Selular.ID -

CEO Micron Sanjay Mehrotra: AI Telah Mengubah Industri Memori Secara Drastis

BACA JUGA

Uday Rayana
Uday Rayana
Editor in Chief

Selular.ID – CEO Micron, Sanjay Mehrotra, mengatakan bahwa kecerdasan buatan (AI) telah mengubah bisnis memori secara mendasar—sebuah industri yang selama ini rentan terhadap siklus naik-turun yang tajam (boom-and-bust).

“Saat ini, tidak ada AI tanpa memori. Sistem AI membutuhkan lebih banyak memori. Mereka membutuhkan memori dengan kinerja lebih tinggi. Mereka membutuhkan memori yang lebih hemat daya. Jadi, nilai dari memori—persamaan itu telah berubah total”, ujar Mehrotra.

Pernyataan ini disampaikan di tengah pembangunan fasilitas fabrikasi semikonduktor berskala besar di dekat kantor pusat Micron di Boise, Idaho, yang merupakan bagian dari rencana investasi perusahaan senilai $250 miliar untuk manufaktur dan penelitian di AS.

Fasilitas di Boise ini nantinya akan mencakup dua pabrik (fab), yang masing-masing memiliki luas setara dengan sekitar 10 lapangan sepak bola; menurut Mehrotra, satu pabrik saja akan menggunakan besi tulangan yang panjangnya cukup untuk melingkari Bumi dua kali.

Seperti dilansir dari laman CNBC, pabrik pertama di Boise diperkirakan akan mulai memproduksi wafer pada pertengahan 2027.

Baca Juga: Apple Kelimpungan Karena Krisis Chip Memori, Tapi Punya Cara Cerdik Jaga Harga iPhone

Tonton juga:
Video Rekomendasi Untuk Anda

Besarnya investasi tersebut mencerminkan pandangan Mehrotra mengenai betapa drastisnya AI telah mengubah prospek bisnis memori.

Secara historis, bisnis memori bersifat siklikal; periode permintaan tinggi mendorong produsen untuk menambah kapasitas, namun pada akhirnya kelebihan pasokan menyebabkan penurunan harga.

Akan tetapi, Mehrotra — seorang insinyur yang telah berkecimpung di industri chip selama lebih dari 40 tahun dan merupakan salah satu pendiri SanDisk — menyatakan bahwa AI menciptakan sumber permintaan yang lebih berkelanjutan.

Peluang ini melampaui sekadar pusat data, katanya. Mehrotra memperkirakan bahwa kendaraan otonom, robot, dan perangkat konsumen berbasis AI akan membutuhkan kapasitas memori yang semakin besar di tahun-tahun mendatang.

“Memori saat ini sangatlah penting. Itulah sebabnya saya menyebutnya sebagai infrastruktur strategis di era AI”, ujarnya.

Menurut Mehrotra, permintaan tersebut juga mengubah cara pelanggan menilai memori. Alih-alih sekadar meminta penawaran dan membeli dari pemasok dengan harga terendah, memori kini harus dirancang secara bersamaan dengan prosesor dan sistem tempat komponen tersebut akan beroperasi.

Ia menambahkan, bahwa hal ini menjadikan memori sebagai elemen krusial bagi kinerja sistem secara keseluruhan, bukan sekadar komponen tambahan biasa.

“Kami bekerja sama erat dengan mereka sejak tahap awal siklus pengembangan produk mereka. Pelanggan kami menyadari nilai dari teknologi memori, karena memori inilah yang memungkinkan mereka merancang produk-produk yang menjadi penggerak pertumbuhan bagi bisnis mereka,” ujarnya.

Ia mengatakan bahwa Micron masih belum mampu memproduksi cukup banyak untuk memenuhi permintaan tersebut.

“Seluruh pelanggan kami di berbagai segmen pasar akhir akan menyerap semua produk yang kami hasilkan,” ujar Mehrotra, seraya menambahkan bahwa pelanggan pusat data saat ini menginginkan pasokan sekitar 50% lebih banyak daripada jumlah yang dapat disanggupi oleh Micron.

Micron kini memiliki gambaran yang lebih jelas mengenai permintaan tersebut berkat adanya perjanjian jangka panjang dengan pelanggan — sebuah perubahan penting bagi bisnis yang secara historis rentan terhadap fluktuasi harga di pasar spot.

Dalam sesi pembahasan kinerja keuangan perusahaan pada akhir Juni lalu, Micron mengumumkan telah menandatangani perjanjian strategis berdurasi lima tahun dengan 16 pelanggan.

Mehrotra menyebutkan bahwa sejak saat itu, perusahaan telah menjalin kesepakatan tambahan.

“Mereka telah berkomitmen untuk mengambil pasokan tersebut. Jadi, hal ini memberikan kepastian permintaan bagi kami”, pungkas Mehotra.

Baca Juga: Samsung, Apple dan Huawei yang Bisa Bersaing Jadi Raja Handphone di Tengah Krisis Memori

- Advertisement 1-

BERITA TERKAIT

BERITA PILIHAN

BERITA TERBARU