Selular.ID -

Jejak Panjang Huawei di Indonesia, Kerjasama dengan PT Telkom Jadi Cikal Bakal Pertumbuhan

BACA JUGA

Uday Rayana
Uday Rayana
Editor in Chief

Selular.ID – Banyak orang mengenal Huawei sebagai produsen smartphone terkemuka di dunia. Persepsi ini terbilang cukup kuat, tak hanya di Indonesia namun di banyak negara.

Membidik segmen menengah dan premium, smartphone yang dihasilkan oleh Huawei, baik dari sisi fitur maupun kualitas kamera, seringkali melebihi pesaing-pesaing terdekatnya, seperti Apple dan Samsung.

Namun di luar smartphone dan perangkat yang dapat dikenakan (wearable devices), Huawei adalah penyedia terdepan dalam infrastruktur dan perangkat teknologi informasi.

Sebagai perusahaan teknologi raksasa asal China, jejak Huawei membentang lebih dari empat dekade lalu.

Didirikan oleh Ren Zhengfei pada 1980, Huawei kini telah beroperasi di lebih dari 170 negara dan wilayah di seluruh dunia, dengan pendapatan sebesar CNY880.941 juta (sekitar US$126 miliar) pada 2025.

Sejalan dengan langkah ekspansi ke banyak negara, Huawei Technologies mulai masuk ke Indonesia pada awal 2000.

Tonton juga:
Video Rekomendasi Untuk Anda

Kala itu, layanan telepon tetap dari Telkom masih menjadi primadona telekomunikasi, sedangkan layanan telepon bergerak baru pada tahap awal perkembangannya.

Nama-nama vendor raksasa, seperti Siemens, Lucent Technologies, NEC, Alcatel dan Ericsson, sudah dikenal lebih awal di pasar.

Baca Juga: Huawei Capai 100 HUAWEI Experience Store di Indonesia

Namun Huawei tak gentar menghadapi para pesaingnya yang sudah kelotokan itu. Sebagai challenger, Huawei terus bergerilya agar mendapat kepercayaan pasar.

Dalam satu hingga tiga tahun pertama, Huawei agresif melakukan promosi untuk memperkenalkan perusahaan dan juga solusinya.

Hal ini bisa dilihat dari keterlibatan perusahaan dalam beberapa expo sampai mengundang berbagai  elemen, termasuk pemerintah, media, dan operator, untuk mengunjungi langsung kantor pusat Huawei di Shenzhen, China, serta melihat langsung aplikasi dan berbagai solusi yang telah diterapkan di beberapa negara.

Langkah tersebut terbukti efektif. Tak tanggung-tanggung, PT Telkom yang merupakan flagship carrier  di Indonesia, menjadi operator pertama yang menjalin kerjasama dengan Huawei Technologies.

Pada 2002, era di mana telepon tetap (fixed line) masih cukup berkembang di Indonesia, PT Telkom mulai mengaplikasikan C&C08-switch PSTN, perangkat paling popular buatan  Huawei.

Kerjasama dengan PT Telkom akhirnya membuka jalan bagi Huawei untuk bisa dikenal lebih luas di industri telekomunikasi nasional.

Terbukti, setahun setelah kerjasama dengan PT Telkom – sejalan dengan mulai berkembangnya industri selular – perusahaan membantu Excelcom (dikenal dengan XL Axiata dan sekarang melebur menjadi XLSmart), untuk mengembangkan jaringannya di luar area Jawa dengan teknologi GSM.

Di tahun yang sama, Huawei Technologies menjalin kerjasama dengan Bakrie Telecom untuk mengembangkan jaringan Esia berbasis CDMA2000 di area Jawa Barat.

Memasuki 2005, Huawei menandatangani kontrak kerjasama dengan Indosat untuk mengembangkan jaringan GSM di wilayah Indonesia Timur.

