Jumat, 24 Mei 2024
Selular.ID -

Limit Pinjol Capai Rp2 Miliar, Begini Aturan Batas Atas P2P Lending

BACA JUGA

Selular.ID – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bakal menaikkan batas atas pendanaan penyelenggara financial technology peer-to peer (fintech P2P) lending ke sektor produktif.

Ketentuan tersebut akan masuk dalam POJK terkait Penyelenggaraan Layanan Pendanaan Bersama Berbasis Teknologi Informasi (LPBBTI) yang saat ini tengah disusun oleh OJK.

Baca juga: Benahi Pinjol CS, OJK Luncurkan Roadmap Fintech P2P Lending 2023-2028

Ini merupakan amanat Undang Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK).

“Saat ini OJK sedang menyusun RPOJK LPBBTI yang merupakan amanat dari Undang-Undang tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan,” kata Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya (PVML) OJK Agusman.

Agusman menambahkan salah satu substansi pengaturan yang mengalami perubahan adalah batas atas pendanaan produktif yang saat ini dapat dilakukan sampai dengan Rp2 miliar.

Kenaikan batas atas tersebut sedang dilakukan kajian, agar dimungkinkan untuk LPBBTI yang memiliki TWP90 maksimal 5 persen dalam kurun waktu enam bulan terakhir; dan tidak sedang dalam pengenaan sanksi pembatasan kegiatan usaha dari OJK.

TWP90 adalah ukuran tingkat wanprestasi atau kelalaian penyelesaian kewajiban yang tertera dalam perjanjian pendanaan di atas 90 hari sejak tanggal jatuh tempo.

Pada lain sisi, OJK masih mengkaji opsi pencabutan moratorium pemberian izin usaha penyelenggara LPBBTI khusus sektor produktif dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), antara lain dengan mempertimbangkan sejumlah hal, yakni kepentingan publik, yaitu berupa kebutuhan masyarakat terhadap layanan LPBBTI.

Pertimbangan itu, juga termasuk potensi pertumbuhan penyelenggara LPBBTI eksisting, agar dapat tumbuh secara optimal, dan atau persaingan usaha yang sehat dan tidak melawan hukum.

Untuk fintech P2P lending, pertumbuhan outstanding pembiayaan pada Februari 2024 terus melanjutkan peningkatan menjadi 21,98 persen secara year on year (yoy), dengan nominal sebesar Rp61,10 triliun.

Tingkat risiko kredit macet secara agregat (TWP90) dalam kondisi terjaga di posisi 2,95 persen.

Baca juga: AFPI Pastikan Pembiayaan Fintech Lending Untuk Layanan Pendidikan Resmi

- Advertisement 1-

BERITA TERKAIT

BERITA PILIHAN

BERITA TERBARU