Selular.ID – Kaspersky menyelenggarakan Academic Partners Summit 2026 di Jakarta, Rabu (19/8/2026).
Acara ini mempertemukan para pembuat kebijakan, praktisi keamanan siber, dan perwakilan akademisi di Indonesia.
Tujuannya untuk mengkaji hubungan yang terus berkembang antara kecerdasan buatan (AI), keamanan siber, dan masyarakat.
Mengusung tema “AI, Security, and Society: What’s Next for Our Digital Future?”, pertemuan ini membahas bagaimana keamanan berbasis AI bersinggungan dengan kebutuhan masyarakat, kebijakan publik, dan realitas regional di seluruh kawasan Asia-Pasifik.
Perhatian khusus diberikan pada ekonomi digital yang sedang berkembang pesat seperti Indonesia.
Di mana transformasi digital menciptakan peluang inovasi yang signifikan sekaligus menghadirkan risiko keamanan siber serta tantangan tata kelola yang baru.
Pertemuan ini bertujuan mendorong dialog mengenai bagaimana berbagai sektor dan komunitas dapat memanfaatkan AI secara bertanggung jawab.
Selain itu, juga memperkuat ketahanan siber, dan berkontribusi pada pengembangan ekosistem digital tepercaya yang mendukung pembangunan digital inklusif.
Membangun Sumber Daya Manusia Keamanan Siber untuk Era AI
Meskipun AI semakin cakap dalam hal serangan maupun pertahanan, penilaian manusia, pemikiran kritis, dan pengambilan keputusan yang etis tetaplah krusial.
Baca Juga: Kaspersky Ungkap Risiko “Blind Trust” Saat AI Bergerak Lebih Cepat
Bahkan mungkin akan menjadi sumber daya yang paling langka dan berharga dalam bidang keamanan siber.
Pembahasan juga menyoroti masalah kekurangan tenaga ahli keamanan siber global yang terus berlanjut serta tantangan khusus yang dihadapi kawasan Asia-Pasifik.
Paparan tersebut mencatat bahwa kawasan ini menyumbang 60% dari kesenjangan talenta siber dunia.
Sementara 95% tim keamanan melaporkan masih adanya kekurangan tenaga ahli.
Di Asia Tenggara, 65% pekerjaan keamanan siber mensyaratkan pengalaman kerja tiga tahun atau kurang.
Hal ini menegaskan pentingnya menciptakan jalur akses terbuka bagi talenta yang baru memulai karier.
Bagi Indonesia dan kawasan ASEAN secara lebih luas, paparan tersebut mengidentifikasi tantangan utama di luar minat mahasiswa, yaitu kurangnya instruktur yang kompeten dan terbatasnya ketersediaan materi pelatihan dalam bahasa lokal.
Oleh karena itu, kolaborasi antara akademisi, industri, dan pembuat kebijakan untuk mencetak generasi profesional keamanan siber masa depan akan menjadi semakin penting.
“Ketika AI menjadi semakin cakap dalam menyerang maupun mempertahankan lingkungan digital, nilai penilaian manusia menjadi jauh lebih penting,” ujar Evgeniya Russkikh, Head of Cybersecurity Education & Academic Affairs, Kaspersky.
Dia menambahkan mempersiapkan generasi profesional keamanan siber berikutnya membutuhkan lebih dari sekadar keterampilan teknis.
“Hal ini menuntut pemikiran kritis, pengambilan keputusan yang etis, dan kemampuan untuk memahami dampak teknologi yang lebih luas terhadap masyarakat,” ungkap Russkikh.
Kolaborasi kuat antara akademisi, industri, dan sektor publik akan sangat penting untuk membangun sumber daya manusia yang paling dibutuhkan demi masa depan digital yang tangguh,” lanjutnya.
Baca Juga: Kaspersky: Serangan Siber Kini Gunakan AI-Native, Pertahanan Harus AI-Powered



