Selular.ID – MediaTek mencatatkan kinerja keuangan yang beragam pada kuartal II (Q2) 2026. Perusahaan semikonduktor asal Taiwan tersebut berhasil meningkatkan pendapatan, tetapi harus menghadapi penurunan laba bersih secara tahunan.
Berdasarkan laporan keuangan MediaTek, pendapatan konsolidasi pada Q2 2026 mencapai NT$152,18 miliar atau sekitar Rp85 triliun. Angka tersebut meningkat 2 persen dibandingkan kuartal sebelumnya dan tumbuh 1,2 persen secara tahunan (year-on-year/YoY).
Namun, pertumbuhan pendapatan tersebut tidak diikuti dengan peningkatan profitabilitas. Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemegang saham MediaTek turun 12,6 persen YoY menjadi sekitar NT$24,34 miliar.
Angka tersebut sebenarnya masih lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya yang berada di kisaran NT$22,43 miliar.
Penurunan juga terlihat pada laba operasi. MediaTek mencatat laba operasi sebesar NT$22,87 miliar, turun 22,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Jika dibandingkan dengan kuartal sebelumnya, angka tersebut relatif stabil dengan penurunan tipis sekitar 0,1 persen.
Sementara itu, margin kotor perusahaan berada di level 46,2 persen, turun 0,1 poin persentase secara kuartalan dan merosot 2,9 poin persentase dibandingkan Q2 2025.
MediaTek juga membukukan laba per saham (earnings per share/EPS) sebesar NT$15,28 pada periode tersebut.
Kinerja ini menunjukkan adanya tekanan terhadap profitabilitas MediaTek. Meskipun pendapatan masih tumbuh, penurunan margin kotor dan laba operasi secara tahunan mencerminkan meningkatnya tekanan biaya maupun persaingan di industri semikonduktor.
MediaTek saat ini tidak hanya mengandalkan bisnis chipset smartphone. Perusahaan juga terus memperluas bisnisnya ke berbagai sektor, termasuk konektivitas, perangkat pintar, serta komputasi dan kecerdasan buatan (AI).
Di tengah persaingan industri chip yang semakin ketat, kinerja keuangan Q2 2026 akan menjadi perhatian investor untuk melihat bagaimana MediaTek menjaga pertumbuhan pendapatan sekaligus mempertahankan tingkat keuntungan pada kuartal-kuartal berikutnya.
Untuk saat ini, perusahaan masih mampu mencatat pertumbuhan pendapatan secara tahunan. Namun, penurunan laba bersih sebesar 12,6 persen menjadi sinyal bahwa pertumbuhan bisnis belum sepenuhnya mampu mengimbangi tekanan terhadap profitabilitas perusahaan.
Baca juga: Counterpoint: Pengiriman Chipset MediaTek dan Qualcomm Menurun


