Selular.ID -

Samsung Solve for Tomorrow 2026 Latih 2.600 Peserta Design Thinking

BACA JUGA

Selular.ID – Samsung Electronics Indonesia membekali sekitar 2.600 mahasiswa dan siswa melalui Workshop Design Thinking dalam program Samsung Solve for Tomorrow (SFT) 2026.

Pelatihan yang berlangsung sebagai bagian dari tahapan kompetisi inovasi tersebut dirancang untuk membantu peserta membangun solusi berbasis Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) serta Artificial Intelligence (AI) yang berangkat dari kebutuhan nyata masyarakat, bukan sekadar menghasilkan ide.

Program Samsung Solve for Tomorrow 2026 tahun ini mencatat lebih dari 4.000 pendaftar yang berasal dari 27 provinsi di Indonesia.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 2.600 peserta terpilih mengikuti rangkaian workshop sebagai bekal menyusun concept paper sebelum memasuki tahap kompetisi berikutnya.

Peserta berasal dari berbagai sekolah menengah atas dan perguruan tinggi, di antaranya SMA Negeri 1 Yogyakarta, SMA Kolese Gonzaga, SMA Negeri 10 Malang, Universitas Indonesia, Universitas Brawijaya, hingga Binus University.

 

Tonton juga:
Video Rekomendasi Untuk Anda

Head of Corporate Marketing Samsung Electronics Indonesia, Anggi Paramita, mengatakan tantangan inovasi di era AI tidak lagi sebatas menghasilkan ide baru, melainkan memastikan gagasan tersebut mampu berkembang menjadi solusi yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

“Indonesia memiliki generasi muda dengan potensi yang luar biasa. Tantangan saat ini bukan lagi menghasilkan lebih banyak ide, melainkan memastikan ide tersebut berkembang menjadi solusi yang memberikan dampak nyata. Melalui Samsung Solve for Tomorrow, kami ingin mendorong generasi muda Indonesia untuk mengubah potensi tersebut menjadi inovasi berbasis STEM dan AI yang mampu menjawab kebutuhan nyata masyarakat,” ujar Anggi Paramita.

 

Workshop Design Thinking dalam Samsung Solve for Tomorrow 2026 terdiri atas empat sesi utama, yakni Introduction & Empathize, Define & Ideate, Prototyping, serta Testing.

Masing-masing sesi berlangsung selama sekitar 2,5 jam dan dirancang untuk membangun pola pikir peserta dalam memahami akar persoalan sebelum merancang solusi berbasis teknologi.

 

Materi tersebut menjadi landasan bagi peserta untuk menyusun concept paper dalam tiga kategori utama, yaitu Sustainability & Environment, Education, serta Sport & Technology.

Proposal yang disusun kemudian akan diseleksi untuk menentukan tim yang berhak melanjutkan ke babak semifinal.

Data Samsung menunjukkan tema Sustainability & Environment menjadi pilihan terbesar peserta dengan porsi mencapai 47,83 persen.

Menurut perusahaan, tingginya minat terhadap isu keberlanjutan mencerminkan perhatian generasi muda terhadap tantangan lingkungan sekaligus sejalan dengan arah pembangunan nasional yang menempatkan pembangunan berkelanjutan sebagai salah satu prioritas.

 

Workshop tersebut menghadirkan Kusuma Sukma, Partner Coach UD Impact Korea sekaligus AI Innovation Coach Learnly Society, sebagai fasilitator.

Ia menilai salah satu kesalahan yang kerap terjadi ketika mengembangkan inovasi adalah terlalu cepat berfokus pada solusi tanpa memahami masalah secara mendalam.

Menurut Kusuma, Design Thinking membantu peserta mengembangkan inovasi yang benar-benar berangkat dari kebutuhan pengguna.

Pendekatan tersebut dimulai dengan membangun empati terhadap pihak yang terdampak, merumuskan problem statement secara tepat, mengembangkan berbagai alternatif solusi, hingga melakukan validasi sederhana terhadap ide yang dihasilkan.

 

Ia menjelaskan bahwa kemampuan seperti empati, kreativitas, dan problem solving justru semakin penting di tengah perkembangan AI.

Teknologi AI dapat mempercepat proses analisis data maupun eksplorasi ide, tetapi tetap memerlukan pemahaman manusia terhadap konteks sosial, kebutuhan pengguna, dan dampak yang ingin diwujudkan.

Karena itu, penguasaan teknologi perlu berjalan beriringan dengan pendekatan yang berpusat pada manusia.

Tahapan Design Thinking tersebut menjadi bekal sebelum peserta memasuki fase kompetisi berikutnya. Setelah concept paper disempurnakan, Samsung akan memilih 40 tim terbaik untuk melaju ke babak semifinal.

Pada tahap ini, peserta akan memperoleh pelatihan AI Amplification serta sesi mentoring bersama para ahli dari Samsung dan mitra program untuk mengembangkan prototipe yang lebih matang.

 

Pengalaman serupa juga disampaikan oleh Nathanael dari Tim KYGB, peraih juara ketiga Samsung Solve for Tomorrow 2025.

Menurutnya, pendekatan Design Thinking mengubah cara tim melihat proses inovasi karena menempatkan pemahaman terhadap kebutuhan masyarakat sebagai fondasi utama sebelum membangun solusi berbasis teknologi.

“Design Thinking sangat penting karena mengharuskan kami menggunakan empati untuk melihat isu-isu sosial. Metode ini memastikan kami mengidentifikasi akar masalah dari sudut pandang mereka yang terdampak,” ujar Nathanael.

 

Samsung Solve for Tomorrow merupakan bagian dari program tanggung jawab sosial perusahaan (Corporate Social Responsibility/CSR) Samsung yang berfokus pada pengembangan talenta muda di bidang teknologi dan inovasi.

Melalui kombinasi pendekatan Design Thinking, STEM, dan AI, perusahaan menargetkan lahirnya inovasi yang lebih inklusif, relevan, serta mampu memberikan manfaat bagi masyarakat.

Tahapan kompetisi akan berlanjut hingga proses mentoring dan pengembangan prototipe sebelum penentuan tim terbaik pada Samsung Solve for Tomorrow 2026.

Baca Juga: LG Terapkan Ekosistem Rumah Pintar AI di Indonesia

- Advertisement 1-

BERITA TERKAIT

BERITA PILIHAN

BERITA TERBARU