Selular.ID – Samsung dilaporkan tengah mengembangkan smartwatch baru yang tidak menggunakan sistem operasi Wear OS buatan Google.
Perangkat sandang (wearable device) ini mengusung nama kode internal Galaxy Aero dan dirancang untuk mengisi celah pasar di antara lini gelang kebugaran Galaxy Fit serta jam tangan pintar Galaxy Watch Fan Edition (FE).
Langkah strategis ini mengindikasikan efisiensi biaya dan optimasi daya tahan baterai sebagai fokus utama pabrikan teknologi asal Korea Selatan tersebut.
Kabar mengenai pengembangan Galaxy Aero pertama kali diungkap oleh laporan SamMobile pada awal Agustus 2026, setelah menemukan referensi bertuliskan “galaxy_rtos_watch” di dalam basis kode aplikasi Galaxy Wearable.
Temuan teknis tersebut mengindikasikan bahwa perangkat pintar ini akan berjalan di atas sistem operasi Real-Time Operating System (RTOS).
Berbeda dari Wear OS yang haus daya karena menjalankan aplikasi pihak ketiga secara intensif, RTOS menawarkan kinerja sistem yang lebih ringan dan hemat energi.
Langkah Samsung mengeksplorasi kembali sistem operasi non-Wear OS dipicu oleh kebutuhan pasar akan perangkat yang berfokus pada fungsi kebugaran dasar dengan ketahanan baterai ekstra panjang.
Sejak beralih dari Tizen ke Wear OS pada seri Galaxy Watch4, pengguna jam tangan pintar Samsung harus membiasakan diri dengan siklus pengisian daya harian.
Penggunaan sistem berbasis RTOS diproyeksikan mampu memperpanjang masa pakai baterai perangkat hingga satu minggu atau lebih dalam satu kali pengisian daya penuh, layaknya lini produk kompetitor dari Huawei maupun Amazfit.
Kehadiran Galaxy Aero juga menjadi strategi segmentasi harga Samsung untuk menjangkau kelompok konsumen yang lebih luas.
Dengan memangkas fitur-fitur kompleks khas Wear OS seperti toko aplikasi mandiri dan pemrosesan latar belakang yang berat, biaya produksi perangkat dapat ditekan secara signifikan.
Perangkat ini ditargetkan bagi pengguna yang membutuhkan fungsi pemantauan kesehatan mendasar, pelacakan olahraga, serta notifikasi pintar tanpa harus membayar harga setara lini premium Galaxy Watch.
Keputusan ini memperlihatkan diversifikasi portofolio perangkat sandang Samsung di tengah persaingan pasar global yang makin ketat.
Baca Juga:Samsung Galaxy Watch Ultra2 Bisa Pantau Kesehatan Sepanjang Hari
Strategi berdampingannya dua ekosistem sistem operasi Wear OS untuk segmen flagship dan RTOS untuk segmen terjangkau memungkinkan Samsung mengamankan pangsa pasar di berbagai kelas harga.
Sekaligus merespons diversifikasi kebutuhan konsumen pasar teknologi wearable modern.


