGroup untuk mendukung masyarakat ketika menghadapi bencana dan kondisi darurat.
Perusahaan berharap bantuan masker medis dan vitamin dapat membantu memenuhi kebutuhan dasar warga dan petugas di wilayah terdampak.
“TelkomGroup berupaya hadir bersama masyarakat, termasuk ketika terjadi bencana dan kondisi darurat seperti karhutla. Melalui bantuan masker medis dan vitamin ini, kami berharap dapat mendukung pemenuhan kebutuhan kesehatan dasar masyarakat dan petugas di wilayah terdampak,” ujar Hery dalam keterangan resmi perusahaan.
TelkomGroup Perkuat Respons Sosial di Wilayah Terdampak
Penyaluran bantuan di tiga provinsi Kalimantan tersebut merupakan bagian dari program tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL) TelkomGroup. Melalui program ini, perusahaan berupaya memberikan dukungan langsung kepada masyarakat yang menghadapi dampak bencana, termasuk gangguan terhadap aktivitas sehari-hari akibat kabut asap.
Masker medis menjadi salah satu bentuk bantuan yang disalurkan untuk mendukung kebutuhan perlindungan dasar masyarakat selama kondisi berasap. Sementara itu, vitamin diberikan sebagai bagian dari dukungan kesehatan bagi warga dan petugas di lapangan.
Meski demikian, masker medis tidak selalu memberikan perlindungan memadai terhadap seluruh partikel halus dalam asap kebakaran. Tingkat perlindungan bergantung pada jenis masker, kesesuaian pemakaian, dan karakteristik polutan. Karena itu, bantuan tersebut merupakan dukungan kebutuhan dasar dan bukan pengganti langkah perlindungan kesehatan lain ketika kualitas udara memburuk.
Dalam keterangannya, Hery juga menegaskan bahwa semangat “Bersama Jadi Bisa” menjadi landasan bagi TelkomGroup untuk terus berkolaborasi dan menghadirkan manfaat bagi masyarakat. Pendekatan ini ditempatkan sebagai bagian dari upaya perusahaan menjalankan program sosial yang merespons kebutuhan di lapangan.
Informasi yang disampaikan TelkomGroup belum merinci jumlah paket bantuan, jumlah penerima manfaat, maupun nilai bantuan yang disalurkan di masing-masing provinsi. Karena itu, cakupan program yang dapat dipastikan dari keterangan perusahaan adalah penyaluran bantuan kesehatan di Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Barat.
Risiko Karhutla Meningkat pada Periode Kemarau
Penyaluran bantuan tersebut berlangsung setelah periode yang secara klimatologis berpotensi meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan. Dalam siaran persnya, TelkomGroup merujuk informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang memprediksi puncak musim kemarau 2026 berlangsung pada Juli hingga September, dengan cakupan wilayah terluas pada Agustus.
Kondisi kering pada musim kemarau dapat meningkatkan kerentanan sejumlah wilayah terhadap karhutla. Ketika kebakaran terjadi, asap yang dihasilkan dapat menurunkan kualitas udara dan mengganggu aktivitas masyarakat, terutama kelompok yang rentan terhadap paparan polusi udara.
Dampak asap juga tidak terbatas pada area yang terbakar. Partikel dan gas hasil pembakaran dapat terbawa angin ke wilayah lain, bergantung pada kondisi cuaca dan karakteristik kebakaran. Situasi tersebut membuat pemantauan kualitas udara dan penyampaian informasi kesehatan menjadi bagian penting dalam upaya mengurangi risiko bagi masyarakat.
Namun, prediksi puncak musim kemarau tidak secara otomatis menunjukkan tingkat keparahan karhutla di setiap provinsi. Risiko kebakaran dan dampaknya dapat berbeda menurut kondisi cuaca setempat, tutupan lahan, sumber penyulutan, serta upaya pencegahan dan penanganan yang dilakukan.
Dalam konteks tersebut, bantuan dari perusahaan dan berbagai pemangku kepentingan dapat mendukung kebutuhan masyarakat selama masa tanggap bencana. Dukungan sosial tetap perlu berjalan berdampingan dengan langkah pencegahan kebakaran, pemadaman, pemantauan kualitas udara, dan penyediaan layanan kesehatan oleh pihak yang berwenang.
Sejalan dengan SDG 3 tentang Kesehatan
TelkomGroup menyatakan program Peduli Bencana Karhutla 2026 juga sejalan dengan kontribusi perusahaan terhadap Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan ketiga atau SDG 3, yaitu Kehidupan Sehat dan Sejahtera.
SDG 3 merupakan bagian dari agenda pembangunan berkelanjutan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang berfokus pada peningkatan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat.
Dalam pelaksanaan program TJSL, dukungan kesehatan bagi masyarakat terdampak bencana menjadi salah satu bentuk kontribusi sosial yang dapat dilakukan perusahaan.
Bagi TelkomGroup, penyaluran bantuan masker medis dan vitamin menjadi bentuk respons terhadap kebutuhan masyarakat di wilayah terdampak karhutla.
Perusahaan juga menempatkan kolaborasi sebagai bagian dari upaya memperkuat ketangguhan komunitas dalam menghadapi kondisi darurat.
Hery menyampaikan bahwa TelkomGroup akan terus mendorong inisiatif sosial yang memberikan manfaat bagi masyarakat melalui semangat “Bersama Jadi Bisa”.
Meski demikian, perusahaan belum memerinci agenda lanjutan, target penerima manfaat, ataupun alokasi bantuan tambahan untuk program karhutla setelah penyaluran pada September 2026.
Penyaluran bantuan di Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Barat memperlihatkan fokus program TelkomGroup pada dukungan kesehatan dasar selama kondisi darurat.
Efektivitas dukungan tersebut pada akhirnya berkaitan dengan kebutuhan penerima di lapangan serta koordinasi dengan pihak yang menangani dampak karhutla di masing-masing wilayah.
Baca Juga: Telkomsel Perkuat 296 BTS dan Spektrum 2600 MHz di MotoGP Mandalika 2026


