Selular.ID – Ericsson kembali menempati posisi puncak dalam laporan “Frost Radar™: 5G Network Infrastructure, 2026” yang diterbitkan oleh Frost & Sullivan.
Pengakuan ini menandai enam tahun berturut-turut Ericsson dinilai sebagai pemimpin global dalam aspek pertumbuhan dan inovasi pada industri infrastruktur jaringan 5G, di tengah meningkatnya kebutuhan operator terhadap jaringan yang lebih efisien, scalable, dan terintegrasi dengan kecerdasan buatan.
Dalam laporan tersebut, Ericsson menempati posisi terdepan pada dua indikator utama, yakni Growth Index dan Innovation Index.
Penilaian dilakukan terhadap 20 perusahaan teratas dari lebih dari 100 pemain industri telekomunikasi global yang dianalisis oleh Frost & Sullivan.
Posisi ini memperkuat peran Ericsson sebagai salah satu vendor utama penyedia infrastruktur 5G dunia, bersaing di pasar yang kini semakin berfokus pada otomatisasi jaringan, efisiensi energi, dan kesiapan implementasi AI-native network.
Penilaian Frost Radar™ menyoroti kelengkapan portofolio Ericsson yang mencakup radio access network (RAN), transport network, core network, edge computing, hingga private network.
Ericsson juga dinilai unggul dalam pengembangan open RAN dan virtual RAN, dua pendekatan arsitektur jaringan yang semakin banyak diadopsi operator untuk menghadirkan fleksibilitas dan efisiensi operasional.
Menurut Frost & Sullivan, kemampuan Ericsson dalam menskalakan inovasi secara global menjadi salah satu faktor pembeda.
Perusahaan ini dinilai berhasil mentransformasikan investasi riset dan pengembangan menjadi solusi komersial yang dapat diterapkan operator dalam skala besar.
Laporan tersebut mencatat bahwa Ericsson mengalokasikan hampir 21 persen pendapatannya pada 2025 untuk riset dan pengembangan.
Investasi ini diarahkan pada penguatan berbagai lini teknologi, termasuk pengembangan network API, AI-RAN, Massive MIMO generasi baru, dan modernisasi 5G Core berbasis cloud native.
Selain itu, Ericsson juga mendapat perhatian khusus atas komitmennya terhadap efisiensi energi. Perusahaan menyebut telah mencapai target pengurangan konsumsi energi sebesar 40 persen pada lokasi base station radio baru pada 2025 dibanding baseline 2021.
Target ini kini ditingkatkan menjadi 50 persen pada 2027.
Peningkatan efisiensi tersebut dilakukan melalui pembaruan perangkat keras radio yang lebih hemat energi, fitur perangkat lunak berbasis AI untuk optimasi penggunaan daya, serta penyempurnaan pada solusi dual-mode 5G Core dan Cloud Native Infrastructure yang memanfaatkan prosesor generasi terbaru.
Presiden Direktur Ericsson Indonesia, Nora Wahby, mengatakan penguatan ekosistem 5G menjadi faktor penting bagi percepatan transformasi digital nasional.
“Seiring percepatan transformasi digital di Indonesia, 5G akan menjadi infrastruktur krusial yang menentukan daya saing ekonomi nasional. Karena itu, penting bagi Indonesia untuk mempercepat pengembangan ekosistem 5G melalui kebijakan yang mendukung, ketersediaan spektrum yang memadai, serta kolaborasi lintas sektor yang kuat,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa Ericsson berkomitmen menjadi mitra jangka panjang dalam mendukung visi transformasi digital nasional menuju Indonesia Emas 2045.
Di tingkat global, Per Narvinger menegaskan bahwa integrasi AI kini diterapkan di seluruh portofolio jaringan Ericsson, mulai dari radio hingga network management dan sistem OSS/BSS.
Menurutnya, implementasi AI tersebut telah mulai menunjukkan dampak nyata dalam menghadirkan jaringan yang lebih terbuka, otomatis, dan hemat energi, sekaligus mendukung kebutuhan operator dalam mengembangkan layanan digital baru.

Analis Principal Frost & Sullivan, Troy Morley, menyebut kekuatan utama Ericsson terletak pada kombinasi kepemimpinan inovasi dan eksekusi pertumbuhan bisnis yang konsisten.
Ia menilai portofolio 5G yang komprehensif, kemajuan pada open dan virtual RAN, serta fokus terhadap efisiensi energi menempatkan Ericsson pada posisi strategis ketika pasar jaringan seluler memasuki fase evolusi berikutnya.
Bagi Indonesia, capaian ini memberi konteks penting di tengah dorongan percepatan implementasi 5G nasional yang masih menghadapi tantangan alokasi spektrum, monetisasi layanan, dan kesiapan ekosistem perangkat.
Dengan pengalaman implementasi global dan fokus pada teknologi hemat energi berbasis AI, Ericsson berupaya memperkuat kolaborasinya dengan operator lokal untuk mendukung pembangunan jaringan yang lebih adaptif terhadap kebutuhan industri digital di masa depan.
Baca Juga: Ericsson Soroti Percepatan 5G untuk Daya Saing Digital Indonesia