Pada 2006, mereka memenangkan kontrak 3G pertamanya bersama XL Axiata dan Indosat.

Tidak berhenti di situ, Huawei turut membantu proses migrasi teknologi CDMA 1900 MHz ke 800 MHz milik Telkom (Flexi) dan Indosat (StarOne) di Jakarta.

Tak pelak, sepanjang 2007, vendor yang berbasis di Shenzhen itu, meraih pangsa pasar terbesar di CDMA, yakni sekitar 70%, dengan mitra-mitranya meliputi Telkom (Flexi), Bakrie Telecom (Esia), Indosat (StarOne), dan Sampoerna Telecom Ceria.

Pada 2009, seiring transisi teknologi dari 2G ke 3G, Huawei lagi-lagi menerima kontrak baru. Kali ini datang dari operator terbesar di Tanah Air, Telkomsel. Proyek tersebut meliputi pengembangan jaringan 2G BSS dan 3G UTRAN.

Di tahun yang sama, vendor akses broadband terbesar di Indonesia ini berkolaborasi dengan Hutchison CP Telecom (3) untuk penyebaran akses 2G/3G secara nasional.

Kontrak kerjasama berikutnya adalah bersama Axis Telecom yang ditandatangani pada 2011. Di sini, Huawei menjadi mitra pengembangan jaringan 2G/3G Axis di beberapa wilayah, termasuk pengembangan teknologi HSPA.

Di tengah pasang surut industri telekomunikasi, Huawei pernah menjalin kerjasama dengan hampir seluruh operator telekomunikasi di Indonesia.

Dari sisi jaringan telekomunikasi, lebih dari 50% jaringan itu dibangun oleh Huawei dan melayani 95% populasi nasional.

Tak dapat dipungkiri, dari era 3G, 4G, hingga 5G, Huawei kini menjelma menjadi salah satu perusahaan penyedia solusi ICT terbesar di Tanah Air.

Saat ini Huawei punya 9 kantor regional dan 6 pusat logistik nasional. Lebih dari 2.300 karyawan bergabung dengan Huawei. Dari jumlah itu, lebih dari 90% adalah karyawan lokal.

Selain itu, mereka bekerjasama dengan sekitar 250 suplier atau pemasok lokal. Setiap tahunnya, nilai pengadaan Huawei di Indonesia menembus angka Rp 3 triliun.

Huawei juga bermitra dengan lebih dari 6.000 sub kontraktor lokal. Secara keseluruhan dengan seluruh kiprahnya itu, Huawei telah menciptakan banyak lapangan kerja di negara ini.

Di sisi lain, demi menciptakan industri telekomunikasi yang lebih sehat, efisien, dan berkelanjutan, langkah merger merupakan keniscayaan.

Alhasil, sejak awal 2025, operator selular Indonesia  tinggal tersisa tiga, yaitu Telkomsel, Indosat Ooredoo Hutchison (IOH), dan XLSmart.

Padahal pada 2007, jumlah operator di Indonesia masih terbilang surplus, mencapai 12 operator.

Kini di tengah transformasi digital yang berkembang luas sejalan dengan tren global, Huawei juga terus memperluas cakupan bisnisnya di Indonesia.

Di tengah berkembangnya 5G dan intelligent network, penyedia ekosistem jaringan telekomunikasi (Carrier Network), perangkat pintar dan IoT (Consumer Business Group) sejauh ini masih menjadi core business.

Namun bisnis lain, seperti digital enterprise, Cloud and AI, hingga Green Digital Power (GDP) yang fokus pada solusi energi hijau, ramah lingkungan, dan berkelanjutan, telah menjadi mesin pertumbuhan baru Huawei di Indonesia.

Baca Juga: Huawei Watch GT 7 Series Menuju Indonesia, Bawa Fitur Deteksi Diabetes dan Jantung Koroner

- Advertisement 1-

BERITA TERKAIT

BERITA PILIHAN

BERITA TERBARU