Selular.ID – Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto tengah menggeber digitalisasi pendidikan sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM).
Namun, di balik ambisi menghadirkan teknologi ke ruang kelas, muncul pertanyaan penting: apakah digitalisasi benar-benar meningkatkan kualitas pendidikan atau sekadar memperbanyak perangkat di sekolah?
Pemerintah sebelumnya meluncurkan Program Digitalisasi Pembelajaran untuk sekitar 288 ribu satuan pendidikan, termasuk melalui penggunaan Interactive Flat Panel (IFP) dan platform Rumah Pendidikan.
Pemerintah menyebut langkah tersebut bertujuan memperluas akses terhadap materi pembelajaran digital dan memperkecil kesenjangan kualitas pendidikan antardaerah.
Baca juga:
- Telkomsel Bangun Ekosistem AI Pendidikan untuk Perkuat Numerasi Bali
- Bank Jakarta dan ITB Perkuat Ekosistem Pendidikan dan Riset
Masalahnya, layar pintar bukan jaminan lahirnya siswa pintar.
Presiden Prabowo sendiri dalam program Presiden Prabowo Menjawab menyinggung perlunya pembenahan menyeluruh sistem pendidikan, termasuk kualitas dan rekrutmen guru.
Pemerintah bahkan tengah mengkaji perbaikan sistem rekrutmen guru sebagai bagian dari pembenahan tersebut.
Jangan Terjebak Digitalisasi Seremonial
Tantangan terbesar pemerintah bukan lagi sekadar menyediakan perangkat digital.
Yang jauh lebih sulit adalah memastikan teknologi tersebut benar-benar digunakan untuk meningkatkan kemampuan membaca, berhitung, berpikir kritis, dan kreativitas siswa.
Jika sekolah mendapatkan IFP tetapi koneksi internet tidak stabil, konten digital terbatas, guru belum siap memanfaatkannya, atau pemeliharaan perangkat tidak jelas, digitalisasi berisiko berhenti sebagai proyek pengadaan.
Pemerintah sendiri mengakui bahwa digitalisasi harus berjalan bersama peningkatan kompetensi guru dan revitalisasi sekolah.
Pemerintah Harus Berani Ukur Hasil
Karena itu, ukuran keberhasilan digitalisasi pendidikan seharusnya tidak berhenti pada berapa banyak sekolah menerima perangkat.
Pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah nilai literasi dan numerasi meningkat? Apakah guru semakin produktif?
Apakah siswa di daerah terpencil memperoleh kualitas pembelajaran yang setara dengan siswa di kota besar?
Pemerintah menyebut digitalisasi pembelajaran diarahkan untuk mempercepat pemerataan mutu pendidikan.
Namun, target distribusi perangkat harus diikuti target hasil belajar yang terukur.
Jangan sampai Indonesia berhasil membangun sekolah yang semakin digital, tetapi masih menghadapi persoalan mendasar dalam kualitas guru dan kemampuan akademik siswa.
Digitalisasi pendidikan memang penting. Tetapi bagi pemerintah, tantangan sebenarnya bukan membuat sekolah terlihat modern, melainkan memastikan teknologi tersebut benar-benar membuat murid lebih pintar, guru lebih berkualitas, dan kesenjangan pendidikan semakin kecil.



