Selular.ID – ChatGPT semakin pintar dan mampu membantu berbagai pekerjaan, mulai dari menulis artikel, merangkum dokumen, membuat kode pemrograman, hingga mengolah gambar.
Namun, di balik kecanggihannya, ada sejumlah pekerjaan yang sebaiknya tidak diserahkan sepenuhnya kepada chatbot kecerdasan buatan (AI) buatan OpenAI tersebut.
Kemudahan menggunakan ChatGPT membuat banyak orang mulai mengandalkan teknologi AI untuk menyelesaikan berbagai persoalan sehari-hari.
Pengguna cukup memasukkan pertanyaan atau perintah, kemudian ChatGPT akan memberikan jawaban dalam hitungan detik.
Baca juga:
- Awas! Teks ChatGPT Kini Punya Watermark Tersembunyi, Bisa Ketahuan Buatan AI
- Mark Zuckerberg Tolak Rem AI, Berseberangan dengan Bos ChatGPT dan Claude
Meski demikian, jawaban AI tidak selalu akurat. Dalam kondisi tertentu, ChatGPT bahkan dapat menghasilkan informasi keliru yang disampaikan dengan bahasa meyakinkan.
Risikonya semakin besar ketika chatbot digunakan untuk menangani persoalan hukum, kesehatan, dokumen rahasia, hingga informasi pribadi.
Berikut lima pekerjaan yang sebaiknya tidak diserahkan sepenuhnya kepada ChatGPT.
1. Meminta Nasihat Hukum dan Menangani Perkara
ChatGPT dapat membantu menjelaskan istilah hukum, merangkum peraturan, atau memberikan gambaran umum mengenai prosedur hukum.
Namun, chatbot tersebut tidak seharusnya menggantikan pengacara ketika seseorang menghadapi persoalan hukum.
Pasalnya, AI berpotensi menghasilkan informasi yang terlihat benar, tetapi sebenarnya tidak memiliki dasar hukum yang valid.
Fenomena ini dikenal sebagai AI hallucination, yakni ketika model AI menghasilkan informasi yang keliru atau tidak didukung fakta.
Peneliti hukum dan data science Damien Charlotin bahkan telah mendokumentasikan lebih dari 2.000 perkara atau putusan bermasalah yang berkaitan dengan penggunaan AI dalam proses hukum.
Salah satu persoalan yang muncul adalah penggunaan kutipan putusan, preseden, atau argumen hukum yang ternyata tidak pernah ada.
Karena itu, informasi dari ChatGPT sebaiknya diverifikasi melalui sumber hukum resmi dan tenaga profesional sebelum digunakan dalam perkara nyata.
2. Menjadikan ChatGPT sebagai Psikolog atau Konselor
ChatGPT juga sering digunakan sebagai teman bercerita atau tempat mencurahkan masalah pribadi.
Kemampuannya memberikan respons dengan bahasa yang empatik membuat sebagian pengguna merasa nyaman berbicara dengan chatbot.
Namun, ChatGPT bukan pengganti psikolog, psikiater, atau terapis profesional.
Respons AI hanya didasarkan pada informasi yang disampaikan pengguna dan pola yang dipelajari model.
Dalam situasi tertentu, chatbot juga dapat terlalu menyetujui pandangan pengguna, termasuk ketika pandangan tersebut sebenarnya keliru.
Kondisi ini berisiko memperkuat keyakinan yang tidak sehat, terutama ketika seseorang sedang menghadapi masalah psikologis serius.
ChatGPT dapat membantu memberikan informasi umum mengenai kesehatan mental, tetapi penilaian klinis dan penanganan kondisi serius tetap memerlukan tenaga profesional.
3. Mengolah Dokumen Rahasia Perusahaan
Pekerjaan lain yang perlu diwaspadai adalah mengunggah dokumen rahasia perusahaan ke ChatGPT.
Dalam dunia kerja, AI memang dapat mempercepat proses merangkum kontrak, menganalisis laporan, atau menyusun dokumen.
Namun, tidak semua informasi perusahaan boleh dimasukkan ke layanan AI.
