Selular.ID – Sebagai kota yang berusia ratusan tahun, tak pelak daya tarik Shanghai adalah perpaduan unik antara kemajuan kota metropolitan modern yang futuristik dan pesona budaya tradisional China yang tak hilang ditelan zaman.
Identitas tradisional China yang tetap terpelihara hingga kini, salah satunya tercermin dari pertunjukan megah, Shanghai Romance Park.
Beruntung, saat berkunjung ke kota ini pada Juni 2024, di sela-sela Mobile World Congress (MWC) yang saban tahun digelar di Shanghai, saya berkesempatan menyaksikan Shanghai Romance Park.
Digelar di kawasan World Expo Avenue, Distrik Pudong, kawasan strategis di tengah kota, Shanghai Romance Park terbilang sangat istimewa karena memadukan produksi teater kolosal lintas zaman dengan teknologi panggung mutakhir serta narasi budaya yang mendalam.
Pertunjukan spektakuler ini, menggabungkan berbagai atraksi yang bikin mata kita seolah tak berkedip. Mulai dari tarian tradisional, akrobat yang memukau, akting dramatis, hingga efek air berskala besar.
Berbagai atraksi tersebut dibalut dalam tata panggung berteknologi tinggi, sehingga menjadi kekuatan Shanghai Romance Park.
Menggunakan pencahayaan canggih, layar LED raksasa, dan elemen auditorium yang dapat bergerak, penonton pun merasa seolah-olah berada di dalam sebuah film yang hidup.
Selama sekitar dua jam pertunjukan, menonton Shanghai Romance Park pengunjung terlibat dalam perjalanan menyusuri Sejarah Shanghai.
Pertunjukan ini ibarat gulungan sejarah yang hidup, mengemas warisan lokal selama ribuan tahun ke dalam babak-babak yang menggugah emosi.

Ada beberapa bagian yang diangkat selama pertunjukan. Pertama Ancient Roots. Bagian ini menampilkan kembali kisah Lord Chunshen saat mengeruk Sungai Huangpu serta pesona lembut kota-kota air tradisional di wilayah Jiangnan.
Kedua, The Bund & Konsesi Asing: Menggambarkan transformasi dramatis menjadi kota pelabuhan yang ramai serta era glamor 1920-an hingga 1930-an.
Ketiga, Semangat Revolusioner Modern: Memotret semangat Era Kebangkitan, menyoroti Budaya Merah (Red Culture) Shanghai dan identitas modernnya.
Bertandang ke Shanghai Romance Park sekaligus menyaksikan pertunjukannya memungkinkan Anda berjalan menyusuri jalan-jalan tematik, menyaksikan flash mob, dan melihat pertunjukan interaktif dari pemeran karakter, di mana pengunjung sering kali mengenakan pakaian tradisional cheongsam (qipao).
Alhasil, pertunjukan untuk segala usa ini berhasil memadukan suasana karnaval yang penuh energi dan festival cahaya malam hari dengan edukasi sejarah, menjadikannya sebuah ikon budaya yang unik di kota berusia ratusan tahun itu.

Hikayat Srikandi Nusantara
Tak dapat dipungkiri, pertunjukan budaya kolosal seperti Shanghai Romance Park menarik perhatian masyarakat karena menyajikan harmoni visual berskala besar yang menggugah emosi dan rasa bangga terhadap budaya, yang menjadi identitas sebagai bangsa.
Beruntungnya, jika Shanghai punya Shanghai Romance Park, di Jakarta juga ada pertunjukan yang tak kalah spektakuler, yaitu Pagelaran Sabang Merauke.
Pada pekan lalu, Pagelaran Sabang Merauke – Hanya Indonesia yang Punya 2026 – akhirnya resmi dipentaskan di Indonesia Arena, GBK Senayan, Jakarta, Jumat – Minggu, (21 – 23 Agustus 2026).