Dokumen internal dapat mengandung data pelanggan, strategi bisnis, laporan keuangan yang belum dipublikasikan, atau informasi yang dilindungi perjanjian kerahasiaan.
Mengunggah dokumen tersebut tanpa izin dapat menimbulkan risiko pelanggaran kebijakan perusahaan maupun perlindungan data.
Pengguna perlu memastikan bahwa dokumen yang diproses telah mendapatkan persetujuan dan sesuai dengan kebijakan keamanan informasi organisasi.
Apabila memungkinkan, informasi sensitif sebaiknya dihapus atau disamarkan terlebih dahulu.
4. Mendiagnosis Penyakit dan Menentukan Pengobatan
ChatGPT dapat menjelaskan gejala penyakit, istilah medis, atau informasi umum mengenai obat-obatan.
Namun, pengguna tidak seharusnya menjadikan jawaban chatbot sebagai satu-satunya dasar diagnosis maupun keputusan pengobatan.
Berbeda dengan dokter, ChatGPT tidak melakukan pemeriksaan fisik dan belum tentu memiliki informasi lengkap mengenai kondisi kesehatan seseorang.
Kesalahan dalam memahami jawaban AI dapat menimbulkan dampak serius.
Salah satu kasus yang pernah dilaporkan melibatkan pria berusia 60 tahun yang menggunakan sodium bromide sebagai pengganti garam meja setelah berkonsultasi dengan ChatGPT mengenai pengurangan klorida dalam makanan.
Pria tersebut akhirnya harus menjalani perawatan di rumah sakit akibat keracunan bromida.
Kasus ini menunjukkan bahaya ketika informasi AI diterapkan sebagai keputusan medis tanpa pemeriksaan dan verifikasi profesional.
Untuk persoalan kesehatan, terutama yang berkaitan dengan obat, diagnosis, dan perubahan pola pengobatan, konsultasi dengan dokter tetap menjadi langkah utama.
5. Memasukkan Password dan Data Pribadi Sensitif
Pengguna juga perlu berhati-hati ketika memasukkan informasi pribadi ke dalam percakapan ChatGPT.
Data seperti password, kode OTP, PIN, nomor rekening, nomor identitas kependudukan, dan informasi paspor tidak seharusnya dibagikan sembarangan.
Informasi tersebut berpotensi disalahgunakan apabila diakses pihak yang tidak berwenang.
Sebelumnya, Fast Company pernah melaporkan temuan sekitar 4.500 percakapan ChatGPT yang dapat ditemukan melalui mesin pencari Google.
Kasus tersebut berkaitan dengan percakapan yang dibagikan melalui tautan publik dan kemudian terindeks mesin pencari, bukan berarti seluruh percakapan pribadi pengguna otomatis dapat diakses publik.
Meski OpenAI telah mengambil langkah untuk mengatasi persoalan tersebut, pengguna tetap perlu memahami risiko membagikan informasi sensitif melalui layanan digital.
Untuk menjaga keamanan, hindari memasukkan password, PIN, kode OTP, maupun data identitas lengkap ke dalam chatbot.
ChatGPT Canggih, tetapi Tetap Punya Keterbatasan
Perkembangan teknologi AI membuat ChatGPT semakin berguna untuk meningkatkan produktivitas.
Mulai dari membantu pekerjaan administratif hingga menyusun ide kreatif, chatbot ini dapat mempercepat berbagai aktivitas.
Namun, kemampuan menghasilkan jawaban yang terdengar meyakinkan tidak selalu menjamin kebenaran informasi.
Terutama untuk keputusan yang memiliki konsekuensi hukum, finansial, kesehatan, dan keamanan data, pengguna tetap harus melakukan pemeriksaan secara mandiri.
ChatGPT paling tepat digunakan sebagai alat bantu untuk memahami informasi dan mempercepat pekerjaan, bukan sebagai pengganti penilaian profesional atau pengambil keputusan akhir.
Dengan memahami keterbatasan tersebut, pengguna dapat memanfaatkan kecanggihan AI tanpa mengabaikan keamanan dan akurasi informasi.