Mengangkat tema terbaru Hikayat Srikandi Nusantara, pertunjukan ini menggambarkan perjuangan, ketangguhan, dan daya hidup tokoh-tokoh perempuan legendaris dalam cerita rakyat Indonesia, seperti Srikandi, Mahadewi, Dayang Sumbi, Mandeh Rubayah, dan Calon Arang
Pagelaran Sabang Merauke yang pada 2026 menginjak tahun kelima, membawa kekayaan seni dan budaya Indonesia ke dalam satu perjalanan panggung megah yang mempertemukan cerita, musik, tari, akting, busana, serta teknologi berskala imersif.
Sepanjang pertunjukan yang berlangsung selama tiga jam, Indonesia Arena terus berubah mengikuti perjalanan cerita.
Ratusan penari memenuhi panggung dalam koreografi berskala besar, lalu ruang yang sama berganti menjadi lebih intim ketika perhatian beralih kepada perjalanan para karakter.
Musik bergerak dari warna tradisional Nusantara menuju orkestra, paduan suara hingga lagu-lagu populer, sementara perubahan kostum, tata cahaya, visual, dan panggung membawa penonton berpindah dari satu bagian cerita ke bagian berikutnya.
Di balik pengalaman tersebut terdapat sekitar 1.700 pelaku seni, kreatif, dan tim produksi. Sebanyak 387 penari membawakan 104 koreografi karya 11 tim koreografer.
Didukung 15 penyanyi nasional dan satu grup band, 119 anggota paduan suara, 60 musisi orkestra, serta musisi yang memainkan 50 alat musik tradisional.
Lebih dari 1.500 kostum tradisional, kontemporer, dan etnik Nusantara yang melibatkan 16 desainer turut membangun perubahan visual sepanjang pertunjukan.
Berbeda dari rangkaian pertunjukan budaya yang umumnya berdiri sendiri, Hikayat Srikandi Nusantara dibangun sebagai satu perjalanan cerita.
Sosok Srikandi menjadi salah satu pintu masuk untuk membawa penonton pada kisah tentang keberanian, keteguhan, pengorbanan, cinta, serta berbagai nilai yang tetap dekat dengan kehidupan masyarakat saat ini.
Diperankan oleh Raisa Andriyana, Srikandi menyuguhkan gagasan yang tak lekang dimakan jaman sebagai kekuatan budaya wanita Indonesia.
Dalam memerankan Srikandi, Raisa keluar dari format panggung yang selama ini lekat dengannya sebagai penyanyi.
Ia tidak hanya membawakan lagu, tetapi menjalani karakter melalui akting, blocking, interaksi dengan pemain lain, hingga sejumlah elemen gerak dan tari.
Tak hanya Raisa, penyayi muda yang tengah naik daun, Yura Yunita juga kembali terlibat dalam pertunjukan kolosal ini.
Yura membawa tradisi kejutan yang telah menjadi bagian dari perjalanannya bersama Pagelaran Sabang Merauke.
Kali pertama Yura turun dari bagian atas Indonesia Arena menggunakan sling. Tahun berikutnya, ia tampil di atas naga yang menyemburkan asap.
Tahun ini, sebagai Mahadewi, skalanya kembali meningkat: Yura tampil di atas naga berukuran jauh lebih besar dengan tiga kepala yang menyemburkan asap menjadi salah satu momen visual yang menyita perhatian penonton.
Tak dapat dipungkiri, dengan segala kemegahannya, “Pagelaran Sabang Merauke 2026: Hikayat Srikandi Nusantara” wajib ditonton karena merupakan pertunjukan seni kolosal kelas dunia yang merayakan kekuatan perempuan sekaligus kemegahan budaya Indonesia dalam satu panggung
Jika Anda terlewat menonton di tahun ini, pastikan jauh-jauh hari simpan agenda berikutnya: Pagelaran Sabang Merauke 2027.
Baca Juga: BCA Sanggar Bakti untuk Perkuat Ekosistem Seni di Indonesia


